KEPANJEN - Sebanyak 1.000 pelajar mendapatkan buku rekening tabungan dari Pemkab Malang. Pembagian secara simbolis dilaksanakan di Pendapa Agung Kabupaten Malang kemarin (30/6). Pembagian buku rekening tersebut merupakan program Satu Rekening Satu Pelajar (Kejar).
“Melalui pembagian 1.000 rekening baru ini, kami mengedukasi anak-anak agar sejak kecil terbiasa menyisihkan sebagian uang saku, bukan dihabiskan,” ujar Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang Farid Faletehan di sela pembagian rekening kemarin.
Dia mengatakan, kebiasaan menabung secara konvensional dalam bentuk uang tunai memang sudah banyak diterapkan. Namun dengan memiliki rekening, anak-anak diharapkan lebih bertanggung jawab dengan keuangannya.
Kegiatan tersebut sekaligus untuk meningkatkan rapor inklusi keuangan daerah.
“Sampai saat ini, akumulasi kepemilikan rekening Kejar di wilayah Kabupaten Malang ada 568.527 rekening, dengan total saldo mengendap mencapai Rp 187,6 miliar,” imbuhnya.
Namun, dia melanjutkan, pembagian rekening baru memiliki beberapa tantangan. Utamanya di daerah-daerah terpencil. Oleh karena itu, pihaknya berharap, petugas perbankan tetap datang menjemput setoran tunai para siswa. Namun penginputan mutasi saldo langsung diselesaikan di tempat menggunakan aplikasi mobile banking dan perangkat digital portabel.
Sementara itu, pihaknya telah menetapkan limitasi ketat pada batas nominal transaksi harian tabungan pelajar untuk mencegah perilaku konsumtif. Setelah para siswa menginjak usia 17 tahun dan memiliki KTP, rekening pelajar tersebut akan berpindah menjadi rekening umum dewasa untuk mendukung kebutuhan masa depan mereka.
Terpisah, Bupati Malang H M. Sanusi menyampaikan, literasi dan inklusi keuangan harus ditanamkan sejak usia dini. Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Termasuk semakin mudahnya akses terhadap berbagai layanan keuangan dan transaksi digital.
“Oleh karena itu, mereka perlu dibekali kemampuan mengelola keuangan sejak dini agar mampu membedakan kebutuhan, keinginan, serta membangun kebiasaan menabung untuk perencanaan masa depan,” kata politisi PDI Perjuangan itu.
Dia menegaskan, pendidikan finansial bukan hanya mengajarkan bagaimana memperoleh uang. Melainkan juga cara mengelola, menggunakan, dan merencanakan keuangan secara bijaksana.
“Keberadaan rekening pelajar ini bukan sekadar sarana menabung, tetapi juga menjadi media edukasi agar siswa terbiasa mengelola keuangan secara terencana sejak usia sekolah,” pungkasnya. (yun/dan).
Editor : Mahmudan