Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Bagi-Bagi Masker hingga Ajari Moderasi Beragama

Editor : Hendarmono Al S. • Sabtu, 26 September 2020 | 16:11 WIB
Miftahudin Azmi (tengah) bersama warga RW 02 Tulusrejo usa bagi-bagi sembako pertengahan September lalu.
Miftahudin Azmi (tengah) bersama warga RW 02 Tulusrejo usa bagi-bagi sembako pertengahan September lalu.
PENCEGAHAN wabah korona menjadi konsentrasi para dosen UIN Malang dalam program UIN Mengabdi. Seperti yang dilakukan kelompok VI di RW 02 Kelurahan Tulusrejo, Kecamatan Lowokwaru, Juli-September lalu.
***

Sebanyak 100 masker diberikan secara gratis ke warga RW.02 Kelurahan Tulusrejo, Kecamatan Lowokwaru. Tak hanya itu, dosen UIN yang digawangi Miftahul Azmi dan Rasmuin ini juga membuat saluran air sebagai tempat cuci tangan yang diletakkan di setiap RT pada wilayah RW 02 Tulusrejo. Juga ada program bagi-bagi sembako.

Miftahudin Azmi menjelaskan, pemberian masker tersebut bertujuan menggugah kesadaran masyarakat tentang pencegahan virus covid-19. “Pembagian masker ini sejalan dengan semangat Pemerintah Kota Malang dalam meningkatkan kedisiplinan masyarakat terkait penggunaan masker” terang dosen Fakultas Syariah UIN Malang ini.

Dalam program UIN Mengabdi bertajuk Qaryah Thayyibah (Kampung Tangguh) ini berlanjut dengan membangun tempat cuci tangan di tempat ibadah serta mengedukasi masyarakat agar beragama secara moderat. Rajin mencuci tangan, merenggangkan shaf, tidak berjabat tangan, memakai masker saat ke masjid adalah salah satu kebiasaan baru sebagai upaya menanggulangi penyebaran virus Covid-19.
“Pada dasarnya setiap agama mengajarkan sikap yang moderat. Dalam literatur sejarah Islam, pada masa Nabi Muhammad pernah terjadi wabah dan upaya yang dilakukan saat itu adalah dengan lockdown wilayah yang terkena wabah,” sambung pria yang tinggal di Tulusrejo ini.

Ia juga menjelaskan bahwa Nabi Muhammad pernah melarang sahabat pergi ke masjid jika kondisi tidak memungkinkan dan membahayakan jiwa. Maka tidak heran kalau pemerintah menganjurkan untuk beribadah di rumah saat pandemi Covid-19. Kondisi ini harus dipahami oleh seluruh elemen masyarakat bahwa beragama harus secara moderat. Jangan disalahartikan pemerintah membatasi orang pergi ke tempat ibadah, kemudian muncul asumsi jangan takut corona tapi takutlah kepada Allah. Pola beragama seperti ini tidak sesuai dengan tuntunan agama itu sendiri. Karena tujuan disyariatkan agama (Maqashid Syariah) adalah demi menjaga jiwa. Agama apapun tidak membenarkan adanya praktik beribadah yang justru membahayakan nyawa manusia. Maka dalam konteks pandemi Covid-19 ini beragama secara moderat adalah salah satu vaksin terbaik.

Ketua RW 02 Tulusrejo, Didik Ariyanto mengaku kehadiran program ini sangat bermanfaat bagi warganya. ”Kebetulan di RW.02 ini ada pemakaman umum, maka saluran air yang dibuat oleh UIN Malang ini sengaja kami letakkan di dekat makam agar bisa dimanfaatkan oleh penggali makam dan dimanfaatkan oleh warga yang ziarah kubur,” ungkap Didik.

Lurah Tulusrejo Nina Sudiarty pun mengapresiasi program yang digagas Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UIN Malang ini. ”Sudah beberapa kali UIN Malang bekerja sama dengan Kelurahan Tulusrejo. Program Qaryah Thayyibah ini juga sangat bermanfaat bagi masyarakat,” tega Nina.(*) Editor : Editor : Hendarmono Al S.
#JPRM #uin mengabdi #UIN Malang #Qaryah Thayyibah #kecamatan lowokwaru #RW 02 Kelurahan Tulusrejo