RADAR MALANG – Setiap proses pembelajaran, guru dituntut untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar menggunakan metode yang bervariatif. Kemajuan dunia pendidikan juga berdampak kepada sistem pendidikan di Indonesia. Banyak bermunculan metode pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan pemahaman belajar siswa, salah satunya adalah metode STAD.
Metode pembelajaran Student Teams Achievment Division (STAD) pertama kali dipopulerkan oleh Robert Slavin. Definisi dari metode STAD adalah suatu model pembelajaran kooperatif yang diterapkan dalam proses pembelajaran di kelas, pembelajaran menggunakan kelompok-kelompok dengan jumlah anggota kelompok 4-5 orang siswa secara heterogen. Model STAD lebih mementingkan sikap partisipasi peserta didik dalam rangka mengembangkan potensi kognitif dan afektif.
Baca Juga: Pendekatan Pembelajaran: Metode Deep Learning sebagai Kunci Kedalaman Nalar Peserta Didik
Metode pembelajaran STAD terdiri dari 5 komponen, antara lain:
- Presentasi Kelas
Merupakan komunikasai satu arah, dimana informasi disampaikan kepada audiens oleh pembicara.
- Kerja Kelompok (tim)
Tugas anggota kelompok adalah menguasai materi yang diberikan guru dan membantu teman satu kelempok untuk menguasai materi tersebut.
- Kuis
Hasil kuis digunakan sebagai nilai perkembangan individu dan disumbangkan dalam nilai kelompok.
- Skor Kemajuan Individu
Merupakan nilai dari hasil-hasil kuis yang diadakan dalam belajar kelempok atau tes cepat setelah guru menjelaskan suatu materi.
- Rekognisi Tim
Pemberian penghargaan kelompok (tim) berdasarkan pada rata-rata nilai perkembangan individu. Diambil dari nilai hasil individu yang dikelompokan dengan hasil kerja kelompok maka akan didapat nilai kelompok sehingga bisa diberikan sebuah penghargaan kelompok terbaik.
Bagi para guru, model STAD mempermudah proses pemantauan atau monitoring karena interaksi antar-siswa terjadi secara aktif. Dalam model ini, siswa yang memiliki pemahaman lebih tinggi didorong untuk membantu rekan setimnya agar seluruh anggota kelompok mencapai tingkat kompetensi yang setara.
Akan tetapi, metode STAD juga memiliki tantangan tersendiri yang perlu diantisipasi oleh tenaga pendidik. Jika guru tidak memberikan perhatian penuh, beberapa siswa berisiko menjadi pasif atau hanya mengandalkan dominasi rekan kelompoknya tanpa ada kontribusi nyata.
Oleh karena itu, peran guru sebagai fasilitator sangat krusial untuk memastikan setiap tahapan STAD berjalan sesuai jalur. Dengan pengawasan yang tepat, metode ini mampu menciptakan lingkungan belajar yang kompetitif namun tetap harmonis bagi pertumbuhan karakter siswa.
Editor : Aditya Novrian