MKKS Khawatir Jumlah Sekolah yang Tutup Semakin Bertambah
MALANG KOTA - Problem sekolah tak bisa memenuhi pagu saat penerimaan peserta didik baru (PPDB) masih dialami oleh mayoritas SMA swasta di Kota Malang.
Dari total 37 SMA swasta, 80 persen tak mampu memenuhi pagu. (selengkapnya baca grafis).
Kabar itu disampaikan oleh Kepala Seksi (Kasi) SMA dan PKLPK Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kota Malang dan Kota Batu M. Asrofi MPd.
Dirinya menyebut kekurangan siswa pada SMA swasta dipengaruhi oleh beberapa faktor.
Sebagai contoh, kurangnya minat siswa untuk memilih sekolah swasta.
”Kalau swasta yang dipilih pasti yang sekolah unggulan,” terangnya.
Faktor lain yang mendasari adalah kurangnya inovasi yang diberikan oleh beberapa sekolah.
Sekolah perlu menawarkan layanan pendidikan yang mampu menggaet siswa baru.
Di sisi lain, bisa membuat kegiatan agar lebih dikenal masyarakat.
Bahkan, Asrofi mengatakan, banyak SMA swasta yang memilih untuk tutup setelah tak mendapat murid sama sekali.
Awalnya, ada sebanyak 42 sekolah, kemudian susut menjadi 39 sekolah.
”Sekarang yang masih tersisa 37 sekolah saja,” bebernya.
Lebih lanjut, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Swasta Kota Malang Br Antonius Sumardi OCarm mengakui problem sekolah swasta terkait pagu beberapa tahun terakhir menjadi PR terberat.
”Mungkin butuh ada sedikit aturan baru dari Dispendik Jatim terkait PPDB. Supaya ke depan SMA swasta bisa tetap eksis,” ungkapnya.
Kendala lain yang juga memengaruhi adalah minimnya anggaran yang digelontorkan pemerintah.
Misalnya, biaya penunjang operasional penyelenggaraan pendidikan (BPOPP).
Sehingga, kebijakan tersebut jelas tidak menguntungkan bagi sekolah yang memiliki sedikit siswa.