Jejak hewan purba itu terlihat dangkal dengan kedalaman kurang dari 2 cm, tetapi sebagian besar terpotong oleh retakan-retakan skala kecil dan sangat lapuk. Jalur jejaknya terlihat di dua permukaan berbeda dan diberi label GT-1 dan GT-2 oleh ahli paleontologi di sana.
”GT-1 terdiri dari empat jejak yang jelas dan dua jejak yang terlihat samar, disusun dalam jalur sepanjang 2,1 meter di bagian bawah singkapan. Posisinya sekitar hanya 2 meter di atas permukaan anak sungai. Arahnya pada bidang alas yang curam mengarah ke atas atau ke tenggara,” kata Dr. Marco Romano dari Departemen Ilmu Bumi di Universitas Sapienza Roma seperti dikutip dari sci-news.com Rabu (19/1).
“GT-2 memiliki panjang 2,4 meter, diawetkan di bagian bawah bidang alas yang sama, sekitar 2 meter di atas permukaan anak sungai,” tambahnya. Ahli paleontologi menetapkan jejak hewan tersebut ke dalam jenis Ichnospecies baru, Isochirotherium gardettensis dan menafsirkannya sebagai hasil dari Archosauriform predator bertubuh besar. Mereka cukup yakin Erythrosuchid yang membuat jejak tersebut.
Diperkirakan jejak tersebut sudah ada sejak sekitar 250 juta tahun yang lalu atau pada Zaman Trias Awal, yaitu setelah peristiwa kepunahan massal Permian Trias. “Penemuan baru ini memberikan bukti lebih lanjut untuk keberadaan Archosauriformes di lintang rendah selama zaman Trias Awal,” kata para peneliti.
Penulis: Fara Trisna Rahmadani
Editor : Ahmad Yani