Dari sapaan “Ni Hao” hingga “Annyeonghaseyo”, riuh suara mahasiswa di ruang UKM GLC Unisma membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang. Di saat kampus baru menyediakan prodi bahasa Inggris dan Arab, UKM ini justru tancap gas menyediakan akses belajar tujuh bahasa.
NAHDIATUL AFFANDIAH
RUANG UKM Global Language Center (GLC) di Unisma nyaris tak pernah sunyi. Sejak Senin hingga Kamis, ruangan itu dipenuhi lalu-lalang sekitar 150 mahasiswa yang datang bergelombang. Kata sapaan lintas bahasa bersahutan seperti ni hao dari Mandarin dan annyeonghaseyo dari Korea, menjadi pembuka komunikasi sesama anggota.
Tak berhenti ketika kelas usai, sebagian anggota justru memilih bertahan. Mereka memanfaatkan waktu untuk mengasah keberanian berbicara, saling mengoreksi, dan menertawakan kesalahan dengan ringan. Di ruang sederhana itu, proses belajar terasa cair. Lebih dari sekadar teori, tetapi juga keberanian menembus batas bahasa.
Lahir dari kebutuhan nyata, UKM GLC Unisma berangkat dari tingginya kunjungan akademik mancanegara ke kampus. Namun kala itu tak banyak mahasiswa yang terlibat aktif karena terkendala bahasa.
Dari keresahan itulah, UKM yang berfokus pada bahasa asing ini resmi berdiri pada 2024.
“Sekarang peminat UKM GLC sudah membeludak. Ternyata banyak mahasiswa yang punya minat besar mempelajari bahasa asing,” tutur Qonita, mahasiswi semester enam yang didapuk menjadi Ketua UKM GLC Unisma itu.
Lonjakan minat tersebut mendorong langkah berani. UKM GLC membuka kelas untuk tujuh bahasa sekaligus, meski kampus baru memiliki program studi yang mengajarkan dua bahasa saja, yakni Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Selebihnya, bahasa Korea, Jepang, Mandarin, Thailand, dan Turki ditopang sepenuhnya oleh semangat komunitas.
Di balik layar, perjuangan lain tak kalah menantang. Yakni mencari tutor. Para pengurus UKM GLC dan pembina harus mengandalkan jejaring kenalan, termasuk native speaker, demi menjaga kualitas pembelajaran. Tantangan ini terasa lebih berat, terutama untuk bahasa seperti Mandarin dan Korea yang minim sumber daya lokal.
Sebagian tutor berasal dari mahasiswa sendiri. Mereka yang memiliki ketertarikan mendalam sekaligus kemampuan mengajar. Seperti tutor bahasa Mandarin berasal dari program studi bahasa Inggris, namun memiliki pengalaman langsung ke Tiongkok.
“Dia sering bolak-balik ke China, jadi sudah terbiasa dan fasih,” terang mahasiswi 22 tahun itu.
Di antara tujuh bahasa, kelas bahasa Korea menjadi magnet utama. Peminatnya paling tinggi. Mencapai 40 mahasiswa. Kondisi tersebut membuat pengurus bekerja ekstra mencari pengajar yang tepat, hingga akhirnya menemukan native speaker Korea yang kerap membantu kegiatan pendidikan di Unisma.
Meski antusiasme tinggi, tantangan utama tetap sama. Yaitu keberanian berbicara. Banyak anggota yang masih canggung mempraktikkan bahasa yang dipelajari. Oleh karena itu, UKM GLC menempatkan kemampuan berbicara sebagai fokus utama latihan.
“Kalau sudah ada anggota yang mahir, mereka bisa ikut mendampingi tamu luar negeri,” papar Qonita.
Peran tersebut mulai terlihat nyata. Salah satunya saat mendampingi kunjungan dari Fukuyama Heisei University, Jepang, dalam program pertukaran budaya yang rutin digelar sejak 2024.
Tak hanya itu, UKM GLC juga mengawal kerja sama internasional dengan University of Lorraine, Prancis. Meski sementara masih dilakukan secara daring, langkah ini menjadi bagian dari upaya Unisma menuju predikat World Class University.
Ke depan, UKM GLC tak ingin berhenti di kelas informal. Mereka mulai merancang pembelajaran yang terarah hingga sertifikasi bahasa untuk Jepang, Korea, Mandarin, Thailand, dan Turki. Saat ini, sertifikasi yang tersedia terbatas pada TOAFL untuk bahasa Arab dan TOEFL untuk bahasa Inggris.
Selain itu, UKM ini juga menjadi jembatan informasi bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan studi ke luar negeri. Berbagai peluang beasiswa hingga program PPL internasional ke Taiwan, Malaysia, hingga Thailand dapat diakses melalui komunitas ini.
Namun di tengah ekspansi, evaluasi tetap menjadi pijakan. Bahasa yang minim peminat, seperti Turki, mulai dipertimbangkan untuk diganti.
“Daripada terus menambah program, kami akan kaji ulang bahasa mana yang perlu dipertahankan atau diganti,” ujar Qonita.
Langkah itu sekaligus membuka peluang bagi bahasa lain yang mulai diminati, seperti Jerman dan Prancis. Sebab, kedua dua bahasa ini perlahan mulai mencuri perhatian mahasiswa. Di ruang kecil itu, mimpi-mimpi besar terus dirawat. Satu kata asing demi satu langkah menuju dunia.(*/dan)
Editor : A. Nugroho