MALANG KOTA - Meski Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) SMP jalur domisili sudah diumumkan 12 Juni lalu, nada-nada kekecewaan masih terdengar. Itu diketahui saat sejumlah wali murid mencoba peruntungan di jalur prestasi akademik. Tak sedikit di antara mereka yang gagal di jalur domisili karena terkendala jarak rumah dengan sekolah.
Seperti disampaikan Indrayani, warga Kecamatan Blimbing. Kepada Jawa Pos Radar Malang, dia mengaku hendak mendaftarkan anaknya ke SMP Negeri 16, SMP Negeri 18, atau SMP Negeri 24 Kota Malang.
”Semula saya mencoba jalur domisili, tapi radius rumah dengan sekolah masih sekitar satu kilometer, sehingga terlempar,” kata dia.
Indriyani sudah mendatangi posko SPMB di Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang. Dia berkonsultasi karena hendak mencoba jalur prestasi akademik. Menurut Indriyani, nilai rapor anaknya sebenarnya belum mencukupi karena di bawah standar minimal, yakni 85.
Sementara untuk mendaftar di jalur prestasi non-akademik, dia masih kurang percaya diri. Sebab, prestasi anaknya tidak sampai juara. Meski begitu, dia tetap akan mencobanya. ”Kalau disuruh daftar ke SMP swasta juga keberatan. Selain belum survei, tidak ada sekolah swasta yang dekat dengan rumah dan biayanya mahal,” kata dia.
Indriyani berharap anaknya tetap bisa mendaftar ke SMP negeri. Sebab, tiga sekolah yang dituju sebelumnya berjarak cukup dekat dengan rumahnya. Selain Indriyani, ada Tri Dedi Setiawan. Dia bersama sang istri datang ke posko SPMB Disdikbud Kota Malang, kemarin (18/6).
Kepada wartawan koran ini, dia mengaku hendak mendaftarkan anak ketiganya ke SMP negeri. Yang diincar yakni SMP Negeri 3, SMP Negeri 5, atau SMP Negeri 20. ”Kebetulan anak pertama dan anak kedua saya diterima di SMP Negeri 20. Tapi yang bungsu ini terpental karena radius rumah dengan sekolah 1,5 kilometer,” kata dia. Rumah Tri sendiri berada di RW 16, Kelurahan Bunulrejo.
Karena itu, Tri dan istrinya berencana mendaftarkan anaknya melalui jalur prestasi. Dari segi nilai rapor, sebenarnya anaknya memiliki nilai 84. Sementara nilai Uji Kompetensi Daerah (UKD) numerasi dan literasi juga belum cukup memuaskan. Jika ditotal, nilai rata-ratanya 5,5.
”Memang masih kurang dari UKD. Tapi saya tetap mencoba konsultasi karena kalau daftar ke SMP swasta harus memikirkan biaya,” cerita Tri yang sehari-hari bekerja sebagai driver ojek online tersebut. Oleh pihak sekolah anaknya, dia diminta pergi ke dinas. Tujuannya untuk mengetahui pagu SMP yang masih bisa menampung.
Kepala Bidang (Kabid) Pendidikan Dasar Disdikbud Kota Malang Muflikh Adhim menjelaskan, peminat jalur domisili di setiap wilayah memang tidak bisa diprediksi. ”Kalau terlempar berarti populasi (warga) di sana (di sekitar sekolah) cukup padat,” kata dia. Saat ini, dia menyebut bahwa pihaknya fokus di jalur prestasi akademik.
Sesuai jadwal, pengumuman hasilnya bakal disampaikan besok (20/6). Berlanjut ke sesi daftar ulang sehari setelahnya (selengkapnya baca grafis). Total ada 1.489 pelajar yang bisa tertampung di 30 SMP negeri via jalur prestasi akademik. Itu sesuai dengan kuota 20 persen di masing-masing sekolah.
Dari pantauan Jawa Pos Radar Malang sampai tadi malam pukul 19.00, total sudah ada 1.839 pelajar yang mendaftar. Jumlahnya masih bisa bertambah. Sebab, SPMB SMP jalur prestasi dibuka sampai tadi malam pukul 23.59.
Ada dua komponen yang jadi penilaian untuk jalur prestasi akademik. Yang pertama yakni rata-rata nilai rapor dan nilai UKD. ”Bobotnya 75 persen untuk nilai UKD. Sementara nilai rapor 25 persen,” jelas Adhim.
Dia menyebut kalau rata-rata nilai rapor dari kelas 4 sampai 6 SD menjadi saringan awal.
Sistem pengumuman nilai UKD tahun ini dilakukan sedikit berbeda ketimbang tahun lalu. Disdikbud baru mengumumkan nilainya ke masing-masing sekolah setelah SPMB SMP jalur domisili, afirmasi, dan mutasi rampung. Secara umum, pejabat eselon III B Pemkot Malang itu menyebut bahwa penilaian bakal didasarkan pada akumulasi nilai rapor dengan nilai UKD.
Pihaknya tetap mempersilakan orang tua yang masih kesulitan mencari sekolah untuk datang ke dinas. Sebab, dinas bisa membantu mengarahkan ke SMP yang belum terpenuhi pagunya.
Berdasar data dari website SPMB kotamalang.spmb.id, pendaftar dengan nilai tertinggi berada di angka 95,13. Sementara paling rendah di nilai akumulasi 52,66. ”Sebagai contoh di SMPN 8 Malang, nilai terendahnya (pendaftar) jadi 75,8,” ujar Plh Kepala SMP Negeri 8 Malang Sumarno.
Nilai-nilai dari para pendaftar itu bakal di-ranking untuk menentukan siapa yang diterima di jalur prestasi akademik. Di SMPN 8 Malang, jumlah kuota jalur prestasi akademik sebanyak 65 pelajar. Porsinya 20 persen dari total pagu sebanyak 256 anak.
Saat ini, pihak sekolah menunggu proses seleksi berupa verifikasi data dari Disdikbud. ”Kalau sudah dinyatakan diterima, baru daftar ulang secara online,” lanjut Sumarno. Berlanjut pada permintaan kelengkapan berkas. Mulai data siswa, surat keterangan lulus (SKL), hingga ijazah.
Hal yang sama juga terjadi di SMPN 12 Malang. Dari total 256 pagu tahun ini, mereka bakal menerima 57 pelajar dari jalur prestasi akademik. Tidak ada tambahan persyaratan yang harus diajukan ketika sudah dinyatakan lolos di website SPMB.
”Seleksi jalur prestasi akademik ini memang dilakukan dengan sistem, kami tinggal menunggu saja (hasilnya),” ujar Kepala SMPN 12 Malang M. Shodiq. Rata-rata nilai akumulasi tertinggi yang diajukan di sana 90,05. Untuk nilai terendah di angka 66,06.
Di tempat lain, sejumlah SD Negeri di Kota Malang mencatat peningkatan pada hasil UKD. Peningkatan terjadi di ujian literasi. Sementara hasil ujian numerasi masih harus ditingkatkan. ”Literasi anak-anak kelas enam tahun ini lebih meningkat,” kata Kepala SDN Purwantoro 1 Priyo Hadi Wijayanto.
Meskipun hasil UKD hanya bisa dilihat di sekolah masing-masing, dia yang merupakan Koordinator Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) juga dilapori hal serupa oleh kepala sekolah lain. Hasilnya sama, ujian numerasi masih butuh penguatan secara intensif. (mel/aff/by)
Editor : A. Nugroho