Lestarikan Adat Jawa, Sediakan Pendidikan Inklusi
Pendidikan yang diterapkan MI Raden Bagus tergolong langka. Sambil menggenjot kualitas akademik, tetap mempertahankan budaya Jawa dan Islami. Juga mewadahi kaum difabel.
BERDIRI sejak 2018, MI Raden Bagus sudah menjunjung nilai-nilai dalam adat Jawa. MI yang terletak di Desa Talok, Kecamatan Turen itu juga menghadirkan pendidikan inklusi bagi penyandang disabilitas.
”Visi dan misi sekolah kami adalah mencetak siswa berbudi pekerti luhur, berprestasi dan berskill lingkungan,” ujar kepala MI Raden Bagus, Mochammad Imron ditemui kemarin (28/7).
Berdasar visi misi tersebut, dia mengatakan, sekolahnya tidak hanya memburu kuantitas, tapi kualitas siswa. Caranya dengan memprioritaskan penanganan terhadap anak.
“Di zaman sekarang, banyak wali murid yang menganggap prestasi itu bonus, sing penting anaknya kopen (yang pentingnya anaknya terlayani),” katanya.
”Meskipun begitu kami tidak menyepelekan prestasi. Ada program khusus prestasi yang sesuai dengan berbagai macam kebutuhan dan tingkat kecerdasan anak,” tambahnya.
Oleh karena itu, dia melanjutkan, kecerdasan auditory, visual, dan kinesthetic terus diasah. Tidak lupa ketangguhan seorang anak juga ditempa. Apalagi di era sekarang, dia mengatakan, di mana bullying jamak terjadi di sekolah-sekolah.
Sedangkan terkait upaya menjunjung tinggi nilai Islami, dia mengatakan, MI Raden Bagus membiasakan siswanya menunaikan salat duha. Juga tadarus Al-Quran dan istighosah. Kegiatan yang menjunjung nilai Islami dinamai ‘Madrasahku, Pesantrenku’.
Di samping itu, nilai-nilai kebudayaan Jawa juga diajarkan dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu pengaruh dari pimpinan yayasan yang merupakan keturunan Keraton Solo.
“Intinya wong jowo ojo ilang jowone. Tentu dengan karakteristik anak yang beragam,” kata dia. ”Ketika ada kegiatan keraton Solo, hari itu kami pakai baju adat,” ucap Imron.
Dia mengatakan, pembelajaran bahasa dan tindak tanduk ala Keraton Solo membedakan MI Raden Bagus dengan sekolah lain.
”Di sekolah kami juga pendidikan inklusif,” terang Imron.
Dia mengatakan, murid-murid dengan disabilitas terdapat pembagian waktu antara pembelajaran khusus, dengan bergabung murid lainnya. Tujuannya agar murid itu bisa membiasakan diri di lingkungannya setelah lulus.
“Anak-anak itu makhluk sosial. Jangan sampai tidak bisa bersosialisasi dengan anak lain. Kami men-setting anak-anak yang inklusi itu ada jam tertentu diikutkan dalam kelas reguler,” terangnya. (biy/dan)