Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Cerita Tiga Pelajar Asal Malang Torehkan Prestasi di Global Youth Summit 2026, Rela Melewatkan Momen Lebaran untuk Persiapan Lomba

Aditya Novrian • Kamis, 2 April 2026 | 16:32 WIB

BEPRESTASI: Dari kiri ke kanan, I Putu Reylan Digdaya, Aghna Nurma Faeyzadana, dan Mohamad Seno Ibrahim ketika mengikuto Global Youth Summit 2026 di Filipina pada 26-30 Maret lalu.

BEPRESTASI: Dari kiri ke kanan, I Putu Reylan Digdaya, Aghna Nurma Faeyzadana, dan Mohamad Seno Ibrahim ketika mengikuto Global Youth Summit 2026 di Filipina pada 26-30 Maret lalu.

RADAR MALANG - Deru langkah di Bandara Internasional Juanda terdengar seperti biasa malam itu. Orang-orang bergegas, sebagian mengantar, sebagian berpamitan. Namun di antara keramaian itu, tiga pelajar asal Kota Malang berdiri dengan cara yang berbeda. Di tangan mereka bukan sekadar koper, melainkan mimpi yang sudah dirawat berbulan-bulan.

Tujuan mereka jauh, Davao, Filipina. Di sanalah Global Youth Summit 2026 digelar pada 26–30 Maret lalu. Ajang yang mempertemukan puluhan pelajar dari berbagai negara Asia itu menjadi panggung bagi gagasan-gagasan muda tentang masa depan.

Mereka adalah Mohamad Seno Ibrahim dan I Putu Reylan Digdaya dari SMAN 3 Kota Malang, serta Aghna Nurma Faeyzadana dari MAN 2 Kota Malang. Tiga nama yang akhirnya pulang dengan cerita berbeda, namun berujung sama yakni prestasi.

Baca Juga: Kemendikdasmen Raih PSSI Award, Program Gala Siswa Indonesia Sukses Bina Sepak Bola Pelajar

Perjalanan mereka tidak sesederhana hasil akhirnya. Bagi Aghna, keputusan terbesar justru terjadi jauh sebelum keberangkatan. Saat sebagian besar orang bersiap menyambut Lebaran bersama keluarga, ia memilih tinggal. Rumahnya mendadak sunyi ketika keluarga mudik ke Banyuwangi. Ia tetap di Malang. Menyelesaikan sesuatu yang belum benar-benar matang.

”Saya memilih tidak ikut mudik karena harus mengejar persiapan lomba,” tuturnya.

Keputusan itu tidak berhenti di situ. Dua minggu sebelum berangkat, ia justru mengganti judul penelitiannya. Pilihan yang bagi banyak orang terasa berisiko. Namun bagi Aghna, ide baru itu terasa lebih relevan.

Ia menangkap sesuatu dari musim hujan yang sedang berlangsung. Dari situ lahir gagasan bernama HIDROECO, sistem penyaringan air berbasis elektrokimia yang memadukan teknologi Internet of Things dengan bio-electrochemical.

Sebuah reaktor filtrasi air yang dirancang untuk mengubah air kotor menjadi lebih jernih dan layak digunakan masyarakat. Waktu yang sempit membuat persiapannya berlipat. Ia tidak hanya menyusun ulang riset, tetapi juga merapikan cara bercerita. Sebab di panggung internasional, ide saja tidak cukup. Cara menyampaikan menjadi penentu.

Kejutan berikutnya datang saat kompetisi dimulai. Awalnya, ia hanya menyiapkan presentasi tiga menit untuk babak penyisihan. Namun pada hari kedua, namanya dipanggil sebagai finalis. Waktu presentasi bertambah menjadi lima menit. Materi pun harus diperluas dalam waktu singkat.

”Saya harus menambah materi lagi dalam waktu yang sangat terbatas,” ujarnya.

Dari situ, Aghna membawa pulang juara harapan ketiga. Sebuah pencapaian yang terasa lebih dalam karena perjalanan di baliknya.

Di sisi lain, Mohamad Seno Ibrahim melangkah lebih jauh. Ia meraih juara pertama melalui gagasan tentang pemulihan ekosistem laut dengan metode coral gardening. Ide tersebut menekankan pentingnya pelestarian terumbu karang, tidak hanya sebagai habitat laut, tetapi juga sebagai pelindung alami dari ancaman gelombang besar.

Bagi Seno, panggung internasional bukan yang pertama. Namun setiap kompetisi selalu menghadirkan tantangan berbeda.

Sementara itu, I Putu Reylan Digdaya menyusul dengan juara harapan kedua. Ia mengangkat inovasi energi terbarukan melalui Wave Power Plant, sebuah konsep pemanfaatan gelombang laut sebagai sumber listrik ramah lingkungan.

Tiga ide, tiga pendekatan, namun satu benang merah: kepedulian terhadap masa depan. Menariknya, perjalanan mereka tidak dimulai dari ajang ini. Mereka sudah saling mengenal sejak lama. Aghna dan Seno pernah belajar bersama sejak sekolah dasar hingga menengah pertama. Lingkar pertemanan itu kemudian bertemu kembali dalam panggung yang lebih besar.

Di balik capaian itu, ada pula harapan sederhana dari keluarga. Ayah Aghna, Sudarmaji, mengaku awalnya tidak menargetkan kemenangan.

”Yang penting anak saya berani tampil dan bisa meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya,” ujarnya.

Namun hasil berkata lain. Kerja panjang yang diisi riset, latihan presentasi, dan malam-malam yang lebih sering dihabiskan bersama data daripada istirahat, akhirnya terbayar.

Dalam kompetisi tersebut, mereka bersaing dengan lebih dari 60 finalis dari berbagai negara seperti Nepal, Filipina, Malaysia, Singapura, dan Thailand. Mereka tidak hanya membawa nama sekolah, tetapi juga identitas sebagai pelajar dari Kota Malang.

Kini perjalanan itu belum selesai. Rencana berikutnya sudah menanti. Ketiganya diproyeksikan kembali tampil di ajang serupa di Korea Selatan pada November mendatang.

Lima hari di negeri orang terasa singkat, namun cukup untuk mengubah banyak hal. Bagi mereka, kemenangan ini bukan sekadar trofi. Ia adalah penanda bahwa gagasan dari ruang kelas bisa melangkah lebih jauh bahkan hingga ke panggung dunia. (*/adn)

Editor : Aditya Novrian
#Pelajar #berita malang hari ini #prestasi #malang #pendidikan