DUA siswi SMAN 1 Kepanjen itu sebenarnya beda usia dan beda kelas.
Nastiti berusia 16 tahun dan duduk di bangku kelas 11.
Sedangkan Shafa sudah berusia 18 tahun dan tinggal menyelesaikan tahun terakhir di kelas 12.
Tapi, keduanya tergabung dalam satu ekstrakurikuler yang sama, yakni Kelompok Ilmiah Remaja (KIR).
Pada 9 November lalu, karya mereka menyabet medali OPSI 2024 yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) di Jakarta.
OPSI melombakan penelitian di tiga bidang.
Yakni Matematika Sains Teknologi (MST), Ilmu Sosial Humaniora (ISH), serta Fisika Terapan dan Rekayasa (FTR) Nastiti dan Shafa memutuskan untuk bertanding di bidang MST.
Mereka mengirim proposal penelitian berjudul ”Pengembangan Membran Desalinasi Interfacial Solar Steam Generation dengan Absorber Flexible Wood Berbahan Kayu Sengon Terlapisi Carbon Nanotube”.
Total ada 7.000 proposal yang dikirim siswa dari seluruh Indonesia hingga 14 Maret.
Selanjutnya, pihak panitia melakukan seleksi hingga April dan memilih 4.000 proposal untuk dilanjutkan dengan karya penelitian penuh.
”Setelah itu hanya terpilih 100 karya pada babak Final pada Oktober lalu. Kami maju ke presentasi tanggal 3 – 9 November,” kata Shafa.
Sebenarnya ada 12 kontingen yang meraih medali emas.
Tapi seleksi masih terus berlanjut untuk perlombaan penelitian serupa di kancah Internasional.
Yakni Regeneron International Science and Engineering Fair (ISEF) 2025 di Columbus, Ohio, AS.
Lomba itu akan dilaksanakan pada 9 sampai 16 Mei 2025.
”Yang terpilih hanya tiga. Yakni tim SMAN 1 Kepanjen, MAN 2 Tasikmalaya, dan SMAN 3 Denpasar,” kata Shafa.
Penelitian yang dibuat Shafa dan Nastiti memang istimewa.
Yakni penyaringan air laut dan air payau menjadi air tawar menggunakan penyerap berbentuk membran berbahan kayu sengon dan karbon.
Penyaringan itu memanfaatkan penguapan dengan bantuan sinar matahari.
Proses penguapan dilakukan di sebuah wadah kaca seperti akuarium seukuran ember sedang.
Di tengahnya diberi sekat kaca, kemudian ditutup lagi dengan kaca berbentuk segitiga setengah.
Air asin ditaruh di sisi kanan, sementara sisi sebelahnya kosong.
Membran penyaring ditaruh mengapung di atas air asin.
Setelah menunggu beberapa saat di bawah sinar matahari, proses penguapan mulai terlihat.
Garam akan tertinggal di membran kayu dan karbon, sedangkan air yang sudah tawar akan berpindah ke wadah sebelah kiri.
”Karbon berfungsi menyerap panas. Kemudian kayunya menjadi panas dan akan terjadi pemanasan yang membantu penguapan. Ini sudah dua kali uji coba,” imbuhnya.
Menurut Shafa, proses desalinasi biasanya menggunakan emas.
Itu karena emas punya sifat menyerap dan mempertahankan panas, serta memiliki jalur transportasi air.
Sedangkan kayu hanya memiliki sifat mempertahankan panas dan penyaluran air melalui poripori kayu.
Karena itu perlu ditambahkan karbon untuk mengubah sinar matahari menjadi panas.
Pertimbangan utama memanfaatkan kayu dan karbon adalah faktor biaya.
Kayu sengon mudah ditemui di hampir seluruh wilayah Malang Selatan.
Sedangkan karbon yang mereka gunakan bisa dibeli toko kimia.
Tapi, kayu sengon harus dihilangkan lignin atau zat kayunya lebih dulu dengan cara direndam bersama campuran natrium sulfit dan natrium hidroksida.
Hasil penyaringan menggunakan alat yang dibuat Shafa dan Nastiti layak untuk menjadi bahan baku air.
Artinya bisa di gunakan untuk konsumsi meski belum bisa langsung diminum.
Masih ditemukan sedikit bakteri ecoli. Dari yang sebelumnya 3 ribu koloni hanya tersisa 2.
Seharusnya 0 untuk layak konsumsi.
Nastiti menambahkan, alat desalinasi yang dia buat masih tersimpan di laboratorium sekolah.
Dia belum dapat menunjukkan karena masih dalam tahap pengembangan.
Yakni mengganti kaca dengan lensa fresnel agar penyerapan panas bisa lebih baik meski cuaca sedang mendung.
Yang cukup menarik, ide membuat penyaring garam dari air asin itu bukan lahir di dalam laboratorium.
Melainkan saat bermain ke Pantai Sendiki di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, beberapa hari sebelum keikutsertaan mereka di OPSI.
”Waktu itu kebetulan sedang liburan ke Pantai Sendiki.
Tiba-tiba kami kepikiran untuk meneliti air sungai dekat pantai itu yang biasa digunakan orang untuk mandi,” kata Pembina Riset Ekskul KIR Erma Syiaful Hasanah.
Akhirnya diketahui bahwa radius 10 kilometer dari bibir pantai, air bersih untuk kebutuhan warga sudah tercemar air laut.
Kayu sengon ternyata juga mudah ditemukan di permukiman dekat Pantai Sendiki.
Karena itu, penerapan hasil penelitian bisa dilakukan di sana.
Hal itu yang menurut Erma juga menjadi salah satu pertimbangan anak didiknya terpilih berangkat ke Amerika.
”Karena soal air bersih itu tidak hanya menjadi problem di Indonesia saja. Tapi di banyak negara,” tandasnya. (*/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana