Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Membangkitkan Pasar Tradisional

Aditya Novrian • Rabu, 20 Mei 2026 | 20:52 WIB
Kolom Pak Mbois Wahyu Hidayat
Kolom Pak Mbois Wahyu Hidayat

Wahyu Hidayat

Proklamasi 17 Agustus 1945 tidak akan pernah terwujud tanpa didahului oleh peristiwa 20 Mei 1908. Berdirinya Budi Utomo adalah peristiwa yang menandai munculnya kesadaran bersama dan perasaan senasib sepenanggungan sebagai bangsa terjajah.

Ini pula yang 20 tahun kemudian melahirkan Sumpah Pemuda sebagai milestone lanjutan dari kemerdekaan bangsa ini. Bahwa untuk meraih kemerdekaan, tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Daerah per daerah. Suku per suku. Golongan per golongan. Melainkan, semua harus bersatu padu. Dan untuk itu harus ada pengorbanan. Termasuk, mengorbankan ego.

Hari ini, 118 tahun sudah usia peristiwa yang menandai kebangkitan nasional tersebut. Hampir seusia dengan Kota Malang yang tahun ini memasuki 112 tahun. Dan, salah satu tujuan dari kemerdekaan yang dihasilkannya adalah memajukan kesejahteraan umum. Yakni, menciptakan keadilan sosial dan ekonomi. Meratakan pembangunan agar seluruh rakyat bisa merasakan kehidupan yang layak, makmur, dan sejahtera.

Inilah yang ingin saya garisbawahi. Dalam konteks Kota Malang, memajukan kesejahteraan umum bisa ditempuh dengan membangkitkan kembali pasar-pasar tradisional. Ini adalah denyut paling dasar dari ekonomi rakyat.

Pasar tradisional bukan sekadar tempat jual beli, melainkan ruang hidup ekonomi masyarakat kecil, tempat perputaran uang harian terjadi secara nyata. Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut pasar tradisional sebagai fondasi dasar perekonomian dan cerminan ekonomi kerakyatan di Indonesia.

Karena itu, kondisi pasar tradisional sering menjadi alat ukur kesehatan ekonomi suatu daerah. Ketika pasar ramai, daya beli masyarakat biasanya meningkat. Sebaliknya, ketika pasar sepi, perlambatan ekonomi segera terasa.

Di Indonesia, konsumsi rumah tangga adalah tulang punggung ekonomi nasional. Data BPS menyebut, kontribusinya secara konsisten mencapai sekitar 54 persen dari total produk domestik bruto (PDB) Indonesia.

Data terbaru, pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan I 2026 mencapai 5,61 persen year on year (yoy). Sedangkan sepanjang 2025 secara kumulatif mencapai 5,11 persen. Kontribusi terbesarnya berasal dari konsumsi rumah tangga.

Belanja masyarakat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar dari sisi pengeluaran. Melampaui investasi, ekspor, maupun belanja pemerintah. Karena itu, ekonom peraih Nobel Joseph Stiglitz menilai, ekonomi lokal yang sehat harus bertumpu pada aktivitas masyarakat bawah dan distribusi ekonomi yang hidup.

Yang menarik, meskipun retail modern dan e-commerce sudah berkembang begitu pesat, pasar tradisional tetap mendominasi volume transaksi belanja masyarakat. Khususnya untuk kebutuhan pokok harian. Lembaga riset pasar seperti Nielsen mencatat, sekitar 58 persen masyarakat Indonesia tetap memilih pasar tradisional untuk membeli bahan makanan segar karena harganya yang lebih murah dan adanya fleksibilitas tawar menawar.

Karena itulah, Pemerintah Kota Malang memandang strategis keberadaan pasar tradisional. Tanpa menghilangkan ciri khas tradisionalitasnya, yaitu harga lebih murah dan fleksibilitas tawar menawar, pasar-pasar itu harus dibuat nyaman. Untuk pedagang maupun pembelinya.

Sebab, pasar tradisional yang dibiarkan padat dan kumuh lama kelamaan akan ditinggalkan oleh pembelinya. Lalu, secara perlahan terancam mati. Ini sudah terjadi di banyak pasar tradisional di Indonesia. Sebut saja beberapa di antaranya: Pasar Blok G Tanah Abang dan Pasar Lontar Kebon Melati, keduanya di Jakarta Pusat. Lalu, Pasar Pulogadung di Jakarta Timur dan Pasar Kemiri Muka di Depok.

Kita tentu tidak ingin pasar-pasar tradisional di Kota Malang mengalami nasib seperti itu. Salah satu yang sudah Pemerintah Kota Malang lakukan adalah revitalisasi Pasar Induk Gadang. Alhamdulillah, setelah melalui perjalanan panjang dan cukup melelahkan, penataan kawasan itu bisa kita lakukan.

Fisik bangunan beserta prasarananya kita perbarui agar lebih layak dan nyaman untuk pedagang dan pengunjung. Lapak, drainase, parkir, keamanan, dan kebersihan kita rapikan. Seiring dengan itu, akses jalan di depannya segera kita tata. Lengkap dengan trotoar, tanaman, dan pagar pembatas untuk mencegah terjadinya transaksi di tepi jalan yang bisa menghambat arus lalu lintas.

Kita berharap, revitalisasi itu bisa menimbulkan multiplier effect ekonomi bagi masyarakat luas. Pasarnya nyaman sehingga omzet pedagang bisa meningkat. Jalan di depannya sebagai akses lalu lintas bersama juga lega sehingga arus distribusi barang lebih lancar. Ini semua merupakan upaya agar pasar tradisional tidak kalah bersaing dengan ritel modern dan e-commerce.

Di tengah kondisi ekonomi yang menghadapi tantangan global, efisiensi anggaran, dan ancaman perlambatan daya beli, pembenahan pasar tradisional menjadi salah satu langkah strategis yang realistis. Efeknya diharapkan lebih cepat terasa karena pasar tradisional berhubungan langsung dengan kebutuhan harian warga.

Lebih dari itu, pasar tradisional juga mempunyai efek berganda. Ketika aktivitas pasar meningkat, petani, pedagang kecil, jasa transportasi, buruh angkut, hingga UMKM makanan ikut bergerak. Pengalaman menunjukkan bahwa ekonomi lokal yang bertumpu pada aktivitas rakyat lebih tahan terhadap guncangan dibanding ekonomi yang terlalu bergantung pada sektor besar semata.

Karena itu, kebangkitan ekonomi daerah sesungguhnya dapat dimulai dari kebangkitan pasar tradisional. Jika pasar hidup, maka perputaran uang hidup. Jika perputaran uang hidup, maka masyarakat memiliki daya beli.

Dan ketika daya beli meningkat, ekonomi daerah akan bangkit secara lebih kuat dan merata. Di Kota Malang, menjaga dan membenahi pasar tradisional bukan sekadar urusan tata kota, melainkan investasi penting bagi masa depan perekonomian rakyat.

Kembali pada semangat kebangkitan nasional 20 Mei, itu semua tidak mungkin terwujud tanpa kesadaran bersama untuk bangkit. Tanpa kesediaan bersama untuk berkorban demi tujuan yang lebih baik.

Saya yakin, bagi Arek Malang yang punya Salam Satu Jiwa, revitalisasi untuk pasar-pasar tradisional lainnya juga bisa dilakukan. Pasar Besar, Pasar Blimbing, atau pasar-pasar yang lain. Rutam nuwus untuk seluruh elemen yang telah mendukung selama ini. Kita pasti bisa.

Dr Ir Wahyu Hidayat MM

Arek Mbareng, Wali Kota Malang 2025-2030

 

 

 

Editor : Aditya Novrian
#pak mbois #Wali Kota Malang #wahyu hidayat #opini