MALANG – Tahun ini, Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB) berusia 17 tahun. Peringatan Hari Jadi di Kampus Vokasi UB Dieng kemarin (30/6) menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang vokasi sejak awal berdiri hingga rencana besar pengembangan kampus di Kepanjen, Kabupaten Malang.
Para pendiri Vokasi UB hadir dalam kesempatan tersebut. Mulai dari mantan kepala program hingga dekan vokasi UB sebelumnya. Panitia juga menghadirkan Ustad Rifky Ja'far Thalib untuk memberikan tausiyah dan doa penutup pada acara tersebut.
Dekan Vokasi UB M. Kholid Mawardi mengatakan, fakultas vokasi UB memasuki fase pertumbuhan serta penguatan sistem. Oleh karena itu, ia memberikan arahan kepada jajaran civitas akademik untuk fokus mengembangkan vokasi.
“Terus mengembangkan jejaring, termasuk kerja sama internasional,” ujarnya.
Dia mengidentifikasi dua unsur utama dalam pengembangan fakultas vokasi, yaitu kepemimpinan dan perubahan. Salah satu perubahan yang sedang dijalankan ialah pengembangan vokasi UB di Kepanjen.
Dalam kegiatan itu juga disampaikan gambaran terkini perkembangan pembangunan kampus vokasi UB di Kepanjen. Pembangunan gedung ditargetkan rampung dan siap dihuni pada tahun depan. Hal itu menandai babak baru bagi fakultas vokasi UB untuk memiliki kampus mandiri yang representatif di kawasan Kabupaten Malang.
Dia berpesan agar seluruh civitas tidak berkecil hati menghadapi masa transisi tersebut, sembari terus mendorong pengembangan SDM tenaga kependidikan melalui berbagai pelatihan. Kholid juga memberikan apresiasi kepada para dosen yang tengah berjuang menyelesaikan studinya.
Sementara itu, Founding Father Vokasi UB Prof Dr Ir Mochammad Munir MS mengatakan, kelahiran pendidikan vokasi UB tidak berjalan mulus. Gagasan muncul saat dirinya masih aktif di lingkungan kementerian, sehingga terinspirasi visi sistem pendidikan tinggi yang membagi tiga jalur pendidikan, akademik, profesi, dan vokasi. Saat ide diusulkan untuk diterapkan di UB, lanjutnya, banyak pihak internal yang terang-terangan menolak.
”Mereka beralasan penyelenggaraan pendidikan vokasi bukan ranah universitas,” katanya.
Meski demikian, proposal tetap diperjuangkan hingga akhirnya disetujui oleh rektor. Profesor Munir menekankan pentingnya semangat pantang menyerah dalam merintis sesuatu yang baru, sembari mencontohkan negara seperti Jerman yang sudah lama menjadikan pendidikan vokasi berbasis praktik sebagai hal lumrah.
Ia juga menyinggung Akademi Militer (Akmil) sebagai contoh pendidikan vokasi yang sepenuhnya berorientasi pada praktik. Tantangan terbesar saat ini, menurutnya, adalah bagaimana para dosen vokasi UB terus berupaya menarik minat masyarakat untuk memilih jalur pendidikan vokasi.(zal/dan)
Editor : Mahmudan