MALANG, RADAR MALANG - Lulusan SMA kini dihadapkan pada pilihan yang cukup pelik antara menempuh gelar sarjana selama empat tahun atau mengambil kursus keahlian yang lebih singkat.
Baca Juga: Bukan Cuma LinkedIn, Ini 3 Platform Gratis untuk Portofolio Mahasiswa Baru
Kini, kebanyakan perusahaan menetapkan rekrutmen berbasis keterampilan. Menurut laporan The World Economic Forum (WEF), sekitar 81% perusahaan di dunia mengutamakan keterampilan praktis di atas gelar formal.
Dominasi Keterampilan Praktis
Kini, HRD tidak lagi hanya melihat nama universitas, melainkan bukti kompetensi nyata yang dimiliki kandidat. Data LinkedIn Talent Report 2026 memerkuat tren ini dengan menunjukkan kenaikan rekrutmen berbasis keterampilan hingga lima kali lipat.
Baca Juga: Rekomendasi Generator AI untuk Mahasiswa: Tugas dan Skripsi Lebih Ringan
Perusahaan rintisan dan sektor teknologi menjadi pionir yang menyetarakan lulusan pelatihan intensif dengan pemegang gelar sarjana untuk posisi teknis.
Keunggulan Kompetitif Kursus Bersertifikasi
Coursera melaporkan bahwa pemegang sertifikasi di bidang kecerdasan buatan (AI) memiliki peluang kerja lebih cepat. Data internal mereka menunjukkan bahwa individu dengan minimal dua micro-credential relevan memiliki daya tawar gaji yang lebih baik.
Pelatihan singkat bersertifikat itu mengisi celah yang sering tidak terjangkau oleh kurikulum universitas yang kaku.
Baca Juga: Lulusan Bahasa dan Sastra: Prospek Kerja Luas dari Copywriter
Gelar Sarjana sebagai Fondasi
Meski perusahaan dengan sistem rekrutmen berbasis keterampilan meningkat, gelar sarjana tetap berperan sebagai fondasi berpikir dan jaringan profesional jangka panjang. Ijazah perguruan tinggi masih menjadi syarat administratif utama bagi posisi manajerial dan instansi pemerintahan di Indonesia.
Gabungan antara gelar formal dan sertifikasi pelatihan merupakan profil ideal bagi rekruter. Memahami kebutuhan industri terkini membantu lulusan SMA mengambil keputasan untuk tujuan karirnya.
Editor : Aditya Novrian