3,5 Tahun setelah Pelaksanaan Program Kampus Merdeka
MALANG KOTA – Program Kampus Merdeka sudah diluncurkan sejak Januari 2020. Masing-masing perguruan tinggi memiliki cara berbeda dalam menerapkan kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) itu. Namun salah satu target yang dikejar tetap sama, yakni mendekatkan mahasiswa dengan Dunia Usaha Dunia Industri (DUDI).
Misalnya yang diungkapkan Direktur Pendidikan Universitas Negeri Malang (UM) Prof Suyono. Menurutnya, Kebijakan MBKM sejatinya sangat bagus. Bisa menjadi jembatan antara perguruan tinggi dengan DUDI. Dengan begitu, relasi yang terjadi mampu menghasilkan kompetensi lulusan perguruan tinggi yang sesuai dengan kebutuhan DUDI.
Namun Suyono menyebut kebijakan itu harus diimplementasikan dengan perencanaan yang matang. ”Bila tidak, maka bisa malah mendegradasi pemahaman keilmuan secara utuh,” ucapnya.
Suyono menyebut UM memiliki tantangan untuk melebarkan sayap kerja sama dengan industri. Sebab, selama ini kerja sama yang dijalin kebanyakan dengan lembaga pendidikan. Utamanya jenjang SD hingga SMA. Hal itu tak lepas dari image UM sebagai salah satu kampus pendidikan terbaik. ”Tantangannya ada di sana. Kerja sama sekarang harus seimbang antara sekolah dengan industri lain,” ucapnya.
Menurut Suyono, sebelumnya setiap program studi (prodi) di UM hanya memiliki satu atau dua mitra kerja sama. Itu di luar kerja sama dengan sekolah. Namun setelah MBKM diterapkan, jumlah mitra kerja sama setiap program studi meningkat signifikan. Bahkan lebih dari 100 persen.
”Sekarang bisa mencapai tujuh bahkan delapan mitra kerja sama Saya terus mendorong agar prodi-prodi yang ada di UM menambah jumlah mitra kerja sama,” imbuhnya.
Dengan cara seperti itu, kegiatan magang yang dilakukan mahasiswa menjadi lebih terukur dan terencana. Sebab pihak kampus ikut memastikan tempat magang mahasiswa. Termasuk menjamin keterampilan kerja yang didapat di lapangan sesuai dengan target kompetensi keilmuan.
Dari sembilan program kampus merdeka yang ditetapkan, tidak semua merupakan hal baru bagi kampus. Sebab, beberapa program sudah dijalankan sebelum adanya kebijakan MBKM. Misalnya, magang bersertifikat. Bedanya ada pada pengakuan dalam Satuan Kredit Semester (SKS). Sebelumnya, magang hanya diakui 4 SKS dengan durasi pelaksanaan minimal dua bulan.
Untuk program magang bersertifikat kampus merdeka, bobotnya saat ini sebesar 20 SKS. Imbasnya, prodi harus menyediakan paket-paket pilihan untuk konversi nilai. Sebab, ketika mahasiswa mengambil program magang, ia akan menghabiskan satu semester untuk menyelesaikan kegiatan tersebut. ”Misalnya mata kuliah apa saja yang bisa dikonversikan dengan program magang itu,” ungkapnya.
Hal yang sama diungkapkan oleh Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Prof Syamsul Arifin. Ia mengatakan, PR lain bagi prodi adalah memetakan mata kuliah-mata kuliah yang relevan dengan pilihan program kampus merdeka yang tersaji. Misalnya magang bersertifikat itu mampu mengganti mata kuliah apa saja.
”Magang itu kan diakui hingga 20 SKS. Jadi apa saja konversi mata kuliah yang bisa diganti dengan kegiatan itu,” ucapnya.
Syamsul juga sepakat dengan niat baik program kampus merdeka. Namun, program itu perlu didampingi evaluasi kontrol tugas saat berada di DUDI. Sebab selama ini masih sering terjadi bobot tugas yang diberikan di bawah standar porsi tugas yang seharusnya diberikan kepada mahasiswa. Untuk itu, Syamsul menyebut perlu ada kerja sama antara prodi, DUDI, dan mahasiswa yang akan magang.
Khusus untuk di UMM, Syamsul mengaku sudah lama menerapkan program yang saat ini dinamai MBKM. Bahkan sejak dulu UMM berkomitmen untuk mengapresiasi setiap prestasi. Dengan begitu, sistem konversi nilai sudah tak asing lagi.
”Sebelumnya tiap prodi sudah kami dorong untuk melakukan berbagai kerja sama. Terlebih UMM memiliki program CoE (Centre of Excellence),” terangnya.
Bahkan hingga saat ini UMM terus memacu jumlah kerja sama dengan dunia usaha dan industri. Ketika program itu dilaksanakan melalui perencanaan yang matang, maka akan bisa menekan angka pengangguran. Sebab tingginya angka pengangguran dipicu minimnya lulusan kampus yang mempunyai keterampilan sesuai kebutuhan DUDI.
Syamsul menambahkan sekarang mahasiswa bisa menempuh tiga semester di luar kampus. Untuk itu, masing-masing prodi harus memetakan secara cermat mata kuliah apa saja yang bisa digantikan dengan kegiatan di luar kampus itu. Goal dari program itu adalah ketika mahasiswa sudah tidak perlu masa tunggu untuk memperoleh pekerjaan setelah lulus nanti. ”Magang atau program lain di MBKM itu harus jadi momen untuk gali potensi diri,” pungkasnya. (dre/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana