Sanusi Berharap Surat Turun Bareng Form B1 KWK
MALANG RAYA - Pengumuman rekomendasi calon kepala daerah (cakada) PDIP gelombang kedua dilaksanakan kemarin (22/8).
Dari tiga daerah di Malang Raya, hanya kandidat untuk Kota Batu yang rekomendasinya sudah diterbitkan.
Sedangkan untuk Kabupaten dan Kota Malang masih alot.
Pada pengumuman gelombang kedua kemarin, PDIP memberikan rekomendasi kepada enam calon gubernur dan 163 calon bupati atau wali kota.
Sementara pada gelombang pertama 14 Agustus lalu, PDIP mengumumkan nama 13 calon gubernur dan 292 calon bupati/wali kota.
Jadwal pengumuman gelombang ketiga belum ditetapkan, kemungkinan dilakukan pada 24 Agustus mendatang.
Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PDIP Kota Batu Punjul Santoso membenarkan bahwa DPP PDIP telah memberikan rekomendasi kepada Kris Dayanti.
Politikus yang juga diva musik Indonesia itu dipastikan berpasangan dengan Kresna Dewanata Phrosakh (ketua DPD Partai Nasdem Kota Batu).
Punjul menilai keputusan rekomendasi itu sudah sesuai harapan.
”Sejauh ini Partai Nasdem yang paling serius berkomu nikasi dengan PDIP. Tidak hanya dengan DPC PDIP Kota Batu saja, tapi juga dengan DPD PDIP Jawa Timur dan DPP PDIP,” terangnya.
Baca Juga: Semuanya Kandidat Memenuhi Syarat, Tiga Kader PDIP Diusulkan Jadi Calon Ketua DPRD Kabupaten Malang
Meski demikian, Punjul tetap membuka kemung kinan berkoalisi dengan partai lain.
Utamanya mereka yang belum mengambil keputusan untuk mengusung pasangan calon. Salah satunya PKS.
Namun, jika melihat dinamika politik yang sedang berkembang di Kota Batu, peluang koalisi PDIP tampaknya hanya dengan Nasdem.
Partai Golkar, PAN, dan Demokrat sudah mantap berkoalisi dan mengusung calonnya sendiri.
Sementara PKB, Gerindra, dan PKS sedang berusaha membangun koalisi, meski PKS belum mengakui secara terangterangan.
Saat dikonfirmasi, Ketua DPD PKS Kota Batu Adi Sayoga mengaku belum mendapat keputusan dari DPP.
Termasuk, apakah akan memberikan rekomendasi kepada kader internal yang sudah diusulkan atau tidak.
Karena itu, segala kemung kinan masih bisa terjadi.
Namun, pria yang akrab di sapa Yoyok itu tak mem bantah bahwa PKS cenderung akan bergabung dengan PKB dan Gerindra.
Bahkan, PKS siap untuk mendukung saja tanpa mengajukan kader partai.
Hal itu diperkuat statemen Ketua DPC Gerindra Heli Suyanto yang mengatakan jumlah partai koalisinya akan segera bertambah.
Saat ditanya partai mana yang akan bergabung, Heli menjawab dengan istilah ”sesuai dugaan”.
Artinya, dia memberikan isyarat bahwa PKS akan merapat ke PKB dan Gerindra.
Pertimbangkan Situasi
Sementara itu, Ketua DPC PDIP Kota Malang I Made Riandiana Kartika menilai ada pertimbangan tertentu terkait belum turunnya rekomendasi untuk Kota Malang.
Salah satunya, situasi politik yang masih sangat dinamis.
Kemungkinan DPP masih menunggu poros kekuatan lain men deklarasikan secara resmi paslon yang diusung.
Saat ini ada tiga poros kuat yang bisa terbentuk di Kota Malang.
Yang pertama PKB dengan calonnya Moch.
Anton. Kemudian Partai Gerindra yang mengusung Wahyu Hidayat.
Yang terakhir adalah poros PDIP yang be lum menentukan kandidat Poros Abah Anton dan Wahyu Hidayat telah mengklaim didukung beberapa partai.
Tapi, hingga kemarin belum ada yang mendekla rasikan diri bersama partai pendukungnya.
Mereka juga belum mendapat kepastian, siapa yang akan mendam pingi menjadi calon wakil wali kota.
”Situasi di Kota Malang sangat dinamis. Belum ada satu partai pun yang mendeklarasikan secara resmi calon wali kotanya,” kata Made.
Baca Juga: PDIP Kota Malang Berpotensi Usung Figur Eksternal Partai
Made tidak menutup kemungkinan surat rekomendasi akan dikeluarkan DPP PDIP saat masa pendaftaran. Yaitu mulai 27 Agustus sampai 29 Agustus.
”Bisa jadi. Kami mengikuti instruksi dari DPP,” terang pria yang menjabat Ketua DPRD Kota Malang itu.
Di bagian lain, Ketua Desk Pilkada PKB Kota Malang Abdurrochman mengatakan sudah ada pertemuan antara PDIP dan PKB.
Menurutnya, PDI P mencoba melamar sebagai calon wakil wali kota.
Sebab PKB telah memiliki calon wali kota.
”Kalau dari kami, tentu calon N1 sudah pasti Abah Anton,” tegasnya.
Tunggu Gelombang Ketiga
Di Kabupaten Malang, pertahanan H M. Sanusi yang juga merupakan kader PDIP terus menggalang kekuatan.
Meski belum mendapat rekomendasi dari DPP PDIP, dia sudah bisa berkontestasi.
Dukungan dari PKB dan Gerindra sudah memenuhi syarat ambang batas pencalonan berdasar UU Pilkada maupun putusan MK terbaru.
Saat dikonfirmasi, Sanusi mengaku mendengar kabar bahwa rekomendasi akan turun pada Sabtu, 24 Agustus 2024.
Dia berharap rekomendasi itu turun bersamaan dengan calon wakil bupati Lathifah Shohib.
”Semoga tanggal 24 Agustus itu sudah keluar dengan formulir B1 KWK untuk mendaftar ke KPU,” ujarnya saat ditemui.
B1 KWK adalah surat pernyataan dukungan resmi dari parpol untuk pasangan calon. Surat tersebut berisi daftar nama pendukung sekaligus identitasnya serta pernyataan dukungan terhadap paslon.
Sanusi mengaku terus menjalin komunikasi politik dengan partai lain.
”Yang tidak punya kursi seperti PPP juga kami ajak,” ucap Bupati Malang periode 2021 2024 itu.
Baca Juga: Penolakan Duet Salaf Meluas di Kantor DPC PDIP Kabupaten Malang
Komunikasi juga dilakukan dengan Partai Nasdem dan Golkar.
Namun, dua partai tersebut belum memberikan jawaban resmi.
Apakah akan bergabung atau mengusung paslon sendiri.
Jika mengacu putusan MK nomor 60/PUU XXII/2024 yang mensyaratkan 6,5 persen perolehan suara sah untuk Kabupaten Malang,
dua parpol tersebut mampu mengusung paslon sendiri.
Partai Golkar dengan 191.
772 suara atau 13 persen.
Sementara Partai Nasdem memiliki 131.429 suara atau 9 persen.
Ketua DPD Nasdem Kabupaten Malang Choirul Anam mengaku masih menunggu keputusan DPP.
Pihaknya juga sudah menjalin komunikasi politik dengan PKB dan Gerindra yang telah memberikan rekom kepada petahana.
Termasuk dengan PDIP.
”Sampai saat ini, komunikasi kami intens dengan incumbent,” kata dia.
Begitu pula dengan PKS yang memiliki dua kursi dengan 80.021 suara atau sekitar 5 persen.
”Kami me lakukan komunikasi politik dengan beberapa parpol. Namun yang intens dengan petahana,” pungkas Ketua DPD PKS Kabupaten Malang Irfan Yuli Prasetyo. (adk/dre/yun/fat)