Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

3 Sekolah Rakyat Tunggu Kiriman Laptop, Beberapa Jatah Seragam Belum Diterima Pelajar

Bayu Mulya Putra • Jumat, 15 Agustus 2025 | 16:05 WIB

 

 

ADAPTA SI LANCAR: Pelajar Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 22 menjalankan instruksi dari salah satu guru, kemarin siang (14/8).
ADAPTA SI LANCAR: Pelajar Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 22 menjalankan instruksi dari salah satu guru, kemarin siang (14/8).

MALANG KOTA - Operasional tiga sekolah rakyat di Kota Malang dan Kota Batu sudah berjalan satu bulan. Adaptasi para pelajarnya makin lancar. Begitu pula dengan proses pembelajarannya. Hanya ada beberapa kebutuhan sekolah yang belum terpenuhi.

Yang paling mendominasi yakni kebutuhan laptop dan seragam (selengkapnya baca grafis). Kepala Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 16 Kota Malang Rida Apriliyasanti menerangkan, seluruh peralatan yang belum datang ditargetkan tiba pada bulan ini. ”Yang sudah diterima anak-anak seperti baju putih biru, batik, dan seragam olahraga,” kata dia.

Update Operasional Tiga Sekolah Rakyat.
Update Operasional Tiga Sekolah Rakyat.

Untuk tenaga pendukung, sekolah rakyat yang berlokasi di Gedung Politeknik Kota Malang (Poltekom) dipastikan telah terpenuhi. Sebelumnya ada kekurangan untuk guru dan wali asuh. Beberapa waktu lalu, mereka telah menerima tambahan pegawai dari pemerintah pusat. ”Sekarang gurunya ada 12 orang, wali asuh 10 orang, dan wali asrama dua orang. Itu sudah sesuai dengan kebutuhan kami,” tambah Rida.

Pada dua bulan pertama, Rida mengatakan bahwa pembelajaran masih fokus pada materi matrikulasi. Dari hasil penilaian sementara, mayoritas siswa sekolah rakyat memiliki dasar kemampuan yang baik. ”Sekitar 80 persen siswa, matrikulasinya sudah di atas rata-rata. Tinggal 20 persen akan diberi pendampingan khusus oleh guru,” ungkap alumnus Universitas Negeri Malang (UM) itu.

Pendampingan yang diberikan berupa tambahan pembelajaran. Biasanya dilakukan saat belajar pada malam hari. ”Setelah salat Magrib dan beristirahat sebentar, mereka melakukan belajar malam. Ada yang mengerjakan PR atau tugas lain. Ada yang mendapat tambahan materi matrikulasi,” papar Rida.

Secara keseluruhan, dia menyebut bahwa pelajar di SRMP 16 Kota Malang sudah nyaman tinggal di asrama. Mereka sudah lebih mengenal teman sekelas dan teman sekamar. ”Sekarang tidak ada lagi yang minta pulang ke rumah. Karena kalau sore juga ada waktu untuk bermain layang-layang, sepak bola atau bulu tangkis,” jelas dia.

Untuk diketahui, total ada 100 pelajar di sana. Sementara di Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 22 di Jalan Kawi Kota Malang ada 75 pelajar. Kepala SRMA 22 Kota Malang Rahmah Dwi Norwita Imtihana menjelaskan, proses adaptasi masih berlangsung sampai sekarang.

Sesekali ada pelajar yang menangis karena merasa rindu dengan keluarga di rumah. ”Tapi tidak ada yang sampai ingin berhenti sekolah,” kata dia, kemarin (14/8). Untuk memperlancar adaptasi pelajar, Wita dibantu delapan wali asuh dan dua wali asrama.

Sebelumnya, SRMA 22 Kota Malang sempat kekurangan wali asuh. Semula jumlahnya hanya empat orang. Padahal, idealnya satu wali asuh mendampingi 10 siswa. Selain wali asuh, ada 18 guru termasuk Wita yang bertugas menyampaikan beragam mata pelajaran (mapel).

Seperti mapel Matematika, keagamaan, IPA, IPS, hingga bahasa. ”Namun pembelajaran yang diberikan baru sebatas matrikulasi dan pendalaman dari materi-materi yang pernah diajarkan saat SMP,” imbuh perempuan yang pernah menjadi guru Bahasa Inggris di SMA Negeri 5 Malang tersebut. Matrikulasi dan pendalaman materi diberikan tiap pagi sampai pukul 15.00.

Di samping itu, para siswa juga dibiasakan untuk disiplin. Jam bangun, beribadah, membersihkan diri, sarapan, hingga membersihkan lingkungan sudah ditentukan. Untuk kelengkapan sekolah, mereka masih menunggu beberapa kebutuhan. Seperti seragam putih abu-abu, yang kabarnya bakal dikirim hari ini (15/8).

Selain seragam, ada laptop dengan spesifikasi prosesor Core i5 yang bakal dikirim ke sana. Laptop tersebut rencananya tersedia mulai bulan depan. Laptop dengan spesifikasi itu akan mendukung pembelajaran dengan kurikulum terbaru. Termasuk materi pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA).

Beragam materi pembelajaran juga sudah disampaikan di SRMP 14 Kota Batu. Seperti Mapel Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Matematika, IPA dan Keagamaan. Namun sejauh ini masih sebatas pengenalan dasarnya, belum memasuki proses pembelajaran yang mendalam.

”Kami juga berikan materi mengenai pemahaman diri, life skill dan social skill,” kata Kepala SRMP 14 Kota Batu Yulianah. Program pembiasaan dan pendidikan karakter juga disampaikan. Seperti memberikan ruang untuk aktivitas menyalurkan hobi dan bakat siswa. Itu dilakukan berdasar hasil pemetaan talent DNA dan potensi bakat minat. ”Kalau materi matrikulasi kami belum berikan,” imbuh dia.

Yulianah menekankan pentingnya kemandirian pada anak selama berada di asrama. Seperti mencuci baju menggunakan tangan, menjadwalkan piket kebersihan lingkungan sekolah, hingga merapikan tempat tidur. Tantangannya yakni adanya anak-anak yang homesick atau ingin bertemu orang tuanya.

Namun, sesuai arahan pemerintah pusat, dia berkomitmen untuk menetapkan jadwal jenguk satu bulan sekali. Itu agar anak-anak terbiasa hidup mandiri dan tidak bergantung orang tua. Selain itu, juga ada pertimbangan biaya akomodasi, mengingat tak seluruh pelajar di sana berasal dari Kota Batu. Ada yang berasal dari Kabupaten Malang hingga Kota Kediri.

Kendati begitu, waktu kunjungan bisa diajukan sewaktu-waktu apabila ada kondisi darurat. Misalnya siswa sedang sakit dan membutuhkan orang tuanya. Maka, orang tua boleh datang dan dibawa pulang untuk beberapa waktu hingga pulih. ”Kami akan sediakan ruangan khusus, agar tidak menimbulkan kecemburuan,” papar Mantan Guru SMPN 1 Batu itu.

SRMP 14 Kota Batu juga masih menunggu beberapa tenaga tambahan dan sarana prasarana. Seperti kedatangan juru masak. Itu membuat SRMP 14 masih menggunakan catering untuk memenuhi kebutuhan makan para pelajar. Selain itu, dari total delapan seragam yang seharusnya diterima siswa, ada beberapa yang belum disalurkan.

Seperti seragam Pramuka dan almamater. Sejauh ini, para pelajar masih mengikuti pembelajaran secara konvensional sembari menunggu laptop dikirim pemerintah pusat. ”Nanti setiap siswa akan mendapat masing-masing satu buah. Namun khusus digunakan untuk belajar, tidak dibawa ke asrama,” tambah Yulianah.

Saat ini total ada 150 pelajar di sana. Jumlah itu naik dari awal pembukaan. Sebelumnya hanya ada 98 pelajar di sana. Namun beberapa waktu lalu ada tambahan 52 pelajar dari daerah lain. Seperti Kabupaten Kediri. (adk/mel/ori/by)

 

Editor : A. Nugroho
#srmp #Sekolah Rakyat #poltekom #srma