Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

3 SMP Swasta di Malang Gagal Dapat Siswa

Aditya Novrian • Rabu, 24 Juli 2024 | 22:13 WIB
Infografik Tiga SMP Swasta yang Gagal Dapat Siswa Baru.
Infografik Tiga SMP Swasta yang Gagal Dapat Siswa Baru.

Peserta Didik Baru Pilih Cabut Berkas

MALANG KOTA - Kekhawatiran SMP swasta terhadap siswanya yang mencabut berkas benar-benar terjadi.

Setelah proses finalisasi hasil Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), ada tiga sekolah yang melaporkan gagal mendapat siswa baru (selengkapnya baca grafis).

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMP Swasta Kota Malang Rudiyanto menyebut jumlah sekolah yang tak memiliki siswa baru cukup banyak.

”Awalnya hanya 2 sekolah, lalu bertambah lagi satu sekolah,” terangnya.

Angka itu lebih besar dari tahun sebelumnya yang hanya tercatat dua sekolah yang gagal menerima siswa baru.

Hal itu diduga karena siswa baru mencabut berkas saat PPDB selesai.

Sehingga, terpaksa harus menerima pengunduran diri siswa tersebut.

Rudi menyebut kejadian pencabutan berkas sebenarnya sudah diantisipasi oleh sekolah swasta.

Biasanya dengan pengadaan surat pernyataan.

Namun, itu tidak berlaku di sekolah swasta yang target pasarnya menengah ke bawah.

Pengetatan aturan pencabutan berkas di tengah tahun ajaran baru membuat beberapa sekolah swasta mengeluh.

Pasalnya, tak ada regulasi khusus untuk pemindahan siswa yang tiba-tiba berubah pikiran setelah mendaftarkan diri.

”Batas maksimalnya pada cut off Data Pokok Pendidikan (Dapodik),” ujar Rudi.

Di tempat lain, Kepala SMP NU Hasyim Asyari Tri Kurniawati menyebut awalnya sekolah menerima sebanyak empat siswa baru.

”Bahkan mereka sudah melakukan pembayaran 50 persen,” ungkapnya.

Namun, satu anak mengundurkan diri.

Hal itu membuat siswa yang lain tiba-tiba juga mengundurkan diri dan meminta uangnya dikembalikan.

Tri mengungkapkan, siswa baru tersebut saling mengenal.

Sehingga, ketika satu mengundurkan diri, yang lainnya ikut terbawa.

Alasannya, mereka mengaku berubah pikiran dan ingin melanjutkan ke sekolah pondok.

Dirinya terpaksa menerima hal tersebut dan mengembalikan uang siswa.

”Saya hanya kenakan biaya pendaftaran saja Rp 50 ribu,” paparnya.

Sementara biaya SPP yang harusnya ditanggung selama per bulan sebesar Rp 100 ribu.

Dirinya tak tahu pasti ke mana arah siswa yang mengundurkan diri tersebut.

Tri menyebut menurunnya minat siswa mendaftar ke SMP swasta sudah dirasakannya sejak diterapkan jalur zonasi.

Bahkan lulusan SD Islam Hasyim Asyari juga tidak berkenan melanjutkan di sekolahnya.

Sehingga mayoritas yang bersekolah di SMP NU Hasyim Asyari hanya warga sekitar saja.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang Didik Teguh Pribadi mengimbau agar yayasan perlu memberikan regulasi khusus.

Perpindahan siswa setelah ajaran baru memang sah-sah saja dilakukan.

Terlebih, jika siswa tersebut belum terdata pada Dapodik.

Selain itu, Disdikbud tak bisa memberikan regulasi khusus pelarangan pencabutan berkas.

Apalagi saat proses pemenuhan pagu di beberapa sekolah masih bergulir.

”Harusnya itu jadi pekerjaan rumah yayasan agar tidak ada siswa yang pindah,” pungkas Dodik. (ori/adn)

Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana
#siswa #malang #SMP swasta