MALANG KOTA, RADAR MALANG - Sudah puluhan tahun Prof Dr Ir Hj Ririen Prihandarini MS memiliki konsentrasi penelitian terkait mikroorganisme. Karena dedikasinya yang sudah berlangsung selama puluhan tahun itu, Ririen akhirnya dikukuhkan sebagai Guru Besar Mikrobiologi Pertanian Universitas Widya Gama, 22 Juli.
Dalam orasi ilmiahnya, Ririen mengangkat tema besar Revolusi Bioindustri sebagai Strategi Transformasi Pertanian Menuju Sistem Produksi yang Produktif, Ramah Lingkungan, dan Berkelanjutan. Tema itu dipilih dengan salah satu dasarnya, Indonesia dinilai membutuhkan perubahan paradigma pembangunan pertanian.
Revolusi bioindustri memanfaatkan mikroorganisme, bioteknologi, biomassa, dan prinsip ekonomi sirkular untuk menghasilkan pangan, pupuk, energi, hingga produk bernilai tambah tanpa merusak lingkungan. Pendekatan tersebut bisa menjadi jawaban atas tantangan ketahanan pangan, degradasi lahan, perubahan iklim, dan meningkatnya kebutuhan pangan nasional.
Ririen menjabarkan, mikroorganisme menjadi ”mesin biologis” yang mampu meningkatkan produktivitas tanaman penyediaan unsur hara, produksi hormon pertumbuhan, pengendalian penyakit tanaman, sekaligus memulihkan lahan yang mengalami degradasi melalui bioremediasi. Pemanfaatan biofertilizer, biodekomposer, dan agen hayati diyakini mampu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk serta pestisida kimia, sekaligus menjaga kesehatan tanah dalam jangka panjang.
Di tengah tantangan pertanian nasional, Ririen menawarkan arah baru melalui pengembangan teknologi mikroorganisme terintegrasi yang memadukan biofertilizer, biopestisida, biostimulan, biodekomposer, hingga pertanian presisi berbasis kecerdasan buatan.
”Visi besar saya adalah membangun pertanian Indonesia berbasis mikrobioma yang mampu memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan,” tegasnya.
Tidak hanya menghasilkan publikasi ilmiah, hasil penelitian Ririen juga sudah dihilirisasi menjadi produk industri. Bahkan menembus pasar ekspor. Produk tersebut diberi merek Biotama.
Tak lupa Ririen berpesan agar generasi muda tidak memandang mikrobiologi pertanian sebagai ilmu yang sempit.
”Sebab kini pemanfaatan mikroorganisme terus berkembang. Di luar sektor pertanian, mikroorganisme bisa dimanfaatkan untuk pangan hingga pengobatan,” pungkasnya. (mel/gp)
Editor : A. Nugroho