Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sambat

A. Nugroho • Minggu, 12 Juli 2026 | 11:10 WIB
Adi Nugroho, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang
Adi Nugroho, Jurnalis Jawa Pos Radar Malang

Cuaca tidak baik-baik saja. Efeknya badan juga tidak baik-baik saja. Bediding, katanya. Dinginnya menembus tulang. Kadang yang biasanya malam pakai kipas angin, kini harus selimut-an agar tidak catatuken, gemetaran. Masalahnya, ada yang menganggap sepele. Mereka mengira, kondisi demikian itu biasa saja. Santai. Paling nanti demam. Flu. Pilek. Lalu bisa sembuh sendiri. Membaik sendiri. Bukan hanya orang lain, kita juga sering menyepelekannya. Akibatnya kondisi drop. Makin drop.

Padahal situasi seperti ini harusnya diimbangi dengan banyak hal. Gizi dan vitamin yang cukup, olahraga, juga istirahat teratur. Mari kita bahas satu-satu.

Yang pertama, soal gizi dan vitamin yang cukup. Sejak lama, orang tahu bahwa 'men sana in corpore sano'. Rakyat paham bahwa kesehatan bisa diperoleh jika asupan yang diterima tubuh sesuai dengan kebutuhan. Orang menyederhanakannya dengan slogan, 4 sehat, 5 sempurna.

Protein jadi instrumen penting. Telur, ikan, daging, tempe, dan lain sebagainya. Begitu pula dengan berbagai jenis buah dan susu sebagai pelengkap.

Tapi tahu bukan berarti mau. Dan mau juga belum tentu mampu. Itu sudah jadi rahasia umum. Akibatnya ya makan nasi lagi, nasi lagi. Kalau bisa tiga centong. Murah meriah. Lauknya ikan asin dan sambel, cukup. Ada rasanya. 

Apalagi di tengah situasi ekonomi kian pelik. Nilai tukar rupiah terus menurun. Harga bahan-bahan pokok makin tak terjangkau. Jangankan beli daging. Bisa makan telur sehari satu saja, banyak yang sudah merasa istimewa. Mau makan tempe? Kedelainya impor. Tentu saja di penjual pecel, irisan tempenya jadi kecil-kecil. Harga tetap. Tapi yang biasanya selebar dua jari, kini hanya setengahnya. Begitu pun peyeknya. Kacang atau kedelainya jarang-jarang.

Masalah yang katanya bisa diatasi dengan gelontoran dana triliunan untuk MBG. Makan Bergizi Gratis. Tapi untuk siapa? Anak-anaknya makan. Tapi itu hanya makan siang. Bagaimana dengan malamnya? Makan ayah, ibu, dan anggota keluarga yang lainnya?

Lalu yang kedua, olahraga. Ini dia solusi paling mudah. Teorinya. Tinggal jalan kaki, jogging, atau lari-lari sudah bisa disebut olahraga. Kardio. Kalau punya sepeda, tinggal dikayuh. Digowes. Pasti akan keluar keringat dan membuat badan lebih bugar. Tren yang muncul belakangan dan jadi pemandangan lumrah di jalanan. Banyak masyarakat yang punya hobi olahraga lari atau bersepeda saat malam tiba. Mereka biasanya punya grup dan janjian kumpul di satu tempat lalu berangkat bersama. Ada orang tua, muda-mudi, kadang pula anak-anak.

Namun karena dilakukan malam usai bekerja, bagi yang usia dewasa, endingnya nongkrong. Lha ini yang jadi ada kesan 'kurang sehatnya'. Kalau hanya nongkrong mungkin tak masalah. Biasanya nongkrong sambil makan berat, minum es manis, nge-vape, ada yang merokok, bahkan pulang lewat tengah malam. 

Bukannya segar, badan malah tambah loyo. Karena nyambung dengan yang ketiga, yakni istirahat yang teratur, maka waktu tidur pun berkurang.

Bayangkan usai seharian bekerja atau beraktivitas, lalu berolahraga, orang paling hanya punya waktu 3-4 jam untuk tidur. Mungkin itu tidak akan berdampak dalam jangka pendek. Tapi jika tiap hari dan berkelanjutan, kondisi jantung dan metabolisme tubuh pasti terganggu.

Apalagi di musim bola seperti ini. Saat Argentina terus-terusan menang dramatis dan Lionel Messi tak mau kalah dengan bintang-bintang baru seperti Kylian Mbappe atau Erling Haaland. Tidur cukup rasanya hanya di awang-awang. Mimpi.

Pertandingan bola banyak yang dimulai tengah malam bahkan dini hari. Waktu yang seharusnya menjadi waktu terbaik tubuh untuk beristirahat.

Walau bagaimana pun, di tengah hiruk-pikuk masalah di negara ini, Piala Dunia 2026 masih menjadi seni pertunjukan yang menghibur. Rasanya sulit mengharapkan orang berpaling, terutama mereka para penggemar sepak bola, untuk melewatkan momen empat tahunan tersebut. 

Orang bisa terdistraksi dari rasa sakit yang mereka rasakan. Setidaknya rakyat bakal sedikit bersenang-senang. Melepaskan stres sejenak. Lupa masalahnya. Daripada merenung di warung sambil buka You Tube dan menonton pemerintah sambat soal kesulitan-kesulitan mereka. Mengatasi gejolak keuangan, efisiensi anggaran, penegakan hukum, korupsi di sana-sini, blackout, oligarki, antek-antek asing.

Lha terus rakyat disuruh sambat sama siapa?

(Penulis bisa disapa di  adinugroho.ohorgunida@gmail.com)

Editor : A. Nugroho
#sehat #Gizi #Piala dunia #Sambat #Pemerintah