MALANG, RADAR MALANG — Persiapan masuk perguruan tinggi tidak harus menunggu ujian di depan mata. Sebagian siswa bahkan mulai mempersiapkannya sejak kelas 2 SMA, baik dengan meningkatkan nilai dan prestasi untuk membuka peluang SNBP maupun mengenal jalur SNBT lebih awal.
Kebutuhan belajar setiap siswa pun berbeda. Siswa kelas 3 mulai menghadapi TKA, SNBT, dan berbagai jalur seleksi, sedangkan siswa gap year perlu mengevaluasi persiapan sebelumnya sebelum kembali mengikuti seleksi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian BRITS Indonesia dengan menyediakan program bimbingan belajar berdasarkan jenjang dan target siswa, mulai kelas 2 SMA, kelas 3, program online, gap year, hingga program intensif.
Manajer Operasional BRITS Indonesia, Irsyadul Halim, mengatakan setiap jenjang memiliki kebutuhan persiapan yang berbeda.
“Untuk kelas 2 SMA, mereka masih punya waktu meningkatkan nilai rapor dan prestasi untuk mempersiapkan peluang SNBP. Di saat yang sama, mereka juga mulai mengenal SNBT lebih awal,” ujar Irsyadul.
Memasuki kelas 3, persiapan difokuskan pada TKA, SNBP, UTBK-SNBT, ujian mandiri hingga seleksi sekolah kedinasan. Sementara siswa gap year mendapat pendekatan berbeda dengan evaluasi dan matrikulasi materi dasar sebelum masuk ke latihan soal.
“Untuk gap year, kami ingin membantu melihat kekurangan dari persiapan sebelumnya. Jadi tidak langsung masuk ke soal, tetapi ada matrikulasi materi dasar terlebih dahulu,” jelasnya.
Program Online hingga Persiapan Kedokteran
BRITS juga menyediakan program online melalui pembelajaran langsung menggunakan Zoom bagi siswa kelas 12 maupun gap year. Program tersebut dilengkapi tryout, konsultasi personal dan kegiatan pendukung seperti Campus Talk.
Selain itu, BRITS dikenal dengan program persiapan masuk kedokteran. Namun, program tersebut juga terbuka bagi siswa yang menargetkan jurusan lain seperti teknik, ekonomi, psikologi dan hukum.
“Kedokteran memang menjadi salah satu unggulan kami. Namun, pilihan siswa sangat beragam dan BRITS bisa mengakomodasi semuanya,” kata Irsyadul.
BRITS juga menyediakan persiapan sekolah kedinasan sesuai tahapan seleksi, termasuk tes tertulis dan pembinaan kesamaptaan.
Program Intensif dan Pendampingan Nonakademik. Bagi siswa yang membutuhkan intensitas belajar lebih tinggi, tersedia program Superintensif dan Supercamp. Perbedaannya antara lain pada fasilitas, jumlah siswa dalam kelas dan intensitas pembelajaran.
Menurut Irsyadul, proses persiapan juga tidak hanya berisi materi dan latihan soal. Siswa mendapat kegiatan pendukung seperti konsultasi dengan siswa dan orang tua, seminar, outbound, olahraga, kegiatan kerohanian hingga farewell party.
“Kami tidak ingin siswa hanya datang, belajar, lalu mengerjakan soal. Konsistensi juga penting karena persiapan masuk perguruan tinggi membutuhkan proses yang panjang,” ujarnya.
Ia menyebut konsistensi menjadi salah satu tantangan yang kerap dihadapi siswa. Karena itu, proses belajar perlu dilakukan bertahap dengan memahami materi dasar, mengetahui kekurangan, berlatih secara terarah dan melakukan evaluasi berkala.
Pendampingan tersebut turut didukung rekam jejak alumni BRITS yang melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi dan program studi, termasuk kedokteran.
“Pada akhirnya, kami ingin mengantarkan siswa supaya bisa mencapai kampus dan program studi yang mereka impikan,” kata Irsyadul.
Dengan beragam program, BRITS Indonesia berupaya menyesuaikan pendampingan dengan kebutuhan siswa, baik yang mulai mempersiapkan diri sejak kelas 2, kelas 3, mengikuti program online maupun memilih gap year. (aw)
Editor : A. Nugroho