MALANG KOTA – Partisipasi pemilih pada Pilkada 2024 menunjukkan kecenderungan yang berbeda di tiga wilayah Malang Raya Kota Malang mengalami penurunan persentase paling signifikan jika dibandingkan dengan pilkada sebelumnya.
Kabupaten Malang juga mengalami penurunan, sementara Kota Batu justru diperkirakan mengalami kenakan (lihat grafis).
Angka pasti partisipasi pemilih pilkada memang masih menunggu hasil proses rekapitulasi yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU).
Namun, dari data penghitungan suara di TPS yang sudah diunggah ke website KPU sebenarnya bisa dihitung angka partisipasi pemilih.
Yakni membandingkan jumlah pemilih yang menyalurkan hak suara dengan jumlah pemilih dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Misalnya di Kota Malang.
Berdasar scrapping data form C1 TPS, jumlah pemilih yang menyalurkan hak suara sebanyak 366.990 orang.
Padahal jumlah DPT Pilkada 2024 mencapai 660.774 orang.
Dengan demikian, tingkat partisipasi pemilih hanya 55 persen.
Jauh di bawah angka partisipasi pada Pilkada 2018 yang mencapai 80 persen.
Penurunan tingkat partisipasi pemilih itu tampak pada pemungutan suara di sejumlah wilayah.
Seperti di TPS 20, Jalan Nusa Indah, Kecamatan Lowokwaru.
Yang merupakan tempat calon wali kota Wahyu Hidayat mencoblos.
Dengan jumlah pemilih 585 orang, ternyata yang menyalurkan hak suara hanya 359 orang atau 66 persen.
Ketua KPU Kota Malang M. Toyib menerangkan, sebelumnya angka partisipasi pemilih ditarget bisa mencapai 83 persen.
Target itu lebih tinggi dibanding partisipasi pemilih pada Pilkada 2018 yang tercatat 80 persen, bahkan Pemilu Nasional 2024 yang menembus 82 persen.
Kenyataannya, tingkat partisipasi malah penurun.
Hal itu juga diakui oleh KPU. ”Ternyata animo pemilih jauh menurun jika dibandingkan dengan Pemilu 2024 pada Februari lalu. Kami prediksi sekitar 60 persen,” ujarnya.
Menurut Toyib, minimal partisipasi pemilih itu seharusnya di angka 70 persen.
Dengan fakta di kisaran 60 persen, hal itu jelas tidak menggembirakan bagi iklim politik di Kota Malang.
Toyib menduga penurunan partisipasi pemilih kemungkinan disebabkan kejenuhan.
Beberapa waktu lalu, masyarakat sudah merasakan dinamika luar biasa pada Pemilu Presiden dan Pemilu Legislatif.
Dampaknya, partisipasi pada pilkada di tahun yang sama akhirnya menurun.
”Kemungkinan karena jenuh atau pun proses kampanye tidak maksimal,” papar Toyib.
Pj Wali Kota Malang Iwan Kurniawan menjelaskan, sebenarnya upaya mendorong tingkat partisipasi pemilih sudah dilakukan.
Beberapa hari sebelum coblosan, pihaknya mengumpulkan perangkat pemerintahan hingga level ketua RW.
”Karena Pak RW paling kenal dengan warganya. Harapan kami, mereka bisa memberikan sosialisasi dan pendekatan bagi warga yang terlihat kurang antusias,” terang Iwan.
Terkait dengan terjadinya penurunan tingkat partisipasi pemilih, Iwan mengatakan berada di luar wewenang Pemkot Malang.
Meskipun demikian, pemerintah perlu melakukan evaluasi untuk perbaikan ke depan.
Belum Dilakukan Kajian
Partisipasi pemilih di Kabupaten Malang juga terindikasi rendah.
Setidaknya itu terlihat dari hasil quick count yang dilaksanakan Semart Politica dengan sampel 250 TPS di Kabupaten Malang pada Rabu (27/11) pukul 20.16.
Dengan data masuk 99,6 persen, angka partisipasi pemilih menunjukkan 59,74 persen.
Namun, mengacu hasil scraping data form C1 dari seluruh TPS, jumlah pemilih di Kabupaten Malang yang menyalurkan hak suara tercatat 1.172.100.
Dengan DPT berjumlah 2.060.576 orang, maka tingkat partisipasi pemilihnya hanya 56,88 persen.
Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan Sumber Daya Manusia KPU Kabupaten Malang Marhaendra Pramudya Mahardika mengaku belum bisa memastikan angka partisipasi pemilih.
Sebab KPU Kabupaten Malang tidak melakukan hitung cepat.
”Angka partisipasi baru bisa diketahui ketika sudah dilakukan penghitungan berjenjang mulai besok (hari ini,),” ucapnya kemarin.
Jika mengacu hasil quick count maupun scraping data form C1, angka partisipasi pemilih Pilkada 2024 menurun.
Pada Pilkada 2020 lalu, dari 2.008.544 orang dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan Daftar Pemilih Tambahan (DPTb), sebanyak 1.214.787 yang menggunakan hak pilihnya.
Sedangkan 793.757 orang tidak menyalurkan hak pilih.
Artinya, partisipasi pemilih pada Pilkada 2020 mencapai 60,48 persen.
Padahal saat itu sedang terjadi pandemi Covid-19.
Sebelumnya, Dika menyebut angka partisipasi pemilih Pilkada 2024 ditarget mencapai 70 persen.
Dengan DPT berjumlah 2.060.576, maka diharapkan minimal 1.446.190 orang datang ke TPS untuk menggunakan hak pilihnya.
Target peningkatan itu diambil dengan pertimbangan sudah tidak ada pandemi Covid-19.
Sosialisasi juga sudah dilakukan secara masif. Berkaca pada Pemilihan Umum (Pemilu) 2024 lalu, kegiatan sosialisasi secara langsung dinilai efektif untuk meningkatkan partisipasi pemilih.
Terbukti angkanya sekitar 81,55 persen. Lebih tinggi dibanding Pemilu 2019 berada di kisaran 78 persen.
”Untuk pilkada 2024 ini kami belum mengetahui angka partisipasi pemilihnya. Penyebabnya pun belum kami kaji lebih lanjut kalau terjadi penurunan,” pungkasnya.
Peluang Sedikit Meningkat Kondisi berbeda terjadi di Kota Batu.
Angka partisipasi pemilih pada Pilkada 2024 diperkirakan mengalami kenaikan.
Pada Pilkada Tahun 2017 tercatat 80,1 persen.
Sementara tahun ini berada di kisaran 81,7 persen.
Setidaknya itu bisa dilihat dari penghitungan hasil pemungutan suara yang dilakukan Desk Pilkada Kota Batu.
Sebagai informasi, daftar pemilih tetap (DPT) dari 302 TPS di Kota Batu mencapai 166.942 jiwa. D
ari jumlah itu, sebanyak 136.450 warga Kota Batu menggunakan hak pilihnya pada Pilkada 2024.
Artinya, estimasi partisipasi pemilih mencapai 81,7 persen.
Angka itu bisa menurun jika penghitungan juga memasukkan pemilih dalam Daftar Pemilih Tambahan (DPTb).
Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Batu Heru Joko Purwanto mengungkapkan, angka partisipasi pemilih sebenarnya belum ditetapkan secara resmi.
Itu lantaran keputusan akhir hasil rekapitulasi belum ditetapkan.
Namun, dia menyebut angka partisipasi masyarakat ditarget naik hingga dua poin lebih banyak dibanding Pilkada 2017 lalu.
Baca Juga: DPRD Jatim Minta Bawaslu Kabupaten Malang Ikut Genjot Partisipasi Pemilih
”Kalaupun tidak mencapai target, harapan kami minimal sama seperti tahun 2017 lalu,” terangnya.
Heru menyadari jika kenaikan angka partisipasi pemilih tidak dapat ditarget terlalu banyak.
Itu lantaran jumlah TPS juga berkurang 50 persen dibanding Pemilihan Umum (Pemilu) Februari 2024 lalu.
Dia menambahkan, banyak kajian dan evaluasi yang akan dilakukan KPU untuk terus meningkatkan angka partisipasi pemilih.
Mulai dari kinerja badan penyelenggara, sistem, dan seluruh perangkat pendukung penyelenggaraan Pilkada 2024.
”Termasuk juga kami akan lebih masifkan sosialisasi kepada masyarakat,” ujar pria asal Desa Pendem itu. (adk/yun/ori/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana