Tampak beberapa siswi berhijab juga turut membantu pembuatan pohon Natal. Kepala SMA Taman Harapan Palupi mengatakan, pemasangan atribut natal rutin dilakukan setiap tahun. Demikian pula saat hari besar agama lain. “Setiap tahun, lima agama, kecuali Buddha rutin melakukan kegiatan ini,” ujar Palupi, kemarin. “Buddha tidak ikut karena beberapa tahun belakangan ini tidak ada siswa beragama Buddha,” tambahnya. Selain atribut Natal, pihaknya juga menyimpan atribut agama lain.
Seperti atribut Imlek, bedug, replika unta untuk Maulid Nabi, hingga Nyepi. “Karena di sini baik siswa maupun guru terdiri atas lima agama.
Bahkan, ada siswa yang lahir dengan keluarga berbeda agama. Hari libur kami pun juga menyesuaikan hari besar keagamaan,” bebernya. Dia berharap, ke depan kegiatan ini tidak hanya jadi ajang simbolis.
Namun juga memberikan pelajaran berharga akan toleransi. Sementara itu, salah seorang siswa, Samuel menyatakan kegiatan seperti ini sangat bagus untuk menumbuhkan toleransi kepada sesama. Sebagai siswa beragama Kristen, dia mengapresiasi teman-temannya yang berasal dari agama lain. “Ini sangat bagus,” kata siswa yang duduk di kelas 10 itu. (mel/dan) Editor : Mardi Sampurno