Melampaui Imajinasi Alumni

Kholid Amrullah • Dipublikasikan Sabtu, 31 Oktober 2026 | 12:51 WIB
Mohammad Mahpur | Ahli Psikologi Sosial dan Pengembangan Masyarakat, dan Dosen di Magister Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Mohammad Mahpur | Ahli Psikologi Sosial dan Pengembangan Masyarakat, dan Dosen di Magister Psikologi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Oleh Mohammad Mahpur

Alumni adalah identitas perebutan yang selalu bernilai untuk mengukur monumen sumberdaya manusia atas daya cipta sebuah lembaga pendidikan. Temu alumni adalah massa meremajakan “identitas terbayang” ala Indonesianis Benedict Anderson, yang diikat melalui status privilese dan memori masa lalu. Alumni menjadi identitas kolektif yang merefresh memori, cerita masa lalu, dan sebagian menjadi kontestasi profesional. Mereka menyatu menjadi kebanggaan kolektif yang melekat kedalam eksistensi diri.

Ketika temu alumni akbar mengambil waktu perjumpaan, semarak identitas kolektif menonjolkan perayaan perjumpaan yang pasti mereka isi dengan memori berkisah. Ruang masa lalu membayangi model relasi dan dramaturgi eksistensi setiap orang seolah menolak tua. Kisah masa lalu menjadi andrenalin euforia yang membongkar sekat-sekat relasi untuk berjarak dengan status kekinian. Temu alumni dengan demikian merupakan recovery dan jeda sejenak melepaskan identitas kekinian.

Antara perburuan tracer dan tarik-ulur kontestasi

Kampus memandang alumni tidak sekedar memori. Mereka membutuhkan alumni melampaui imajinasi memori berkisah dan situasi rindu atas jejak intimasi pertemanan dan pengalaman yang berkesan tentang masa lalu di zaman sekolah. Istilah alumni masih bertumbuh sebagai memori masa lalu dan perjumpaan kembali setelah meninggalkan bangku sekolah-kuliah. Sementara bagi kampus dan sekolah, alumni dipandang sebagai kepanjangan tangan legitimasi dampak. Sekolah dan kampus berburu alumni tidak lain adalah bagian dari politik keberlangsungan, bukan melankolisme dan romantisme. Untuk itu, tracer study (riset pelacakan kerja) adalah kepentingan mendasar bagi sekolah dan kampus.

Tracer study menjadi proyek yang tak kunjung usai. Selagi akreditasi masih menjadi standar PT, pelacakan alumni selalu menjadi kontestasi. Sebuah project mercusuar dan obsesi persebaran lulusan yang sebisa mungkin menguasai semua lini atas nama kesuksesan. Pemetakan yang baik dan data yang tersaji menjadikan perguruan tinggi sebagai penguasa profesional dan achieving by design. Ketika kesenjangan jarak antara waktu lulus dan mendapatkan pekerjaan semakin kecil, maka PT mengklaim sebagai pilot sukses dalam mencetak dunia kerja, kinerjanya sangat baik.

Data hasil pelacakan lulusan menentukan kredibilitas dan reputasi perguruan tinggi. Maka reproduksi penilaian setelah lulus selalu menjadi kesadaran administratif untuk menemukan kegagahan produk perguruan tinggi. Dalam kacamata Human Capital Theory, pendidikan merupakan investasi sumberdaya manusia (Becker, G. S, 1993. Dalam buku Human capital, a theoritical and empirical analysis with special reference to education. The University of Chicago Press: Chicago). Ketika tracer study disusun sebagai the return of the impact of human capital (pengembalian dampak modal manusianya), maka kacamata pembangunan sebuah bangsa akan diukur dalam skema ketenagakerjaan dalam industrialisasi dan organisasi kerja. Yang dibangun kemudian adalah produktifitas ekonomi dengan ukuran ekonomi dan soft-skillnya untuk menemukan reputasi PT dalam “mencetak” sarjananya.

Tracer study menjadi ruang simbolik positifisme pembangunan dan institusionalisasi kerja (buruh dan kuasa profesional). Tracer study menjadi instrumen produksi citra. Semakin lebar dan ke atas, maka PT akan bangga karena lulusannya menjangkau pasar kerja dan kekuatan profesional di berbagai pusat bisnis dan kekuasaan. Secara politik, tracer study menjadi alat pemetaan sekaligus perburuan kerajaan lulusan. Secara personal dan jejaring, paraalumni akan membangun konsolidasi berjejaring untuk menciptakan jalur kuasa- pasar kerja. Di sini tracer study tidak netral, tetapi bergeser dari relasi pendidikan menjadi relasi pasar dan memaksa lulusannya menjadi brand ambassador bagi akumulasi reputasi institusi.

Alumni bukan tentang siapa yang berhasil

Bagaimana ketika kita mengubah mitos tracer study (pelacakan alumni) yang bebas dari kekerasan simbolik bahwa kesuksesan lulusan pun tetap ramah ukur melampaui pihak-pihak yang lebih kuat (dunia industri). Selama ini, tracer study lebih fokus pada peta kesuksesan dan siapa yang tertinggal, dalam arti tidak mendapatkan pekerjaan. Ia menjadi simpul kuasa. Tracer telah terperangkap dalam imajinasi posisi-biner industri. Bahkan menjadi kontrak kuasa dalam merekam herarkhis sukses. Instrumentalisasi demikian berpotensi meminggirkan kerangka pendidikan yang sebenarnya menjadi wadah reflektif ilmu pengetahuan dan kesadaran kemanusiaan.

Untuk itu tracer study sebenarnya adalah potret kehidupan kesadaran. Lebih dari sebatas mendefinisikan, menilai, dan mendisiplikan dunia kerja lulusan. Kita perlu mendefinisikan ulang bahwa reputasi industrialisasi dan pasar kerja telah memastikan lulusan terserap, tetapi kita juga perlu membuka ruang adanya pengalaman hidup selalu tidak berbanding lurus dengan studinya. Apalagi penghasilan setiap individu yang menguasai ketrampilan tertentu dapat dimaknai sebagai ruang aktualisasi dan pengalaman hidup yang bervariasi.  

Oleh karena itu, momentum pertemuan reuni dan alumni perguruan tinggi perlu ditempatkan sebagai momentum refleksi. Pertemuan alumni menjadi tempat merebut kembali definisi kesuksesan agar lebih komprehensif dari semata logika komodifikasi. Pelacakan alumni pun menjadi ruang bagi refleksi logika kapabilitas tentang pekerjaan. Tidak semata tentang status, berapa gaji atau simbolisasi finansial, tetapi sebagai ruang bertanya, “kebebasan apa yang dapat memperjelas makna pendidikan secara luas dan untuk siapa lembaga pendidikan itu ada” (Kromydas, 2017. Rethinking higher education and its relationship with social inequalities: past knowledge, present state and future potential. Humanities and Social Sciences Communications, 3: 1). Temu alumni dengan demikian adalah ruang refleksi, berkumpul, tentang rindu, atau restorasi masa lalu yang berdampak pada kejujuran, dan keutuhan. Semua boleh memaknai dalam ruang bebas kebijaksanaan kemanusiaannya.

Alumni menjadi tempat jejaring bagi hidupnya refleksi kehadiran dan lebih substansial dapat menjadi ruang refleksi tetang sumberday manusia inklusif. Dalam arti yang lebih bermakna, alumni menjadi koneksi yang bernilai untuk memantik kesadaran kemanusiaan dalam pembangunan dan menghidupkan perspektif pengalaman hidup interpersonal inklusif. Pun demikian dengan perburuan alumni (seperti instrumentalisasi tracer study) perlu melihat dampak kehidupan ini menjadi satu perspektif politik kebijaksanaan. Mindset ini memberi ruang terbuka bagi perayaan temu alumni untuk menyadari ulang bahwa kesuksesan tidak terkooptasi oleh oposisi-biner kedalam mitos status sukses, bekerja atau belum bekerja.

Selamat berjumpa dan bahagia pada Temu Alumni Akbar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Editor : Kholid Amrullah
UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tracer study temu alumni