Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

SD-SMP Insan Amanah Pastikan Bahan Fresh, Rutin Evaluasi Menu

Mahmudan • Jumat, 24 Oktober 2025 | 18:28 WIB
JAGA KUALITAS: Juru masak di dapur SD-SMP Insan Amanah menyiapkan menu makan siang untuk para siswa kemarin
JAGA KUALITAS: Juru masak di dapur SD-SMP Insan Amanah menyiapkan menu makan siang untuk para siswa kemarin

Delapan tahun memberi makan siang untuk semua siswa, tak pernah ada kasus keracunan di SD-SMP Insan Amanah. Bahan baku selalu fresh demi menjaga kualitas dan rasa.

TUJUH tukang masak berjibaku di dapur SD-SMP Insan Amanah sejak pukul 07.00. Setiap hari memasak 1.100 porsi. Proses memasak dilakukan dua kali, menyesuaikan jam istirahat siswa.

Untuk siswa SD diberi waktu istirahat pukul 11.00. Sebab siswa kelompok kecil lebih mudah lapar. Untuk itu, tukang masak mulai menyajikan lauk dan nasi untuk 600 porsi siswa SD. Bersamaan dengan itu mereka mulai memasak 300 porsi untuk siswa tingkat SMP.

Pembagiannya lebih siang yaitu pukul 12.00. “Karena murid di sini tidak suka makanan yang disajikan dalam keadaan dingin, setelah di-packing dalam ompreng (wadah) harus segera didistribusikan,” ujar Kepala SD Insan Amanah DR Suhardini Nurhayati S Pd M Pd kemarin.

Dia membatasi maksimal makanan harus dikonsumsi dua jam setelah matang. Itu sesuai saran salah satu wali murid yang berprofesi sebagai ahli gizi. Oleh karena itu, tidak pernah ada kasus keracunan makanan meski program tersebut berlangsung sejak delapan tahun lalu.

Selain itu, bahan baku yang dikirim ke sekolah juga dipastikan selalu fresh. Apalagi bahan seperti daging ayam, tahu, dan tempe harus dikirim pagi itu juga. Untuk sayur tahan lama seperti wortel dan kentang, biasanya datangnya di malam hari.

Meskipun bahannya selalu fresh dan berkualitas, siswa tidak perlu mengeluarkan biaya mahal. Untuk makan sehat, masing-masing siswa hanya dikenai Rp 150 ribu per bulan. Dengan menu beragam seperti semur daging hingga rawon atau soto. Budget per porsi, hitungannya hanya Rp 10 ribu.

Untuk memastikan kualitas makanan yang disajikan, Suhardini menugaskan dua pegawai penyecap menu. Mereka mengkurasi rasa dan tekstur makanan. “Seperti irisan daging ini, kami periksa apakah potongannya terlalu tebal, karena berpengaruh pada murid-murid kelompok kecil yang sulit makan,” lanjutnya.

Pihaknya juga sering mengadakan evaluasi. Siswa-siswi diberi kertas untuk kritik makan siang tiap bulannya. Sementara orang tua diberi kesempatan mengevaluasi makan siang tiap enam bulan sekali. “Tapi tiap pekan kami selalu mengirimkan rencana menu hingga tujuh hari ke depan,” paparnya. Dengan sistem tersebut, dia mengatakan, orang tua siswa puas, bahkan standar lidah anak mereka sudah berdasar makan siang di sekolah.(aff/dan)

Editor : A. Nugroho
#SD SMP #wadah #insan amanah #keracunan