RADAR MALANG – Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Negeri Malang (UM) mengembangkan WHISH (Whitening Hybrid Innovative Sheet for Hygienic Shoes), tisu perawatan sepatu putih berbahan ampas tebu dan ekstrak kulit lemon. Produk ini memanfaatkan limbah organik sebagai bahan baku bernilai ekonomi sekaligus mengusung konsep ekonomi sirkular.
WHISH dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa Bidang Kewirausahaan (PKM-K) pada 17 Februari hingga 30 April 2026. Ampas tebu digunakan sebagai bahan dasar tisu biodegradable atau mudah terurai, sedangkan ekstrak kulit lemon dimanfaatkan sebagai bahan aktif untuk membantu membersihkan debu dan noda ringan.
Tim juga menggunakan ekstrak lidah buaya sebagai bahan biosurfaktan alami untuk membantu melepaskan kotoran dari permukaan sepatu. Produk ini dirancang sebagai perawatan harian yang praktis untuk menjaga kebersihan sepatu putih tanpa harus selalu mencucinya menggunakan air.
Ketua tim, Sekar Wahyu Ningtyas dari Program Studi S-1 Pendidikan Bisnis, mengatakan WHISH dikembangkan untuk meningkatkan nilai guna limbah organik melalui inovasi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat.
“Melalui WHISH, kami ingin menunjukkan bahwa limbah organik bukanlah akhir dari sebuah proses, tetapi dapat menjadi awal lahirnya produk baru yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Tim WHISH terdiri atas Sekar Wahyu Ningtyas, Ervina Mei Ananda Putri, dan Kharisma Putri Ambarwati dari Program Studi S-1 Pendidikan Bisnis, Adrian Arif Pambudi dari Program Studi S-1 Biologi, serta Salwa Avisa Yumna Salsabila Suprapto dari Program Studi S-1 Pendidikan Kimia. Kolaborasi lintas disiplin ini menggabungkan aspek kewirausahaan, biologi, dan kimia dalam pengembangan produk.
WHISH dirancang untuk sepatu berbahan synthetic leather, PU leather, dan PVC leather, serta bagian tengah sol (*midsole*) berbahan EVA, PU, dan TPU. Penggunaannya tetap perlu disesuaikan dengan petunjuk pemakaian dan karakteristik material sepatu.
Untuk mendukung pemasaran, tim menerapkan strategi digital, promosi langsung, serta penjajakan kemitraan dengan toko dan jasa pencucian sepatu. WHISH dijual dalam kemasan berisi delapan saset, dengan masing-masing saset memuat dua lembar tisu basah. Harga per boks ditetapkan Rp30 ribu.
Pengembangan WHISH diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan limbah organik sekaligus membuka peluang usaha bagi mahasiswa. Inovasi ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) ke-12 tentang konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab serta SDGs ke-9 tentang industri, inovasi, dan infrastruktur.
Editor : Andika Satria Perdana