Kepala Sekolah SMAK St Albertus Br Antonius Sumardi, O.Carm mengungkapkan, Art Performance itu merupakan gelaran hasil akhir dari mata pelajaran seni dan kewirausahaan. "Ini adalah karya anak-anak dari dua mata pelajaran yang ditampilkan dalam satu hari," tuturnya.
Bruder Mardi-sapaan Br Antonius Sumardi, O.Carm menjelaskan, art performance tersebut menjadi agenda rutin sejak 2011. Namun karena pandemi, agenda itu sempat terhenti. Saking euforianya, para guru ikut mengenakan kostum adat Bali sesuai dengan tema yang mengangkat cerita rakyat Bali.
Suasana Bali sangat kental terasa. Bahkan saat memasuki halaman sekolah sayup-sayup terdengar alunan musik khas Pulau Dewata itu. "Bapak ibu guru mengenakan kostum yang sama untuk mendukung para siswa," ungkapnya.
Gelaran yang dilaksanakan di aula atas SMAK Dempo tersebut dilanjutkan dengan penampilan wayang kulit dengan judul 'Sesaji Rojo Suyo'. Dalangnya pun merupakan siswa kelas X SMAK Dempo. Wayangan selama 30 menit itu juga cukup menyita perhatian penonton. Apalagi, sang dalang mengemas cerita dengan sangat jenaka sehingga membuat penonton sesekali tertawa.
Fashion show busana batik karya siswa turut disuguhkan pula. Corak dan desain baju dibuat semenarik mungkin untuk mewakili masing-masing kelas.
Tak ketinggalan tim paduan suara, tari kreasi, serta dance. Sendratasik (seni drama, tari dan musik) Kisah Calon Arang menjadi pemuncak acara. Berbagai pesan moral disampaikan melalui pagelaran seni itu. Salah satunya mengajak peserta didik menjadi Dempoers yang berhati, memiliki semangat doa, persaudaraan dan pelayanan. (jprm2/dur/nen) Editor : Neny Fitrin