Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

FIB UB Dorong Brawijaya Corpora Project Jadi Fondasi Korpus Budaya Multimodal Jawa Timur

A. Nugroho • Sabtu, 18 Juli 2026 | 11:38 WIB
SEMANGAT: Dekan FIB UB bersama Tim Brawijaya Corpora Project.
SEMANGAT: Dekan FIB UB bersama Tim Brawijaya Corpora Project.

MALANG, RADAR MALANG - Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Brawijaya (UB) menyelenggarakan Workshop Pengembangan Brawijaya Corpora Project (BCP) Menuju Korpus Budaya Multimodal, Jumat (17/7). Kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat BCP sebagai infrastruktur digital yang mengintegrasikan data bahasa, budaya, dan multimedia guna mendukung penelitian sekaligus pelestarian kebudayaan Jawa Timur.

Memasuki tahun kedua pengembangannya, BCP tidak lagi diarahkan hanya sebagai tempat penyimpanan dokumentasi budaya. Proyek ini dipersiapkan menjadi sebuah korpus budaya digital yang memiliki sistem pengelolaan data terstruktur, dapat ditelusuri, serta memenuhi standar akademik dan teknis yang memungkinkan pemanfaatannya oleh peneliti, mahasiswa, pendidik, komunitas budaya, dan masyarakat umum.

Pengembangan tersebut sejalan dengan komitmen FIB UB dalam menerjemahkan gagasan Digital Humanities ke dalam program yang konkret. Melalui pendekatan ini, kajian humaniora tidak hanya disajikan dalam bentuk teks atau publikasi konvensional, tetapi juga dikembangkan melalui pemanfaatan teknologi digital untuk mendokumentasikan, mengolah, menganalisis, dan menyebarluaskan pengetahuan mengenai kebudayaan.

INTERAKTIF: Project Leader Brawijaya Corpora Project, Wahyu Widodo saat memberi pemaparan.
INTERAKTIF: Project Leader Brawijaya Corpora Project, Wahyu Widodo saat memberi pemaparan.

 

Berbeda dengan korpus bahasa pada umumnya yang berfokus pada kumpulan data kebahasaan, BCP dikembangkan sebagai korpus budaya multimodal. Data yang dihimpun tidak terbatas pada kata, istilah, atau teks, tetapi juga meliputi foto, rekaman audio, video, dokumentasi pertunjukan, objek budaya, arsitektur tradisional, hingga model tiga dimensi atau 3D.

Integrasi berbagai jenis data tersebut memungkinkan suatu unsur budaya dipahami secara lebih utuh. Sebuah istilah budaya, misalnya, tidak hanya ditampilkan dalam bentuk definisi, tetapi dapat dilengkapi dengan rujukan akademik, konteks penggunaan, foto objek, pelafalan, rekaman kegiatan, video pertunjukan, dan visualisasi tiga dimensi. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya membaca informasi mengenai suatu budaya, tetapi juga dapat melihat, mendengar, dan memahami konteks yang melingkupinya.


Project Leader Brawijaya Corpora Project, Wahyu Widodo, menjelaskan bahwa workshop ini diselenggarakan setelah tim melakukan monitoring, evaluasi, dan refleksi terhadap pelaksanaan BCP pada tahun pertama. Evaluasi tersebut menunjukkan bahwa fondasi yang telah terbentuk masih perlu diperkuat agar BCP berkembang menjadi sistem yang stabil, rapi, dan dapat digunakan dalam jangka panjang.

“Pada tahun kedua ini, kami memulai dengan semangat menata fundamental. Hal-hal yang sangat mendasar harus dibenahi terlebih dahulu agar sistem yang dibangun menjadi stabil dan memiliki prosedur kerja yang jelas untuk pengembangan selanjutnya,” ujar Wahyu.

TERSTRUKTUR: Pemaparan Materi oleh Syarifuddin dari Museum Panji Malang.
TERSTRUKTUR: Pemaparan Materi oleh Syarifuddin dari Museum Panji Malang.

 

Pada tahap pertama, tim BCP telah mengembangkan dokumentasi pada dua kelompok budaya, yaitu subkultur Tengger dan seni pertunjukan Reog. Pengembangan tersebut menghasilkan fondasi awal berupa platform digital, glosarium budaya, dokumentasi foto dan video, model tiga dimensi, serta sistem informasi budaya yang dapat diakses secara interaktif.
Meskipun demikian, hasil evaluasi menemukan sejumlah aspek yang perlu disempurnakan, terutama kualitas data leksikal, ketepatan rujukan, konsistensi metadata, serta mutu dokumentasi foto, video, dan model 3D.

Temuan tersebut kemudian menjadi dasar pelaksanaan workshop yang secara khusus melibatkan tim internal BCP, terutama tim penambangan dan pengolahan data serta tim multimedia.

Tim penambangan data bertugas melakukan penelusuran, verifikasi, dan pendalaman terhadap setiap data yang akan dimasukkan ke dalam korpus. Setiap kata, istilah, objek, dan praktik budaya perlu dihubungkan dengan konteks serta sumber rujukan yang dapat dipertanggungjawabkan. Proses tersebut diperlukan agar data yang disajikan tidak berhenti sebagai informasi populer, tetapi memiliki landasan akademik yang kuat.
Sementara itu, tim multimedia berfokus pada peningkatan kualitas dokumentasi foto, audio, video, dan model 3D.

OPTIMISTIS: Dekan FIB UB, Sahiruddin, S.S., M.A., Ph.D.
OPTIMISTIS: Dekan FIB UB, Sahiruddin, S.S., M.A., Ph.D.

 

Keseragaman teknik pengambilan gambar, kelengkapan sudut dokumentasi, kualitas visual, serta keterhubungan antara data multimedia dan deskripsi budaya menjadi bagian penting yang dibahas dalam workshop.

“Tujuan utamanya adalah agar kami memiliki prosedur internal yang baik. Setiap data harus ditangani secara serius, dicari referensinya, dan didokumentasikan dengan standar yang jelas. Demikian pula dengan multimedia, harus diolah dengan baik agar platform BCP ke depan dapat menjadi rujukan, termasuk pada tingkat internasional,” jelas Wahyu.

Workshop mengangkat dua tema utama, yakni Peningkatan Kualitas Penambangan dan Pengolahan Data serta Peningkatan Kualitas Dokumentasi Multimedia dan Produksi Model 3D. Kedua tema tersebut dirancang untuk menjembatani aspek akademik dan teknis dalam pengembangan korpus budaya.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber dengan kepakaran yang saling melengkapi. Syarifuddin dari Museum Panji Malang membahas standar dokumentasi multimedia, digitalisasi warisan budaya, serta penerapan dokumentasi objek budaya dalam pengelolaan museum. Perspektif tersebut diharapkan dapat membantu tim menerjemahkan konsep akademik ke dalam praktik dokumentasi dan penyajian budaya yang mudah dipahami masyarakat.
Sementara itu, Miguel Escobar Varela dari National University of Singapore (NUS) hadir sebagai keynote speaker. Ia memberikan perspektif internasional mengenai pengembangan korpus budaya multimodal, pengelolaan objek kebudayaan dalam ekosistem digital, serta strategi membangun platform yang memenuhi standar akademik internasional.
Kehadiran pakar dari dalam dan luar negeri juga menjadi bagian dari upaya FIB UB membuka ruang kolaborasi internasional dalam pengembangan Digital Humanities. Pertukaran pengetahuan tersebut diperlukan agar BCP tidak hanya relevan dalam konteks lokal, tetapi juga memiliki struktur data, desain, dan mekanisme pengelolaan yang dapat diterima oleh komunitas akademik global.

Dekan FIB UB, Sahiruddin, S.S., M.A., Ph.D., menyampaikan bahwa pengembangan BCP merupakan bagian dari upaya FIB UB membawa kekayaan budaya lokal ke tingkat internasional. Proyek yang didukung melalui program Globalizing UB tersebut diharapkan mampu menghimpun berbagai produk budaya ke dalam satu sistem digital yang dapat menjadi ruang belajar bersama mengenai keragaman budaya Indonesia.
“Fakultas Ilmu Budaya memiliki kewajiban untuk membawa budaya lokal ke tingkat internasional. Melalui sistem yang dibangun dalam Brawijaya Corpora Project, berbagai produk budaya dapat dihimpun dan dipelajari oleh masyarakat. Harapannya, BCP dapat menjadi salah satu rujukan ketika masyarakat ingin mempelajari budaya yang ada di Indonesia,” ujar Sahiruddin.

Menurutnya, workshop ini memberikan manfaat besar bagi dosen dan mahasiswa karena menjadi ruang belajar bersama untuk mendesain korpus budaya yang lebih terstruktur dan memenuhi standar internasional. Penguatan fondasi menjadi tahapan penting sebelum pengembangan BCP melibatkan lebih banyak pemerintah daerah, komunitas budaya, museum, dan lembaga lainnya.


“Pada tahap ini, tim akademik sedang memperkuat hal-hal mendasar, mulai dari desain, penambangan data, dokumentasi, hingga standar pengelolaannya. Ketika fundamentalnya sudah kuat dan sistemnya telah terbentuk dengan baik, ruang kolaborasi dapat diperluas ke berbagai daerah dan pihak lainnya,” jelasnya.

Sahiruddin menambahkan bahwa dokumentasi budaya digital pada akhirnya tidak hanya perlu memberikan manfaat akademik, tetapi juga menghadirkan dampak bagi masyarakat. Pengemasan unsur budaya secara menarik dan bertanggung jawab dapat mendukung pendidikan, promosi kebudayaan, penguatan identitas lokal, hingga membuka peluang pemberdayaan masyarakat di wilayah asal kebudayaan tersebut.


Pada tahun kedua, cakupan BCP juga akan diperluas melalui pengembangan tema arsitektur Nusantara. Tim akan menambahkan subkultur Bojonegoro dengan fokus awal pada dokumentasi rumah tradisional tipe Srotong.

 Dokumentasi tersebut direncanakan mencakup pengumpulan data lapangan, kajian arsitektur, foto, video, deskripsi budaya, dan pengembangan model tiga dimensi.

Penambahan dokumentasi arsitektur menandai perluasan BCP dari data bahasa dan seni pertunjukan ke dokumentasi ruang serta bangunan tradisional. Model 3D diharapkan dapat membantu pengguna melihat struktur bangunan secara lebih terperinci, termasuk bagian-bagian arsitektur yang sulit dipahami jika hanya disajikan melalui teks atau foto dua dimensi.

Selain menjadi forum berbagi pengetahuan, workshop ini juga menjadi ruang perumusan arah pengembangan BCP pada fase kedua. Diskusi difokuskan pada penyusunan kerangka konseptual korpus budaya digital, pengembangan alur kerja akuisisi dan verifikasi data, penambangan data, anotasi linguistik, pengelolaan metadata, serta integrasi sumber daya multimedia ke dalam satu platform.
Metadata menjadi salah satu komponen penting karena memberikan informasi mengenai identitas, asal, waktu, pencipta, pemilik, konteks, dan hak penggunaan sebuah data budaya. Sementara itu, anotasi linguistik diperlukan untuk membantu pengguna menelusuri kata, bentuk bahasa, makna, kategori, dan hubungan antardata secara lebih sistematis. Kedua aspek tersebut akan menentukan kemudahan pencarian sekaligus kredibilitas BCP sebagai sumber data penelitian.

Tim BCP menargetkan sejumlah luaran strategis dari workshop ini, antara lain kerangka konseptual korpus budaya multimodal, blueprint pengembangan platform BCP, standar dokumentasi multimedia dan objek budaya tiga dimensi, rekomendasi pengembangan fitur pencarian korpus, serta rencana aksi implementasi untuk periode 2026–2027.
Dalam jangka panjang, BCP diharapkan dapat berkembang menjadi ruang temu antara pengetahuan akademik, teknologi, dan kebutuhan masyarakat. Platform tersebut dapat dimanfaatkan untuk penelitian linguistik dan budaya, pengembangan materi pembelajaran, dokumentasi warisan budaya, penyusunan kebijakan berbasis data, serta diseminasi kebudayaan Indonesia kepada audiens yang lebih luas.

“BCP tidak hanya berfungsi sebagai repositori budaya, tetapi diarahkan menjadi infrastruktur data yang mendukung penelitian linguistik dan pelestarian budaya Jawa Timur. Dengan prosedur dan standar yang semakin baik, kami berharap platform ini berkembang menjadi rujukan pada tingkat nasional maupun internasional,” kata Wahyu.
Melalui penguatan fondasi pada tahun kedua, FIB UB menempatkan Brawijaya Corpora Project sebagai salah satu program strategis untuk mewujudkan Digital Humanities secara nyata. Integrasi kajian humaniora, linguistik korpus, dokumentasi multimedia, dan teknologi digital diharapkan dapat memastikan bahwa kekayaan budaya Jawa Timur tidak hanya tersimpan sebagai arsip, tetapi terus dipelajari, dikembangkan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Ke depan, Brawijaya Corpora Project diharapkan berkembang menjadi salah satu rujukan pengembangan korpus budaya multimodal di Indonesia. Dengan mengintegrasikan kajian humaniora, linguistik korpus, dan teknologi digital, BCP diharapkan mampu memperkuat dokumentasi, pelestarian, serta diseminasi warisan budaya Jawa Timur kepada masyarakat yang lebih luas,” pungkas Wahyu. (*)

Editor : A. Nugroho
budaya universitas brawijaya FIBAA UB malang