AROMA oli langsung tercium saat mendatangi bengkel milik Jiono di Desa Langlang, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang.
Di tempat yang diberi nama Jiono Bingkil itulah dia banyak menghabiskan waktu untuk mengutakatik mesin.
Salah satu ciri khasnya yakni mengawinkan mesin sepeda motor dengan mesin mobil.
Ya, sejak terjun di dunia modifikasi mesin pada 1992, Jiono memang suka bereksperimen.
Semua mesin kendaraan bisa dikerjakannya.
Mulai dari mesin sepeda motor, mobil, dan kapal.
Hingga saat ini dirinya mulai penasaran dengan penggabungan mesin pesawat dengan mesin sepeda motor.
Pertemuan Jiono dengan dunia modifikasi mesin itu terjadi saat usianya menginjak 12 tahun.
Tren permainan yang sedang digandrungi anakanak zaman itu adalah balap motor.
Awalnya, Jiono hanya bisa melihat teman temannya ikut balapan saja.
Hingga suatu saat dia nekat meminta sepeda motor kepada Mbah Jani, kakeknya.
Kakeknya menyanggupi permintaan tersebut.
Dia menjual salah satu sapinya dan menukarkannya dengan motor Yamaha RX 100.
Kepalang senang, Jiono segera membawa motor barunya itu ke bengkel.
Untuk disetel pengapiannya agar meningkatkan performa mesin saat digunakan untuk balapan.
Pada tahun itu, Jiono sudah menghabiskan Rp 200 ribu untuk sekali proses menyetel mesin di bengkel.
Pada balapan pertama, Jiono kalah.
Sudah kehilangan uang saat setel mesin di bengkel, dia juga harus membayar taruhan balapan sekitar Rp 250 ribu.
Penasaran, dia memutuskan untuk bersiap pada balapan kedua.
Penyetelan mesin sepeda motor yang kedua kalinya dilakukan semakin serius.
Kakek Jiono saat itu sangat mensupport hobi Jiono.
Bahkan bersedia membayar Rp 600 ribu untuk persiapan balapan cucunya yang kedua kali.
Saat itu, RX 100 yang masih baru sudah dibongkar mesin dan konstruksinya.
Waktu pemanasan untuk balapan kedua, Jiono menang.
Itu membuat Jiono semakin tertantang.
Sialnya, saat balapan sesungguhnya digelar, dia mengalami kekalahan.
Dari kegagalan itu Jiono memutuskan untuk menyetel mesin motornya sendiri.
Dia mulai membongkar dan mencoba memahami konstruksi mesin sepeda motornya tiap pulang sekolah.
Rutinitas hariannya saat itu adalah sekolah, membantu kakeknya mencari rumput untuk pakan sapi, dan mengutakatik mesin motornya.
Semua konstruksi mesin mulai dia pelajari saat berusia belasan tahun.
Hingga pada balapan ketiga, Jiono berhasil juara setelah menyetel mesin balapnya sendiri.
Jiono berhasil menyetel mesinnya tanpa bantuan orang dewasa maupun tutorial di YouTube.
Sebab pada 19921993, penggunaan internet belum masif.
Buku buku panduan juga belum mudah diakses.
Kemenangan itu mengantarkan Jiono mendapat banyak permintaan untuk menyetel mesin sepeda motor teman temannya.
Sejak itu dia mulai banyak mengeksplor berbagai jenis mesin sepeda motor.
Saat itu, rumus yang ditemukan Jiono khusus untuk lintasan pendek (sekitar 401 meter).
Khusus untuk lintasan tersebut, tenaga gear di belakang harus diperbesar hingga 36 power.
Kemudian tenaga gear di bagian depan diperkecil sampai 14 power.
Dengan rumus itu, gas sepeda motor saat ditarik akan semakin enteng.
Kecepatan sepeda motor juga meningkat pesat.
Kesibukan Jiono dalam dunia balapan dan bongkar pasang mesin membuat dia tak melanjutkan sekolah.
Jelang kelulusannya di kelas tiga SMP, Jiono memilih berhenti.
Kesehariannya pun diisi dengan mencari rumput dan bergelut dengan mesin.
Sebab, sedikit banyak dia mulai mendapat uang dari hasilnya menyetel mesinmesin motor milik teman dan koleganya.
Jiono juga memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bekerja di bengkel sebagai mekanik.
Dari hasil itu, sedikit demi sedikit dia bisa mengumpulkan uang untuk membeli mobil pada 1997.
Sejak saat itu pula, Jiono mulai mengeksplorasi mesin-mesin mobil.
Dari situ, bapak enam anak itu mulai memahami konstruksi mesin pada kendaraan pada dasarnya sama.
Mulai dari karburator, kelistrikan, hingga pengapiannya.
Perbedaannya hanya terletak pada power yang berbeda.
Setelah memahami mesin mobil, muncullah ide untuk menggabungkan mesin mobil dan mesin sepeda motor.
Tujuannya untuk mendapatkan suara dan power yang lebih tinggi.
Pada 2004, Jiono berhasil menggabungkan mesin mobil Mazda B600 dengan mesin Binter Merzy KZ200.
Penggabungan itu menjadikan suara mesin terdengar enak dan tarikan mesin lebih halus.
Sejak saat itu Jiono semakin sering menggabungkan mesin mobil dengan sepeda motor.
Suatu saat pada 2014, dia diajak temannya untuk membuat mesin sendiri.
Mulai dari mengecor box mesin hingga merangkai kelistrikannya.
Selama seminggu penuh, Jiono akhirnya berhasil menghidupkan mesin sepeda motor buatannya sendiri.
Dia juga bisa mengganti bahan bakar mesin mobilnya dari bensin ke gas LPG.
Sebelumnya, sejak bulan Juni 2024, dia dipercaya menjadi Kepala Maintenance PT Wika Beton MC 3 di Sidoarjo.
Itu merupakan salah satu anak perusahaan BUMN PT Wijaya Karya (Persero) Tbk.
Untuk pulang pergi ke tempat kerjanya, Jiono harus merogoh kocek hingga Rp 300 ribu untuk membeli bahan bakar.
Setelah mobil Nissan Terrano keluaran tahun 2001 miliknya diganti dengan bahan bakar LPG, Jiono lebih hemat.
Dia hanya perlu mengeluarkan Rp 70 ribu saja untuk bahan bakar.
Dengan adanya pekerjaan itu, bengkelnya kini hanya dipakai untuk tempat bereksperimen.
Dia hanya melayani permintaan pelanggan yang menurutnya cukup menantang. (*/by)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana