MALANG KOTA-RADAR MALANG - Pemerintah Pusat mempertimbangkan penutupan program studi (Prodi) yang tak lagi relevan dengan delapan industri strategis. Prodi yang ada diharapkan mendukung perkembangan industri kesehatan, ketahanan pangan, digitalisasi, hilirisasi, pertahanan, material maju dan manufaktur, energi, serta maritim. Itu disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Prof Badri Munir Sukoco dalam Simposium Nasional Kependudukan di Bali pada 23 April lalu.
Lantas, bagaimana respons kampus-kampus di Malang terkait rencana itu? Rektor UIN Maliki Malang Prof Ilfi Nur Diana menilai, penutupan Prodi itu bukan solusi. Terutama Prodi di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN), seperti jurusan ilmu keagamaan.
Prodi itu, dilihat pihak kampus sangat penting. Itu karena UIN memandang bukan lapangan pekerjaan saja yang menjadi tujuan pendidikan. Lebih jauh, juga untuk membangun karakter bangsa melalui pendidikan.
”Apalagi saat ini dunia kerja tidak hanya melihat ijazah saja,” ucapnya. Dunia kerja lebih memilih skill yang dimiliki pelamar. Untuk itu, seharusnya ada transformasi kurikulum dan pengembangan skill mahasiswa agar sesuai dengan kebutuhan pencari kerja saat ini.
Rektor Universitas Negeri Malang (UM) Prof Hariyono menuturkan, perlu ada kajian utuh bagi perguruan tinggi untuk merespons wacana itu. Sebab, menurutnya dalam merealisasikan proses mencerdaskan kehidupan bangsa tidak semata-mata diukur kebutuhan pasar. Terdapat moral dan nilai-nilai lain yang perlu ditanamkan.
”Sementara menunggu keputusan pusat, pengembangan kapasitas belajar mahasiswa perlu ditingkatkan lagi,” ucapnya. Itu bertujuan agar pengetahuan dan keterampilan teknis yang bersifat temporer tidak menghambat pengembangan kualitas mahasiswa dalam pengembangan hard skill dan soft skill. Pembelajaran berbasis kehidupan perlu dicermati secara cerdas dan bijak untuk proses transfer ilmu dan pemanfaatannya.
Sementara itu Rektor Universitas Brawijaya (UB) Prof Widodo menuturkan, rencana penutupan Prodi itu sebagai evaluasi kebutuhan perkembangan zaman. Sebelumnya, di UB sudah melakukannya dengan menutup Prodi dan melakukan transformasi Prodi yang lebih relevan. Seperti transformasi empat fakultas di UB, yaitu Fakultas Teknologi Pangan. Fakultas Pertanian, Fakultas Peternakan, hingga Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.
”Bagian terpenting saat ini tiap Prodi harus melakukan evaluasi,” ujarnya. Secara berkala hasilnya terus dibandingkan dengan kebutuhan zaman. Dengan begitu, antara Prodi dan dunia kerja bisa sinkron dan bisa meminimalisir gap pengangguran sarjana. (aff/gp)
Tentang Penutupan Prodi Tak Relevan
- Sekjen Kemdiktisaintek Prof Badri Munir Sukoco melemparkan rencana tentang penutupan program studi (Prodi) yang tak lagi relevan dengan delapan industri strategis.
- Prodi diharapkan mendukung perkembangan industri kesehatan, ketahanan pangan, digitalisasi, hilirisasi, pertahanan, material maju dan manufaktur, energi, serta maritim.
- Prof Badri mengklaim pembukaan Prodi kampus-kampus bergantung market driven (banyak peminat)
- Pada tahun 2028 berdasar standar world bank, Indonesia sudah oversupply dokter.
- Prof Badri melihat ada sekitar 470 ribu sarjana pendidikan yang tidak terserap menjadi guru.
- Prof Badri melihat rumpun sosial humaniora 60 persen diisi keguruan
Editor : Galih R Prasetyo