Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Toxic Productivity: Obsesi Kerja Merusak Kesehatan Mental Mahasiswa

Salshabila Abidah Ardelia • Selasa, 5 Mei 2026 | 22:59 WIB
Toxic Productivity: Fokus pada kuantitas aktivitas, tanpa henti, dan sering kali dilakukan hanya untuk validasi sosial. (Foto: Pexels)
Toxic Productivity: Fokus pada kuantitas aktivitas, tanpa henti, dan sering kali dilakukan hanya untuk validasi sosial. (Foto: Pexels)

 MALANG, RADAR MALANG - Toxic productivity merupakan ancaman nyata bagi mahasiswa yang merasa bersalah atau cemas saat sedang beristirahat. Hal itu penting karena obsesi yang berlebihan untuk terus produktif berisiko memicu stres kronis dan menurunkan kualitas hasil belajar secara jangka panjang.

Dampak Burnout dan Kelelahan Kognitif

World Health Organization (WHO) mengategorikan burnout sebagai dampak dari stres kronis yang tidak terkelola dengan baik dalam lingkungan kerja maupun akademik. Mahasiswa yang terjebak dalam pola ini sering kali mengabaikan kebutuhan dasar seperti tidur dan makan demi menyelesaikan daftar tugas yang tidak realistis.

Baca Juga: Wali Kota Malang Wahyu Hidayat Larang Pungutan Wisuda, Sekolah Diminta Gelar Perpisahan secara Sederhana

Penambahan jam kerja setelah melewati titik jenuh justru mengakibatkan penurunan kualitas hasil secara drastis. Kelelahan kognitif membuat otak tidak lagi mampu memproses informasi secara efektif meskipun mahasiswa tetap memaksakan diri untuk belajar selama berjam-jam.

Pemicu Budaya Kompetisi

Data dari American Psychological Association (APA) menunjukkan tingkat kecemasan mahasiswa meningkat secara signifikan akibat budaya kompetisi yang memaksa mereka untuk selalu terlihat sibuk.

Media sosial turut memperparah kondisi tersebut dengan memfasilitasi perbandingan sosial yang membuat waktu luang dianggap sebagai bentuk kemalasan.

Perbedaan mendasar antara produktivitas sehat dan produktivitas toksik terletak pada ada atau tidaknya ruang untuk memulihkan energi. Produktivitas yang sehat berfokus pada efisiensi dan tujuan jelas, sementara yang toksik hanya mengejar kuantitas aktivitas tanpa memperhatikan batasan kapasitas fisik manusia.

Baca Juga: Hanya 22 Persen Lulusan SMP Masuk Sekolah Negeri

Pentingnya Batasan Diri

Penerapan metode Joy of Missing Out (JOMO) dan jadwal istirahat yang teratur menjadi solusi efektif untuk memutus rantai produktivitas yang merusak. Mahasiswa perlu menetapkan batasan yang tegas antara waktu pengerjaan tugas dan waktu pribadi guna menjaga keseimbangan kesehatan mental.

Menyadari bahwa istirahat adalah bagian dari proses kerja merupakan langkah awal menuju performa akademik yang berkelanjutan. Kualitas karya yang dihasilkan mahasiswa sangat bergantung pada kondisi kebugaran fisik dan kesiapan mental yang terjaga dengan baik.

Editor : Aditya Novrian
#burnout #toxic productivity #mental health #kesehatan mental