Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Disdik Kabupaten Malang Catat 3.371 Anak Drop Out, Siapkan Rp 4,9 M untuk Bansos hingga Edukasi Orang Tua

Mahmudan • Selasa, 26 Agustus 2025 | 17:23 WIB

 

BUTUH MOTIVASI: Siswa-siswi SDN Panggungrejo 4 beraktivitas di sela jam istirahat beberapa waktu lalu.
BUTUH MOTIVASI: Siswa-siswi SDN Panggungrejo 4 beraktivitas di sela jam istirahat beberapa waktu lalu.

KEPANJEN – Masih banyak Anak Tidak Sekolah (ATS) di Bumi Kanjuruhan. Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Malang, tahun ini saja tercatat 19.085 anak yang tidak sekolah. Rinciannya, 3.371 anak drop out (DO), 8.787 anak Lulus Tidak Melanjutkan (LTM) dan 6.927 anak Belum Pernah Bersekolah (BPB). Mayoritas berada di daerah-daerah pelosok. Salah satunya Sumbermanjing Wetan.

Untuk menanggulanginya, disdik menggelontor dana cukup besar. “Kami mengalokasikan anggaran Rp 4,98 miliar untuk penanganan ATS,” ujar Kepala Disdik Kabupaten Malang Suwadji kemarin (25/8).

Tentang Anak Tidak Sekolah.
Tentang Anak Tidak Sekolah.

Anggaran tersebut di antaranya dimanfaatkan untuk program kegiatan PAUD Pendidikan Masyarakat (Dikmas) sebesar Rp 1,15 miliar, penanganan ATS di kecamatan sebesar Rp 100 juta, lomba sapu bersih (saber) ATS sebesar Rp 30 juta, bantuan sosial siswa miskin Rp 2,5 miliar, dan program kegiatan SMP Rp 1,2 miliar.

Anggaran tersebut bertujuan untuk memberi dorongan kepada ATS supaya bisa kembali bersekolah, baik bagi yang sudah DO maupun LTM. Contohnya bantuan sosial siswa miskin yang diberikan sebagai pendamping Program Indonesia Pintar (PIP). “ATS itu kan rata-rata karena faktor ekonomi orang tua. Orang tuanya tidak mampu, kadang anaknya jadi membantu kerja,” ujar pejabat eselon II B Pemkab Malang itu.

Sehingga dengan diberikan bantuan sosial, diharapkan anak tersebut melanjutkan bersekolah. Namun, selain ekonomi, Suwadji mengatakan, motivasi orang tua untuk menyekolahkan anaknya juga rendah. Menurut dia, banyak orang tua yang belum memahami pentingnya pendidikan jangka panjang bagi masa depan anak mereka. “Atau sebaliknya, orang tua ingin anaknya sekolah, tapi anaknya yang tidak mau,” imbuh Suwadji.

Oleh karena itu, peran serta masyarakat, termasuk tokoh agama, tokoh masyarakat, dan organisasi sosial sangat dibutuhkan untuk mendorong anak-anak kembali ke sekolah. “Sosialisasi pentingnya pendidikan itu tidak kurang-kurangnya kami berikan. Tetapi kalau tidak ada motivasi dari anak maupun orang tuanya, tentu kami kesulitan,” pungkasnya.(yun/dan).

Editor : A. Nugroho
#Disdik kabupaten malang #Dikmas #bpb #ATS