MALANG, RADAR MALANG - Sepak bola Indonesia selama ini sering membicarakan soal teknik, taktik, fisik, hingga kualitas kompetisi. Namun ada satu hal yang sering terlupakan dalam pembinaan pemain muda: kesehatan mental dan ketangguhan psikologis mereka.
Padahal, perjalanan seorang pemain sepakbola muda tidak selalu dipenuhi sorak sorai kemenangan. Di balik mimpi menjadi pemain profesional, ada tekanan yang tidak ringan.
Mereka harus menjalani jadwal latihan dan bertanding yang ketat setiap minggunya. Bersaing memperebutkan tempat di tim utama. Menghadapi tuntutan pelatih dan klub. Juga beradaptasi dengan kehidupan remaja dan tantangan sebagai pelajar.
Ketidakpastian masa depan karier juga dapat menghantui, karena bagaimanapun, terjun ke sepakbola profesional juga merupakan kesempatan yang terbatas.
Dalam situasi seperti ini, kemampuan untuk bertahan, bangkit, dan tetap fokus ketika menghadapi kesulitan menjadi modal yang sangat penting.
Mencoba memahami mental pesepakbola muda sekaligus menjawab pertanyaan besar, "mengapa tim sepakbola muda kita berprestasi lebih bagus dari tim senior?" Tim peneliti Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang (FIK UM) mencoba melakukan penelitian mendalam.
Penelitian ini dilakukan terhadap 461 pemain akademi sepak bola semi profesional Indonesia yang berlaga di liga pemain usia muda atau disebut Liga Elite Professional Academy (EPA).
Dipimpin Dr Kurniati Rahayuni yang juga merupakan alumni University of Birmingham - Inggris, mereka melakukan penelitian ke tim-tim yang berkompetisi di Liga EPA, memberikan kuesioner kepada para pemain U-16, U-19 dan U-20.
Melalui pendanaan LPDP WCU EQUITY, penelitian ini juga mendatangkan postdoctoral fellow Dr Sahen Gupta, psikolog olahraga dan ahli resiliensi University of Portsmouth – Inggris.
Dr Gupta sendiri juga banyak berbagi dengan para mahasiswa dalam kegiatan kuliah tamu di Prodi Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) mengenai pentingnya resiliensi dalam olahraga.
Selain memberikan kontribusi penting pada dunia sepakbola Indonesia, penelitian ini juga diharapkan memberikan kontribusi pada Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera), SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), dan SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan).
Melalui riset, penelitian ini menyumbang pemahaman mendalam mengenai hubungan antara kesehatan mental, resiliensi, hingga adaptasi olahragawan Indonesia. Hal ini diharapkan akan menunjang kualitas hidup mereka di kemudian hari (SDG 3). Khususnya para pemain muda yang masih menempuh pendidikan sekolah menengah agar mampu menyeimbangkan prestasi sepakbola dan akademiknya (SDG 4). Tak hanya itu, kerja sama dengan peneliti luar ini juga dapat mendukung jejaring kemitraan dalam pengembangan keilmuan olahraga.
Dalam penelitian ini, kuesioner yang diberikan kepada pemain meliputi kuesioner ketahanan mental (mental toughness), kuesioner stress psikologis, serta resiliensi.
Resiliensi menjadi sebuah data penting dalam penelitian ini karena menggambarkan keterampilan psikologis untuk beradaptasi dengan beragam kesulitan yang terkait dengan olahraga, termasuk bangkit dari kegagalan dan belajar dari pengalaman-pengalaman yang mengecewakan.
Sejak Desember 2024 hingga Maret 2026, anggota tim peneliti melakukan penelitian dari lapangan ke lapangan, di mana pertandingan Liga EPA diadakan. Termasuk memberikan kuesioner kepada para pemain muda untuk memahami aspek-aspek psikologis mereka.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemain yang memiliki resiliensi lebih tinggi cenderung memiliki ketangguhan mental yang lebih baik. Mereka juga cenderung mengalami tekanan psikologis yang lebih rendah. Dengan kata lain, resiliensi atau kemampuan untuk beradaptasi dengan keadaan yang menantang, bangkit menghadapi kesulitan, dapat membantu pemain untuk tetap kuat ketika menghadapi tekanan dalam proses latihan maupun pertandingan.
Temuan ini seharusnya menjadi perhatian serius bagi pembinaan sepak bola Indonesia. Sebab dalam sepak bola modern, kegagalan adalah bagian dari kehidupan sehari-hari seorang pemain; dan para pemain muda harus mempelajari kecakapan-kecakapan mental yang sesuai untuk memiliki resiliensi. Resiliensi ini akan membuat mereka lebih “tahan stres”, lebih mudah menyesuaikan diri terhadap tekanan dan kondisi-kondisi menantang. Dengan berbagai kemampuan itu, performa atlet muda di lapangan bisa semakin meningkat.
Namun hasil penelitian juga menunjukkan isu-isu lain yang juga serius. Sekitar 70 persen pemain merasakan tekanan psikologis yang sangat tinggi dalam pertandingan dan belum menunjukkan relisiensi yang tinggi ketika menghadapi kegagalan atau pengalaman mengecewakan. Namun hal ini juga dapat dipahami mempertimbangkan kondisi lingkungan dalam pembinaan sepakbola muda Indonesia.
Seorang pemain muda bisa kehilangan posisi inti hanya karena satu pertandingan buruk, kehilangan kontrol emosi, dan mengalami keputusasaan berkepanjangan hanya karena kekalahan, dan menjadi sasaran kritik dan caci maki fans maupun internal tim bila permainan tak sesuai keinginan. Hal ini juga bisa mengarah ke tindakan agresif yang mengancam karier masa depan. Seperti kasus kekerasan oleh pemain Liga EPA yang terjadi pada beberapa bulan lalu. Kemampuan untuk bangkit, atau resiliensi, menjadi pembeda antara pemain yang terus berkembang dan pemain yang akhirnya stuck, frustasi, dan menyerah.
Menariknya, penelitian tersebut juga menemukan bahwa terdapat perbedaan ketangguhan mental berdasarkan lokasi akademi. Pemain yang berasal dari akademi di luar Pulau Jawa menunjukkan skor ketangguhan mental yang lebih tinggi dibanding beberapa akademi di Jawa. Meskipun masih terdapat berbagai keterbatasan dalam penelitian ini antara lain jumlah akademi luar pulau Jawa jauh lebih sedikit, temuan ini membuka ruang diskusi yang menarik mengenai bagaimana lingkungan sosial, budaya, pengalaman hidup, dan tantangan keseharian turut membentuk karakter seorang atlet muda.
Artinya, membentuk pemain yang tangguh tidak cukup hanya mengandalkan keterampilan teknik dan taktik, tetapi pengalaman hidup dan lingkungan psikososial mereka juga dapat membentuk karakter bertanding.
Kenyataannya aspek psikologis masih sering menjadi bagian yang terlupakan dalam pembinaan sepak bola Indonesia. Banyak akademi masih menempatkan latihan mental sebagai pelengkap, sementara fokus utama tetap diberikan pada teknik, taktik, dan kondisi fisik. Materi psikologi olahraga memang menjadi salah satu materi wajib dalam lisensi pelatih sepakbola, namun porsinya masih sangat sedikit. Padahal kemampuan mengelola emosi, mempertahankan fokus, menghadapi tekanan, membangun kepercayaan diri, serta bangkit dari kegagalan adalah keterampilan psikologis yang juga dapat dilatih.
Sepak bola dunia telah lama memahami hal ini. Banyak akademi elite di Eropa memasukkan pelatihan keterampilan psikologis sebagai bagian dari kurikulum pengembangan pemain. Psikolog olahraga telah menjadi bagian dari tim, bekerja bersama pelatih untuk membantu atlet mengelola stres, meningkatkan fokus, membangun kepercayaan diri, dan mengembangkan kemampuan regulasi emosi. Namun di Indonesia, masih sangat sedikit tim sepakbola yang melibatkan psikolog olahraab sebagai bagian dari tim, maupun bagian dari pembinaan dalam sejumlah akademi grassroot.
Indonesia sebenarnya memiliki banyak talenta muda yang menjanjikan. Namun talenta saja tidak cukup untuk membawa seorang pemain mencapai level tertinggi. Dibutuhkan lingkungan pembinaan yang membantu mereka berkembang tidak hanya sebagai atlet, tetapi juga sebagai manusia yang matang secara emosional. Karena pada akhirnya, perjalanan menjadi pesepak bola profesional bukan hanya tentang siapa yang memiliki teknik terbaik atau fisik terkuat.
Seperti dalam kehidupan, masa depan dalam sepak bola sering kali ditentukan bukan hanya oleh bakat, tetapi oleh kemampuan untuk tetap berdiri tegak ketika keadaan sedang tidak berpihak. (*)
Editor : A. Nugroho