Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Sandiwara Ringan Demi Rehat, Tim Kesehatan LDK Polinema Tetap Humanis Hadapi yang Pura-Pura Sakit

A. Nugroho • Jumat, 25 Juli 2025 | 22:05 WIB
Salah satu peserta LDK tampak diperiksa tim kesehatan, meski hanya keluhkan lelah biasa.
Salah satu peserta LDK tampak diperiksa tim kesehatan, meski hanya keluhkan lelah biasa.

 

KOTA MALANG – Latihan fisik dalam LDK Polinema 2025 memang bukan perkara mudah. Tapi, tak semua keluhan peserta murni soal kondisi medis. Di balik laporan pusing atau keram yang datang mendadak, tim kesehatan UKM Bhakti Karya Mahasiswa (BKM) kerap menemui satu-dua kasus yang ternyata hanya strategi untuk menghindari latihan.

Namun alih-alih marah atau mengusir, mereka tetap menangani dengan pendekatan humanis. Sebab menurut Maya Kamilah, yang menjadi salah satu petugas medis, semua peserta layak diperiksa tanpa prasangka.

“Kami tetap periksa. Kalau memang tidak ditemukan gejala medis, kami tetap beri saran atau istirahat sejenak. Kadang mereka hanya butuh napas,” katanya saat ditemui usai kegiatan di Dodikjur.

Kejadian ini tak sering, tapi selalu ada di setiap angkatan. Misalnya ada peserta yang mengeluh sakit perut berkali-kali di jam yang sama, atau yang mendadak pusing setiap masuk sesi fisik. Dheni Firmansyah, rekan Maya dalam tim, mengaku cukup bisa membedakan mana keluhan yang serius dan mana yang dibuat-buat.

“Tapi bukan berarti langsung kami tuduh. Kadang yang terlihat pura-pura justru sedang cemas atau takut. Jadi tetap kami dampingi, ajak ngobrol dulu,” ujarnya.

Menurutnya, menuduh peserta berbohong malah bisa menurunkan mental mereka. Karena itu, strategi tim kesehatan lebih ke arah persuasif. “Kalau dia sehat dan memang tidak ada alasan medis, kami minta tetap ikut kegiatan ringan, atau sekadar duduk di dekat barisan sambil diawasi,” lanjut Dheni.

Pendekatan seperti itu membuat peserta merasa dihargai. Bahkan beberapa di antaranya akhirnya jujur dan kembali semangat ikut kegiatan. “Ada yang bilang, ‘Maaf kak, saya capek banget’. Ya kami paham. Kadang LDK memang berat buat yang belum pernah aktivitas fisik seperti ini,” kata Maya.

Fenomena "pura-pura sakit" ini sebenarnya bukan hal baru. Dalam konteks LDK, bisa dimaklumi sebagai bentuk pelampiasan stres atau kelelahan. Tapi justru karena itulah peran tim medis menjadi penting – bukan sekadar menyembuhkan fisik, tetapi juga memahami kondisi mental peserta.

Tim medis pun tidak serta-merta menolak peserta yang datang berulang kali. Mereka bahkan mencatat siapa saja yang terlalu sering ke pos, dan mencari pola pendekatan yang lebih tepat. “Ada yang kami beri tugas bantu tim medis. Dia senang, bisa tetap aktif dan merasa berguna,” ujar Dheni.

Di akhir kegiatan, banyak peserta yang awalnya menghindari latihan justru mendekat dan berterima kasih. “Mereka bilang kalau pos medis jadi tempat paling aman buat mereka. Kami senang, berarti kami bisa memberi kenyamanan tanpa harus menghakimi,” tambah Maya. (id)

Editor : A. Nugroho
#Polinema #LDK #malang