Medsign Dorong Akses Komunikasi yang Setara Bagi Pasien Tunarungu di Layanan Kesehatan Oleh: Tim MedSign Universitas Ma Chung

A. Nugroho • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 10:10 WIB
Tim MedSign Universitas Ma Chung saat melakukan pengembangan sistem pendeteksi Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO).
Tim MedSign Universitas Ma Chung saat melakukan pengembangan sistem pendeteksi Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO).

Pelayanan kesehatan yang setara tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan fasilitas dan tenaga medis, tetapi juga akses komunikasi yang dapat dipahami oleh setiap pasien. Bagi penyandang tunarungu, keterbatasan komunikasi masih menjadi salah satu tantangan dalam menyampaikan keluhan maupun memahami informasi yang diberikan tenaga medis.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa Universitas Ma Chung mengembangkan MedSign, sistem pendukung komunikasi melalui pendeteksian Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO) untuk membantu interaksi antara pasien tunarungu dan tenaga medis. Inovasi ini dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Karsa Cipta (PKM-KC) dengan mengangkat isu aksesibilitas komunikasi dalam pelayanan kesehatan.

Ketua tim MedSign, Glenn Emmanuel Abraham, menyampaikan bahwa akses komunikasi bagi pasien tunarungu di fasilitas kesehatan masih perlu diperkuat.

“Inklusifitas di fasilitas kesehatan untuk pasien tunarungu sampai saat ini masih sangat kurang, sehingga diharapkan dengan hadirnya MedSign dapat membantu mempermudah pasien tunarungu dan tenaga medis dalam berkomunikasi,” ujar Glenn.

MedSign dirancang untuk mengenali gerakan BISINDO melalui kamera. Sistem kemudian memproses gerakan tersebut menjadi informasi pendukung bagi tenaga medis dalam memahami pesan yang disampaikan pasien. Dalam pengembangannya, MedSign menggunakan pendekatan computer vision dan deep learning, termasuk pendeteksian landmark tangan untuk mengenali posisi dan pergerakan saat pengguna memperagakan bahasa isyarat.

Program pengembangan dilaksanakan di Universitas Ma Chung selama kurang lebih tiga bulan, mulai akhir Juni hingga awal September. Tim MedSign terdiri dari Glenn Emmanuel Abraham, Lorensa Amelia, Albert William Saputra, dan Albert Cheng, dengan bimbingan Dr. Kestrilia Rega Prillianti, S.Si., M.Si. serta dukungan dosen pakar Bita Parga Zen, S.Kom., M.Han.

Pelaksanaan program dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari perancangan sistem, pengolahan data bahasa isyarat, pengembangan kemampuan pendeteksian gerakan, hingga pengujian dan evaluasi. Setiap tahapan dilakukan secara bertahap agar sistem yang dikembangkan tidak hanya berfungsi secara teknis, tetapi juga dapat menyesuaikan dengan kebutuhan pengguna.

Pengembangan MedSign juga melibatkan pengguna secara langsung. Tim telah melakukan pengujian bersama salah satu penyandang tunarungu, Fathurahman Rijal, untuk memperoleh masukan mengenai kebutuhan dan pengalaman pengguna dalam berkomunikasi. Keterlibatan pengguna menjadi bagian penting untuk membantu tim memahami kondisi komunikasi secara lebih nyata.

Fathurahman berharap pengembangan MedSign dapat mendorong masyarakat untuk semakin memperhatikan akses komunikasi yang setara bagi penyandang tunarungu.

“Harapan kita untuk tim mahasiswa dari Universitas Ma Chung adalah mendorong seluruh masyarakat untuk mendukung akses yang setara di pelayanan kesehatan maupun pelayanan umum, agar memperkuat hak Tuli dan dihargai di tengah masyarakat dalam mewujudkan masyarakat yang lebih inklusif,” ungkap Fathurahman.

-
 
Proses pengujian MedSign bersama pengguna penyandang tunarungu.
Proses pengujian MedSign bersama pengguna penyandang tunarungu.

Saat ini, MedSign masih berada dalam tahap pengembangan dan penyempurnaan. Tim terus melakukan pengujian serta meningkatkan kemampuan sistem dalam mendeteksi berbagai gerakan BISINDO. Pengujian lebih lanjut direncanakan dilakukan di fasilitas kesehatan dengan melibatkan tenaga medis secara langsung untuk melihat penerapan sistem dalam situasi pelayanan kesehatan.

Melalui MedSign, mahasiswa Universitas Ma Chung berupaya menghadirkan inovasi yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan teknologi, tetapi juga menjawab kebutuhan masyarakat. Ke depan, MedSign diharapkan dapat menjadi salah satu langkah dalam mendorong pelayanan kesehatan yang lebih ramah, inklusif, dan setara bagi penyandang tunarungu, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya akses komunikasi bagi setiap individu.

Editor : A. Nugroho
Sumber : Radar Malang
BISINDO PKM-KC universitas ma chung pelayanan kesehatan