Hal itu juga dibenarkan Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UM Dr Hadi Suwono MSi. Selain itu, jam kuliah juga dibatasi hanya 2x50 menit. Sementara petugas kebersihan membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk membersihkan ruangan kelas yang selesai digunakan. “Kami ingin menjamin mahasiswa dan dosen saat PTM bisa nyaman tanpa ada rasa canggung dan waswas karena harus beradaptasi dengan situasi new normal,” kata Hadi.
Dosen biologi tersebut menambahkan, jumlah mahasiswa yang mengikuti perkuliahan dalam satu kelas juga dibatasi 50 persen. Sementara mahasiswa yang tidak mengikuti PTM masih bisa mengakses pembelajaran secara daring. Selain sterilisasi ruang kelas, pihaknya juga menegaskan bahwa ada kewajiban karantina terlebih dahulu bagi mahasiswa luar Malang.
Jaminan keamanan tersebut dirasakan cukup baik oleh Meidin Aira Putri. Mahasiswi FMIPA UM itu mengaku senang bisa kembali merasakan PTM setelah hampir dua tahun menjalani kuliah daring. Mahasiswi angkatan 2020 itu juga melihat beberapa tugas kebersihan bergerak cepat masuk ke ruang kelas jika jam mata kuliah telah usai.
“Alhamdulillah perkuliahan jadi aman, kami juga diwajibkan mematuhi prokes,” katanya.
Mahasiswi asal Jakarta itu ingin PTM bisa berjalan terus. Sebab materi yang diberikan oleh dosen lebih nyambung ketika bertemu secara luring. Ketika daring, lambannya koneksi internet kerap menjadi persoalan.
Tak hanya di dunia perkuliahan, jaminan keamanan PTM juga berlangsung di sekolah. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dr Husnul Muarif menyatakan pihaknya juga mewajibkan sekolah tetap mematuhi standar prokes. Mulai dari pembatasan 50 persen siswa, batasan jam hingga pencegahan terjadinya kerumunan. "Yang paling ketat adalah siswa wajib membawa bekal," katanya.
“Kita sudah PPKM Level-2, tapi jangan terlena dengan itu. Kami mengingatkan para guru untuk tetap mengawasi prokes di sekolah,” ucap mantan Direktur RSUD Kota Malang itu. (adn/nay/rmc) Editor : Farik Fajarwati