Mengenal Lebih Dekat Prof Dr Fattah Hanurawan MSi, Guru Besar Psikologi Universitas Negeri Malang
Psikologi merupakan bidang ilmu yang mempelajari setengah manusia. Sedangkan setengahnya lagi dipelajari dalam bidang ilmu kesehatan. Psikologi juga berhubungan erat dengan mental dan perilaku manusia, sehingga mencakup soal klinis, pendidikan, hingga perkembangan.
……………………………………………..
“Menjadi sangat rugi ketika seseorang yang belajar ilmu psikologi malah tidak bahagia. Apalagi pada hakikatnya, kebahagiaan bisa diciptakan.”
Quote itu dilontarkan Prof Dr Fattah Hanurawan MSi saat berbincang tentang ilmu psikologi dan kehidupan manusia, Senin (12/6). “Sejak pagi sudah tersenyum, itu membuat efek positif dalam diri. Sehingga jika terakumulasi maka kebahagiaan akan melekat pada diri seseorang,” ujarnya.
Efek-efek positif tersebut juga dapat diciptakan dengan teori perbandingan. Caranya, dengan membandingkan dapat memberikan efek negatif maupun positif. Dia mencontohkan, misalnya seseorang yang terlalu melihat keatas atau melihat orang lain dengan kehidupan lebih, maka dia pun akan selalu merasa kurang.
"Sebenarnya jangan membandingkan jika tidak sangat diperlukan, tetapi kalau terpaksa membandingkan maka bandingkanlah dengan yang lebih rendah," kata dia. “Tujuannya agar seseorang lebih bersyukur dan tidak selalu merasa kurang dalam hidupnya,” sambungnya.
Selain itu, menciptakan kebahagiaan bisa dilakukan dengan memberikan pesan-pesan positif terhadap diri sendiri,menghindari marah, dan selalu membuat diri sendiri nyaman. Tindakan positive well being itu menurutnya juga menjadi salah satu cara untuk bahagia.
"Artinya kebahagiaan tidak selalu berkaitan dengan objek, seperti memiliki, rumah, mobil atau pasangan," tuturnya. “Memikirkan pengalaman dihidupnya sebagai sesuatu yang positif dan menimbulkan kepuasan dalam dirinya juga bisa membuat orang merasa bahagia,” terang Prof Fattah.
Dosen di Fakultas Psikologi UM ini menyebutkan bahwa psikologi dekat dengan filsafat. Hal itu membuat seseorang mengerti tentang kehidupannya dan bagaimana mereka optimis dalam menjalaninya. "Sebenarnya filsafat Jawa 'nrimo ing pandum' itu benar. Tidak terlalu memaksakan tujuan yang tidak bisa diraih terkadang memang harus dilakukan,” sambung alumni program doktor Universitas Gadjah Mada (UGM) itu.
Bahkan dua istilah psikologi cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia. Yaitu stress dan depresi. Walaupun faktanya, masyarakat Indonesia mayoritas tidak terlalu berlebihan dalam menyelesaikan masalah yang membuatnya stress. Hanya beberapa waktu saja, lalu dapat menyesuaikan diri. "Kalau kita lihat kasus-kasus di Korea, banyak yang menyelesaikan masalah dengan bunuh diri," ucapnya.
Padahal, semua persoalan hidup bisa diselesaikan. Seperti dalam pidato pengukuhannya tentang 'Ilmu Psikologi untuk Pemecahan-Pemecahan Masalah Kemanusiaan'. Menurutnya puncak dari eksistensi psikologi adalah membantu memecahkan masalah. Pemecahan tersebut tujuannya adalah menciptakan kebahagiaan manusia dalam menjalani kehidupan. (dur/nen) Editor : Neny Fitrin