Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

FKG UB Komitmen Wujudkan Smart Green Campus

Biyan Mudzaky Hanindito • Kamis, 21 Mei 2026 | 16:48 WIB
PENGELOLAAN SAMPAH PLASTIK: FKG UB sediakan tempat membuang sampah botol plastik
PENGELOLAAN SAMPAH PLASTIK: FKG UB sediakan tempat membuang sampah botol plastik

 

MALANG KOTA - Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya mulai memperkuat komitmen mewujudkan konsep Smart Green Campus (SGC). Sejumlah inovasi mulai diterapkan, mulai penyediaan water station di setiap lantai, digitalisasi administrasi dan penilaian praktikum untuk mengurangi penggunaan kertas. Hingga sistem pemilahan sampah organik, anorganik, dan limbah B3.

Dari lima indikator utama SGC, FKG UB memfokuskan pengembangan pada tiga sektor prioritas, yaitu pengelolaan limbah (waste), pengelolaan air (water), dan penataan infrastruktur hijau (setting and infrastructure). Sebagai informasi, program bertujuan untuk mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) Good Health and Wellbeing (SDG 3), Quality Education (SDG 4), serta Partnerships for the Goals (SDG17) 

SDGs merupakan agenda pembangunan berkelanjutan global yang dicanangkan United Nations untuk menciptakan keseimbangan antara pembangunan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan sosial hingga tahun 2030. Di lingkungan perguruan tinggi, konsep itu diterapkan melalui pengembangan kampus ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Wakil Dekan III FKG UB drg. Sinta Candra Wardani, M.Biomed mengatakan, langkah tersebut sekaligus mendukung program Green Campus yang mulai dijalankan secara bertahap tahun ini. “Sekarang mulai kami jalankan secara perlahan. Harapannya tahun ini program-program dasarnya sudah terlaksana semua,” ujarnya.

Salah satu fokus utama berada pada pengelolaan sampah. FKG UB kini mulai menerapkan sistem pemilahan sampah organik, anorganik, dan limbah B3 dari hulu. Yakni dengan menempatkan tempat sampah terpisah di sejumlah titik gedung. 

Menurut drg. Sinta, sebelumnya pengelolaan sampah masih dilakukan secara umum. Kini, kampus mulai menyusun sistem yang lebih terukur, termasuk pencatatan volume sampah harian. Nantinya, sampah anorganik akan terhubung dengan sistem pengelolaan terpusat di lingkungan UB. “Ke depan perlu ada data volume sampah per hari. Jadi programnya bisa terukur dan dievaluasi,” katanya.

Untuk mengurangi sampah botol plastik FKG UB juga mulai merancang semacam bank sampah terpusat di area dekat kantin. Sehingga sampah yang masih memiliki nilai itu bisa dimanfaatkan kembali. 

Tak hanya itu, budaya pengurangan sampah plastik juga mulai diperkuat. Kampus menggalakkan penggunaan tumbler bagi dosen, tenaga kependidikan, maupun mahasiswa. Imbauan membawa tumbler bahkan mulai diterapkan dalam kegiatan rapat dan acara internal fakultas. Program itu bernama Tumbler Day.

Mahasiswa juga tak perlu bingung untuk mengisi ulang air minum. Sebab, sebagai pendukung program FKG UB telah menyediakan water station di setiap lantai gedung. Keberadaan fasilitas itu diharapkan mampu menekan penggunaan botol plastik sekali pakai.


Lalu, program pengolahan sampah organik juga mulai dikembangkan melalui penyediaan komposter. “Tampat komposter sudah datang. Nanti sampah organik akan diarahkan ke sana, kita juga akan membuat 4 titik bio pori,” tambahnya.


Ketua program SGC-SDGs FKG UB drg. Dwi Rahmawati, Sp.Ort menambahkan, edukasi menjadi bagian penting dalam keberhasilan program Green Campus. Sosialisasi dilakukan melalui media sosial, pemasangan stiker edukasi, hingga kampanye hemat air dan pengurangan sampah plastik di area kampus. “Kami terus mengingatkan sivitas akademika untuk membawa tumbler sendiri dan menggunakan air secukupnya,” jelasnya.

Di sektor infrastruktur, FKG UB juga mulai memperkuat konsep ruang terbuka hijau. Pengembangan taman, vertical garden, hingga wacana green rooftop menjadi bagian dari rencana pengembangan kampus berkelanjutan.

Area taman di sekitar fakultas rencananya akan diperluas dan diperindah untuk meningkatkan rasio ruang terbuka hijau serta area resapan air. Sejumlah titik ruang duduk terbuka juga akan ditambah agar lingkungan kampus menjadi lebih nyaman dan ramah lingkungan. “Konsepnya bertahap. Kami ingin membangun lingkungan kampus yang hijau, nyaman, dan berkelanjutan,” ujar drg Dwi.


Saat ini, FKG UB juga telah menjalin kerja sama pengelolaan limbah B3 dengan pihak ketiga. Program-program tersebut nantinya akan menjadi bagian dari pelaporan SGC fakultas pada pertengahan tahun ini.

Melalui berbagai program yang mulai dijalankan, FKG UB menargetkan implementasi konsep Green Campus dapat terealisasi secara menyeluruh pada tahun ini. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan budaya ramah lingkungan, pengelolaan sampah yang terukur, penyediaan fasilitas pendukung, hingga pengembangan ruang terbuka hijau secara bertahap di lingkungan fakultas.(zal/*)

Editor : Mahmudan
#malang hari ini #universitas brawijaya malang #Pendidikan Malang