ORANG yang mabuk akibat menenggak minuman keras biasanya berjalan sempoyongan.
Bagi Arek Malang, berjalan sempoyongan disebut Koleng.
Istilah ”koleng” plesetan dari ”oleng”.
Istilah tersebut populer di Kota Malang sejak tahun 1990-an.
Namun kini makin jarang diucapkan.
Sejarawan Bahasa Malangan Restu Respati menjelaskan, Koleng merupakan plesetan dari kata ’oleng’.
Artinya terayun ke kanan dan kiri, seperti kapal terkena ombak.
Kala itu, masyarakat menggunakan diksi tersebut untuk menggambarkan orang mabuk akibat menenggak miras.
”Sering kali jadi guyonan untuk mengistilahkan orang atau teman yang mabuk. Cara jalannya koleng seperti perahu yang terombang-ambing,” terang dia.
Untuk penempatan dalam kalimat, istilah itu cukup akrab dengan bahasa walikan mabuk, yaitu kubam.
Begini penggunaannya dalam kalimat yang biasa dipakai Arek Malang.
"Delok en arek iku, mari kubam rong liter bir, saiki mlakune koleng. (Lihat anak itu, baru saja mabuk bir dua liter, sekarang jalannya 'koleng')."
Restu mengatakan, kata Koleng juga bisa dimaknai lain.
Yakni menjadi kata ganti untuk menyebut galau atau ekspresi yang menandakan sedang bingung, resah, gelisah.
”Di luar konteks mabuk, kondisi seseorang yang tidak dapat menentukan arah karena suatu permasalahan juga disebut koleng,” kata dia. (biy/dan)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana