Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Perlu Kajian Mendalam sebelum Menutup Prodi, Tak Boleh Hanya

Nahdiatul Affandiah • Senin, 22 Juni 2026 | 15:33 WIB

 

BERLANGSUNG SUKSES: Jajaran pakar dari beragam latar belakang melakukan review kurikulum di enam Prodi FIA UB, pada Rabu, 17 Juni lalu. FOTO: Nahdiatul Affandiah/Radar Malang
BERLANGSUNG SUKSES: Jajaran pakar dari beragam latar belakang melakukan review kurikulum di enam Prodi FIA UB, pada Rabu, 17 Juni lalu. FOTO: Nahdiatul Affandiah/Radar Malang

 MALANG KOTA-RADAR MALANG - Wacana penutupan program studi (Prodi) yang tak lagi relevan dengan industri mulai terjadi di ranah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Sepanjang tahun 2026, sudah ada 122 Prodi yang ditutup. Mayoritas penutupan Prodi itu berasal dari usulan perguruan tinggi.

 Berdasar informasi yang digali wartawan koran ini, Prodi yang ditutup seperti D3 Kebidanan, D3 Manajemen Informatika, hingga S1 Matematika. Sebagian ditutup karena jumlah mahasiswa yang terus menurun. Selebihnya diganti dengan program baru yang memiliki prospek lebih luas di dunia kerja.

 Dr Lina Miftahul Jannah S Sos M Si memperingatkan petinggi dan dosen di Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (UB) terkait potensi penutupan Prodi administrasi publik. Dosen asal Universitas Indonesia (UI) itu menyoroti ancaman penutupan Prodi karena adanya stagnasi dalam substansi pembelajaran. ”Jadi bukan karena peran ilmunya yang hilang di masyarakat, tapi substansi pembelajaran yang kurang di-update,” ujarnya.

 Untuk itu, pekan lalu FIA UB mengadakan Market Signal Departemen Publik FIA UB. Tujuannya untuk mengevaluasi dan memutakhirkan kurikulum akademik yang digunakan dosen dan mahasiswa. Mulai substansi kurikulum program sarjana, magister, hingga doctoral.

 Senada dengan Lina, Kepala Pusat Pembinaan, Pendidikan, dan Pelatihan Sumber Daya Manusia Perancangan Pembangunan Badan Perencanaan Nasional (Bappenas) Wignyo Adiyoso SSos MA PhD menuturkan, tak perlu tergesa-gesa dalam melakukan penutupan Prodi. Apalagi saat indikatornya hanya sebatas kebutuhan industri. Sebab tak semua ilmu didesain untuk dipakai di bidang itu saja.

 ”Lebih baik Prodi-Prodi yang dianggap tak relevan itu dikaji ulang,” ujar Wignyo. Menyesuaikan peta kompetensi nasional yang sudah disusun Bappenas menuju Indonesia Emas 2045. Terutama untuk perbaikan sumber daya manusia yang dituntut menguasai soft skills dan hard skills sekaligus. (aff/gp)

Editor : Galih R Prasetyo
#penutupan prodi #kebutuhan industri #kampus di malang #pendidikan