“Untuk mendapat dana hibah tersebut, tentu harus banyak persiapan. Itu baru saja saya dapatkan di bulan ini, tepatnya 21 Agustus,” ujarnya.
Pengembangan teknologi asistif tersebut, merupakan teknologi yang digunakan untuk membantu mahasiswa yang berkebutuhan khusus. Tujuannya yakni bisa membantu pembelajaran mahasiswa agar lebih mudah dan memahami. Ide yang dituangkan dalam proposal miliknya, yakni mengenai bahasa pemrograman.
Lebih lanjut, dirinya menjelaskan bahwa bahasa pemrograman berhubungan erat dengan syntax. Hal tersebut sulit dipahami oleh mahasiswa berkebutuhan khusus. Sehingga, syntax akan dikemas dalam bentuk puzzle agar mempermudah pembelajaran.
“Jadi melalui aplikasi modul pemrograman yang dikemas dalam bentuk puzzle. Karena dengan puzzle bisa membuat daya tarik, sehingga bisa lebih mudah untuk dipahami,” katanya.
Dengan aplikasi yang dibuat, dirinya berharap mahasiswa bisa fokus dengan logikanya. Lebih dari itu, dirinya juga ingin dengan program yang dibuat bisa dimanfaatkan oleh anak-anak, agar mereka bisa berpikir logis sejak kecil.
Pewarta : Roisyatul Mufidah (cj3)/Defi Maria Editor : Shuvia Rahma