MALANG, RADAR MALANG - Meskipun bertujuan untuk memotivasi prestasi, sistem peringkat atau ranking di sekolah seringkali memicu tekanan psikologis bagi siswa.
Evaluasi berbasis urutan angka ini menjadi perhatian serius karena berdampak langsung pada kesehatan mental dan cara pandang siswa terhadap kemampuan intelektual mereka sendiri.
Baca Juga: Siap-Siap, Pemkot Malang Bakal Audit RTH Perumahan Lama
Label Akademik dan Pertumbuhan Mental
Pakar psikolog, Carol Dweck, menyoroti bahwa sistem peringkat berisiko menciptakan pola pikir statis pada siswa. Siswa yang berada di peringkat bawah cenderung merasa kemampuan mereka tidak dapat berkembang lagi, sehingga motivasi intrinsik untuk belajar menurun secara drastis.
Selain itu, laporan dari American Psychological Association (APA) menunjukkan adanya korelasi kuat antara persaingan akademik yang ketat dengan peningkatan stres.
Tekanan untuk mempertahankan posisi tertentu dapat meningkatkan kadar hormon kortisol yang memicu kecemasan, gangguan tidur, hingga gejala depresi pada remaja.
Perbandingan Sosial dan Harga Diri
Data dalam Journal of Educational Psychology mengungkapkan bahwa sistem peringkat sering membuat siswa mengukur harga diri mereka hanya berdasarkan pencapaian angka. Hal tersebut mengaburkan potensi unik lain siswa karena hanya berfokus pada posisi sementara.
Beberapa negara dengan sistem pendidikan maju, seperti Finlandia, mulai meninggalkan praktik peringkat individu. Langkah tersebut bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih kolaboratif dan mendukung kesejahteraan emosional siswa tanpa adanya diskriminasi angka.
Baca Juga: Peran Musik dalam Meningkatkan Kemampuan Menghafal
Fokus pada Perkembangan Individu
Perubahan pola pikir dari kompetisi menuju apresiasi proses belajar menjadi kunci dalam menjaga kesehatan mental di lingkungan sekolah.
Menekankan pencapaian pribadi terbaik jauh lebih sehat secara psikologis daripada membandingkan satu siswa dengan siswa lainnya. Pendidikan yang inklusif tidak hanya melahirkan siswa yang cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh secara emosional.
Editor : Aditya Novrian