MALANG - Menggaungkan jargon Yang Lain Ujian, Kita Gajian yang dimaksud adalah ketika siswa sekolah lain masih melaksanakan ujian, siswa SMKS Bina Bangsa Dampit sudah menerima gaji dari pekerjaannya.
Dengan realita tersebut, imbasnya pada PPDB 2025-2026 ini, SMKS Bina Bangsa Dampit banjir siswa. Sehingga pada 14 Juni lalu sekolah harus menutup penerimaan siswa baru dengan jumlah 892 siswa.
Dengan usia sekolah 18 tahun dan bisa dibilang masih remaja, sekolah yang dikepalai oleh Siti Maimunah ini awalnya hanya memiliki 90 siswa.
Kini SMKS Bina Bangsa Dampit berkembang pesat dengan ribuan siswanya. Sekolah yang menempati lahan 17.000 meter persegi ini memiliki lima program unggulan, yakni Teknik Kendaraan Ringan (TKR), Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), Teknik Alat Berat (TAB), Teknik Pengelasan (TP) dan Perbankan (PB).
Sekolah yang beralamatkan di Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang ini juga memiliki banyak prestasi dan gelar yang diperoleh, beberapa di antaranya adalah Terakreditasi A dan Status Unggul dari Pusat Keunggulan (SMK PK) 2022 dan 2023, Penghargaan SMK Bintang 5 dari Astra, SMK Adiwiyata tingkat provinsi dan terpilih sebagai National Showcase SMK Bisa oleh Astra internasional
SMKS Bina Bangsa meramu beberapa menu yang berbeda dengan SMK yang lainnya. Tentunya dengan mengikuti pola pembelajaran serta mengkolaborasikan antara kurikulum pemerintah, dan sinkronisasi perusahaan yang dijalankan dengan baik.
Ketua BKK sekolah sekaligus Ketua FBKK Kabupaten Malang, Thofan Virdous memaparkan rata-rata 76 persen alumni SMK tersebut direkrut kerja, bahkan 53 persen di antaranya telah direkrut sejak duduk di bangku kelas 12.
Tentu saja pada saat siswa di sekolah yang lain melaksanakan ujian semester maupun ujian sekolah, siswa SMK Bina Bangsa Dampit sudah menerima dan merasakan gajian hasil kerja. Hal itu tentunya sangat membanggakan dan menjadi peningkatan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah. Alhasil PPDB meningkat, bahkan sudah dinyatakan tutup.
Siti Maimunah juga menegaskan bahwa karena sekolah ini sudah sudah berani membuat jargon, artinya kita harus berani mengawal jargon tersebut.
“Agar tidak abal-abal, kita kawal jargon itu dengan upaya meningkatkan siswa di bidang akademik dan non akademik maupun karakter dan mentalitasnya," ujarnya
Untuk program percepatan kerja, pada jenjang kelas 10, siswa mendapatkan 100 persen pembelajaran di kelas. Sedangkan kelas 11, siswa sudah melakukan Praktik Kerja Lapangan (PKL) selama satu tahun. Tidak menutup kemungkinan, dalam praktik tersebut, mereka bisa lanjut direkrut kerja di tempat PKL.
Untuk siswa kelas 12, siswa sudah persiapan kerja, magang kerja, dan kerja. Bisa dilihat pada purnawiyata, tiap tahunnya siswa yang mengikuti terbilang sedikit, yang datang hanyalah orang tua, karena sebagian besar sudah terserap kerja di sejumlah perusahaan ternama, baik regional maupun nasional.
Artikel ini ditulis oleh Fitri Anggraeni, S.Pd, Guru SMK Bina Bangsa Dampit
Editor : A. Nugroho