Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sekolah Rakyat Minus Juru Masak, Sampai 31 Juli Kebutuhan Makan Dipenuhi lewat Katering

Bayu Mulya Putra • Rabu, 16 Juli 2025 | 16:27 WIB

 

PASTIKAN BERGIZI: Para pelajar SRMP 14 Kota Batu menyantap makan siang bersama di ruang makan, kemarin (15/7).
PASTIKAN BERGIZI: Para pelajar SRMP 14 Kota Batu menyantap makan siang bersama di ruang makan, kemarin (15/7).

MALANG KOTA - Operasional tiga Sekolah Rakyat di Malang Raya masih menyisakan sejumlah catatan. Yang pertama menyangkut kekurangan personel atau sumber daya manusia (SDM). Berikutnya terkait kebutuhan operasional para pelajar selama tinggal di asrama. 

Kekurangan SDM dan Sarana di 3 Sekolah Rakyat.
Kekurangan SDM dan Sarana di 3 Sekolah Rakyat.

Jumlah wali asuh di tiga Sekolah Rakyat belum memenuhi standar. Di ketiga tempat itu juga belum ada juru masak (selengkapnya baca grafis).

Untuk sementara, kebutuhan makan para pelajar dipenuhi lewat pemesanan di catering. Seperti dilakukan di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 14 di Kota Batu.

Sekolah yang berlokasi di UPT Panti Perlindungan dan Pelayanan Sosial Petirahan Anak (PPSPA) Bima Sakti Kota Batu itu memastikan tetap memberi tiga kali makan dalam sehari. Makan pagi pukul 06.00, siang pukul 13.00, dan malam pukul 18.00. ”Kami masih belum tahu kebutuhan ideal juru masak berapa. Tenaganya akan langsung dikirim dari pemerintah pusat,” terang Kepala SRMP 14 Kota Batu Yulianah.

Dia menambahkan, pemilihan menu yang diberikan sehari-hari sudah terjadwal oleh Kementerian Sosial (Kemensos) RI. Sehingga sekolah tidak bisa mengambil langkah dalam pemberian menu makanan yang dikonsumsi pelajar. ”Alhamdulillah, selama sehari berada di asrama hingga hari ini (kemarin), kami tidak menemukan keluhan apa pun terkait makanan maupun alergi siswa,” kata dia.

Kendati begitu, dia menyebut masih ada beberapa siswa yang enggan makan beberapa lauk. Pihaknya bakal membiasakan siswa agar menghabiskan makanan. Sebab, menu yang disediakan sudah dipertimbangkan kandungan gizinya. Mulai dari nasi, lauk, sayur, hingga buah.

Dia memastikan bahwa kebutuhan sehari-hari pelajar selama tinggal di asrama dipastikan aman. Sudah ada kelengkapan alat mandi yang diberikan saat siswa memasuki asrama. Mulai dari sabun mandi, pasta gigi, sandal, handuk, sabun mandi, dan sabun cuci. ”Nanti menyusul untuk tujuh jenis seragam, karena ini masih proses,” tambah dia.

Di tempat lain, Kepala Dinsos Kota Batu Lilik Fariha membenarkan bahwa dapur umum di SRMP 14 Kota Batu belum berfungsi optimal. Sebab, seluruh pengadaan bahan makanan hingga proses memasak masih ditangani staf yang dikirim langsung oleh Kemensos RI. Selanjutnya disalurkan melalui dinsos. ”Setiap Sekolah Rakyat akan ditugaskan satu orang untuk mengirim makanan kotak tiga kali dalam sehari,” kata dia.

Lilik menyebut, pemberian makanan kotak itu berasal dari catering. Sehingga dia tidak mengetahui alokasi anggaran untuk penyediaan makanan siswa. Kendati begitu, pemberian makanan melalui catering itu akan berlangsung hingga 31 Juli mendatang. ”Targetnya 1 Agustus sudah lengkap formasinya dan langsung ditangani masing-masing Sekolah Rakyat,” tambahnya.

Serupa dengan SRMP 14 di Kota Batu, SRMP 16 di Gedung Politeknik Kota Malang (Poltekom) juga masih memanfaatkan catering untuk memenuhi kebutuhan makan para pelajar. ”Nanti akan dilengkapi juru masak juga, agar bisa memenuhi kebutuhan makan secara internal,” terang Kepala SRMP 16 Poltekom Rida Afrilyasanti.

Selain juru masak, dia menyebut bahwa ke depan bakal ada tambahan tenaga keamanan. Selain itu juga ada rencana penambahan wali asuh. Rida menuturkan, idealnya 10 siswa ditangani satu wali asuh. Dengan total 100 murid di sekolahnya, artinya butuh 10 wali asuh. ”Di tempat kami sudah ada enam wali asuh. Kami masih menunggu (tambahan) empat wali asuh lainnya dari pemerintah pusat, belum ada jadwalnya datang kapan,” tambah dia.

Rida mengatakan, wali asuh bertugas mengurus kebutuhan murid di luar jam pelajaran. Selain itu juga menjadi penghubung antara orang tua dan anak-anak. Sebab khusus jenjang SRMP, para pelajar tidak diperbolehkan membawa HP selama di asrama. Meskipun kekurangan empat tenaga wali asuh, Rida menekankan, hal itu bukan menjadi masalah besar.

Untuk sementara waktu, wali asuh yang sudah ada bisa menangani lebih dari 10 anak. ”Tetapi kami berharap jumlahnya bisa ideal. Agar perkembangan anak bisa terpantau lebih detail,” tuturnya. Pada pekan pertama operasional, pihaknya juga masih menunggu pengiriman seragam dari Jakarta.

Yang datang baru seragam olahraga. Untuk seragam putih biru dan Pramuka masih dalam proses. ”Nanti juga ada bantuan laptop. Apakah nanti satu orang dapat satu, kami masih belum mengetahui,” imbuh mantan tenaga pendidik di SMA Negeri Taruna Nala itu.

Masih Menunggu Tambahan Seragam

Di tempat lain, Kepala Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 22 Kota Malang Rahmah Dwi Norwita Imtihana mengatakan, saat ini proses pembelajaran didukung 26 orang. Meliputi 17 guru, empat wali asuh, dan lima tenaga kependidikan pendukung seperti satpam, cleaning service, hingga operator.

Secara jumlah, SDM yang ada sebenarnya belum ideal. Salah satunya yakni wali asuh. Dengan jumlah 75 pelajar di sana, sekolah yang berlokasi di Gedung Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Jatim itu masih membutuhkan tambahan tiga sampai empat wali asuh.

Belum lagi tenaga kependidikan pendukung lainnya seperti juru masak. Meskipun jumlah SDM masih perlu ditambah, pihak sekolah tetap melakukan kolaborasi. Mulai dari guru hingga satpam. ”Kebetulan, kami semua memiliki pengalaman dalam bidang sosial, sehingga bisa saling melengkapi,” kata Wita.

Selain SDM, ada beberapa perlengkapan sekolah lain yang masih menunggu distribusi dari Kemensos RI. Di antaranya seragam sekolah, mesin cuci, buku pelajaran, dan alat tulis. Perlengkapan yang sekarang sedang dalam proses pengiriman seperti mesin cuci serta smart board.

Wita menjamin kalau seluruh kebutuhan siswa bakal dipenuhi. Setiap bulan, mereka bakal mendapat anggaran pendidikan. Besaran anggaran itu tercatat di Kemensos RI. ”Karena anak-anak dari awal kan tidak membawa uang. Saya membatasi uang yang dibawa hanya Rp 50 ribu untuk alasan keamanan,” sebut dia.

Wita menambahkan, saat ini pihaknya fokus untuk membantu seluruh siswa agar bisa beradaptasi. Dia bersyukur karena dalam dua hari, para siswa sudah saling beradaptasi. Bahkan ada siswa yang meminta tidak dipindahkan kamar tidurnya agar bisa bersama dengan teman dekatnya.

Adaptasi tersebut dilakukan melalui Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang berlangsung lima hari. Kemudian ada persiapan menjelang sekolah selama tiga bulan. Para siswa juga diajak bermain untuk mengasah kekompakan satu sama lain.

Sekretaris Dinsos Provinsi Jawa Timur Yusmanu memastikan, tenaga kependidikan maupun tenaga guru di seluruh Sekolah Rakyat akan terus dilengkapi. ”Jumlah idealnya yang tahu Kemensos. Kami tinggal menunggu tambahan saja,” ucapnya.

Yusmanu memberi contoh pada juru masak. Sekolah rakyat bakal minus juru masak sampai 31 Juli mendatang. Untuk sementara, makanan yang diberikan kepada anak-anak dipenuhi melalui catering. Selain kebutuhan di sekolah rakyat, pemerintah juga memastikan kondisi para siswa sehat. Sudah ada tes kesehatan dan tes kebugaran. Di SRMA 22 Kota Malang, kondisi semua pelajar terpantau sehat.

Plh Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dr Rina Istarowati mengaku, pihaknya masih menghimpun data mengenai kondisi kesehatan siswa di Sekolah Rakyat di Kota Malang. Baik yang berlokasi di Poltekom Malang maupun BPSDM Jatim. ”Dari pemantauan sementara tidak ada siswa yang mengalami kondisi kesehatan signifikan,” terang Rina. Hanya ada beberapa siswa yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut. Kendati demikian, dia memastikan bahwa itu tidak akan menggugurkan kesempatan mereka untuk melanjutkan pendidikan di sekolah rakyat. (ori/adk/mel/by)

 

Editor : A. Nugroho
#srmp #Sekolah Rakyat #Kemensos RI #sdm