MALANG, RADAR MALANG – Tim Pengabdian kepada masyarakat Fakultas Sains, Teknologi dan Matematika, Universitas Brawijaya 2026 melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan judul Pengembangan Poliherbal Javisa melalui Integrasi Pelatihan Pengolahan Pascapanen dan Quality Product Berbasis Masyarakat Desa Ngroto di Desa Ngroto, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengembangkan produk herbal berbasis tanaman obat keluarga (TOGA) melalui penguatan keterampilan pengolahan hasil panen menjadi produk bernilai tambah serta budidaya tanaman herbal yang berkelanjutan. Rangkaian kegiatan meliputi pelatihan pengolahan pascapanen menjadi produk herbal Djatea yang dilaksanakan di Balai Desa Ngroto, serta pelatihan budidaya jahe merah dan stevia yang dilaksanakan di area demplot Desa Ngroto.
Kegiatan diikuti oleh sekitar 30 peserta yang terdiri atas anggota Kelompok Asman Toga dan ibu-ibu PKK Desa Ngroto. Acara diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara, kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai bentuk penghormatan sekaligus pembuka rangkaian kegiatan.
Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua Asman TOGA Desa Ngroto, Kiki Iswenti Anggraeni Prayogi. Dalam sambutannya, beliau mengajak seluruh peserta untuk mengikuti setiap materi dengan baik agar ilmu yang diperoleh dapat diterapkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Beliau juga mendorong setiap lingkungan di Desa Ngroto untuk membudidayakan tanaman obat keluarga (TOGA). Selain itu, bagi masyarakat yang memiliki usaha mikro di bidang jamu, beliau menyarankan penggunaan stevia sebagai alternatif pengganti gula untuk menghasilkan produk herbal yang lebih sehat.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Dr Yuyun Ika Christina, M.Si., selaku anggota pengabdian masyarakat yang mewakili ketua pengmas Prof Dr Ir Moch. Sasmito Djati, M.S., IPU., ASEAN Eng. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan harapan agar Desa Ngroto dapat berkembang menjadi desa wisata jamu dan harapan tersebut dapat segera terwujud.
Memasuki sesi inti, Prof Dr Teti Estiasih, S.TP., M.P., menyampaikan materi mengenai potensi tanaman rempah sebagai bahan baku produk herbal bernilai tambah. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan manfaat berbagai rempah bagi kesehatan serta pentingnya penanganan pascapanen yang tepat, mulai dari pemilihan bahan baku, pengolahan simplisia, hingga teknik pemanenan yang sesuai agar mutu dan kandungan senyawa aktif tanaman tetap terjaga.
Penyampaian materi berlangsung secara interaktif dengan antusiasme peserta yang aktif berdiskusi dan mengajukan pertanyaan kepada narasumber. Untuk meningkatkan partisipasi, sesi tanya jawab diselingi dengan pembagian doorprize bagi peserta yang mengajukan maupun berhasil menjawab pertanyaan.
Selanjutnya, sebagian peserta mengikuti pelatihan budidaya jahe merah dan stevia di lahan demplot yang dipandu oleh Adi Setiawan, S.P., M.P., Ph.D. Peserta memperoleh penjelasan mengenai teknik penanaman yang benar, pemeliharaan tanaman, serta waktu panen yang optimal. Tidak hanya menerima materi, peserta juga mempraktikkan secara langsung penanaman jahe merah dan stevia di lahan demplot dengan penuh antusiasme.
Setelah pelatihan budidaya di demplot, peserta kembali ke Balai Desa Ngroto untuk mengikuti demonstrasi pembuatan Djatea. Peserta terlibat aktif mempraktikkan setiap tahapan pengolahan, mulai dari penyiapan bahan baku, sortasi, pencucian, pengeringan, hingga pengemasan produk.
Kegiatan berlangsung secara interaktif dengan antusiasme peserta yang tinggi dalam mencoba setiap proses, sehingga tidak hanya memperkaya wawasan mengenai pengolahan pascapanen, tetapi juga membekali peserta dengan keterampilan dasar untuk menghasilkan produk herbal yang berkualitas dan bernilai tambah.
Menjelang akhir kegiatan, salah satu peserta menyampaikan kesan dan pesan mewakili seluruh peserta.
Dalam penyampaiannya, peserta mengungkapkan bahwa materi dan demonstrasi pembuatan simplisia maupun Djatea telah disampaikan dengan baik sehingga mudah dipahami dan diikuti. Meski demikian, peserta juga menyampaikan bahwa proses penghalusan bahan masih menjadi tantangan karena memerlukan peralatan yang lebih memadai dibandingkan dengan jika dilakukan secara manual menggunakan pisau.
Melalui kegiatan ini, masyarakat Desa Ngroto diharapkan semakin paham pentingnya pengolahan pascapanen dan pemanfaatan tanaman herbal sebagai upaya untuk meningkatkan nilai tambah produk lokal sekaligus mendukung pola hidup sehat.
Program ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) nomor 3, yaitu/Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being) melalui pemberdayaan masyarakat dalam mengembangkan produk herbal yang berkualitas serta mendorong pemanfaatan tanaman obat sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan secara berkelanjutan. (*)
Editor : A. Nugroho