MALANG KOTA – Antusiasme guru SMP/MTs Kota Malang untuk mengikuti Diklat Jurnalistik sangat tinggi. Jumlah peserta yang sudah mendaftar mencapai 20 orang sampai dengan kemarin (15/3). Program pelatihan yang konsisten digelar sejak 2023 lalu itu diharapkan terus memberi edukasi kepada guru dalam membuat berita secara mandiri.
Pada 2025 lalu, sebanyak 30 guru SMP dan MTs sukses menerbitkan buku berjudul Takdir Pena dan Kapur. Dilaunching langsung Wali Kota Malang Dr Ir H. Wahyu Hidayat MM.
Berbeda dengan pelaksanaan diklat sebelumnya. Redaktur Senior Jawa Pos Radar Malang Mahmudan akan memberikan edukasi pembuatan Standar Operasional Prosedur (SOP) untuk menerima tamu LSM serta wartawan bodrex.
Baca Juga: Kuota Peserta Diklat Jurnalistik SMP/MTs Tersisa 10 Guru
Direktur PT. Cita Intrans Selaras Wawan Sulthon Fauzi MPd akan membantu para guru yang ikut diklat membuat Buku Antologi. Ada 15 SMP Negeri berpartisipasi dalam acara ini. Di antaranya, SMPN 1, SMPN 2, SMPN 5, SMPN 11, SMPN 12, SMPN 17, SMPN 19, SMPN 20, SMPN 21, SMPN 22, SMPN 25, SMPN 26, SMPN 28, SMPN 29 dan SMPN 30.
Sedangkan untuk SMP swasta, ada 4 sekolah yang bersemangat untuk belajar jurnalistik. Di antaranya, SMP Insan Amanah, SMP Al-Azhar 56, SMP Corjesu, dan SMPK Sang Timur.
”Tiap tahun, SMPIA Malang selalu ikut program Diklat ini. Selain untuk menambah wawasan guru, kegiatan ini juga sebagai langkah penguatan literasi,” jelas Kepala SMP Insan Amanah Malang Sri Endah Pujiningrum SSi.
Baca Juga: Dukung Penuh Diklat Jurnalistik, Disdikbud Kota Malang Terbitkan Surat Rekomendasi
Biaya diklat jurnalistik Rp 500 ribu. Peserta berpartisipasi akan mendapatkan ilmu bermanfaat dari pemateri profesional. Menerima sertifikat, makan dan snack saat acara berlangsung. Para guru juga mendapat pendampingan pembuatan buku antologi mulai awal sampai terbit menjadi buku.
Untuk sekolah yang belum mendaftarkan diri bisa mengisi link berikut: https://bit.ly/DiklatSMP2026. Info lebih lanjut bisa menghubungi Bachtiar di nomor 082257834384.
”Semoga ke depan berita di social media sekolah bisa lebih hidup. Dan hasil karya buku antologi yang sudah dibuat peserta, bisa dijadikan contoh penguatan literasi siswa di sekolah,” kata Kepala Disdikbud Kota Malang Suwarjana SE MM. (bes/gp)
Editor : A. Nugroho