Santri Harus Kuasai Teknologi, Tetap Pegang Tradisi

Andika Satria Perdana • Dipublikasikan Jumat, 23 Oktober 2026 | 10:14 WIB
Wakil Rektor III Universitas Islam Malang (Unisma) Dr. H. Muhammad Yunus, S.Pd., M.Pd memberikan sambutan pada peringatan Hari Santri Nasional
Wakil Rektor III Universitas Islam Malang (Unisma) Dr. H. Muhammad Yunus, S.Pd., M.Pd memberikan sambutan pada peringatan Hari Santri Nasional

MALANG KOTA, RADAR MALANG –Tantangan santri pada era digital tak cukup dijawab dengan mempertahankan tradisi keilmuan pesantren. Penguasaan teknologi, peningkatan kompetensi, dan penguatan akhlak juga menjadi bekal penting agar santri mampu mengambil peran dalam pembangunan bangsa menuju Indonesia Emas 2045.

 

Wakil Rektor III Universitas Islam Malang (Unisma) Dr. H. Muhammad Yunus, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa semangat perjuangan santri yang diwariskan melalui Resolusi Jihad harus terus dihidupkan dengan menyesuaikan kebutuhan zaman. Jika dahulu santri dan ulama berjuang mempertahankan kemerdekaan, kini perjuangan itu dapat diwujudkan melalui pendidikan dan pengabdian kepada masyarakat.

 

Yunus menjelaskan, Hari Santri Nasional menjadi momentum untuk merefleksikan tiga hal, yakni perjuangan masa lalu, tanggung jawab pada masa kini, serta persiapan menghadapi masa depan.

 

Momentum masa lalu adalah mengingatkan kembali perjuangan para santri, para ulama, para kiai, dan para syuhada yang mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia melalui Resolusi Jihad tanggal 22 Oktober,” ujarnya.

 

Resolusi Jihad yang dicetuskan pada 22 Oktober 1945 menjadi bagian penting dalam sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Seruan tersebut menggerakkan umat Islam untuk melawan kembalinya kekuatan kolonial dan menjaga kedaulatan negara.

 

Menurut Yunus, nilai perjuangan itu perlu diterjemahkan sesuai tantangan masa kini. Santri dan generasi muda memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kapasitas diri, menekuni bidang masing-masing, serta berkontribusi melalui pendidikan dan pekerjaan yang dijalani.

 

Momentum masa kini tentu kita isi dengan belajar secara giat dan melakukan tanggung jawab masing-masing. Sebagai rektor, dosen, karyawan, maupun sivitas akademika, kita harus bertanggung jawab penuh terhadap Tri Dharma Perguruan Tinggi,” katanya.

 

Dia menambahkan, pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual. Penguatan iman, ketakwaan, dan akhlak juga diperlukan agar kemajuan ilmu pengetahuan berjalan seiring dengan tanggung jawab moral.

 

Peringatan Hari Santri Nasional di Unisma
Peringatan Hari Santri Nasional di Unisma

Pandangan tersebut selaras dengan tema Hari Santri Nasional 2026 dari Kementerian Agama, yakni *Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas*, serta tema Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), *Menguatkan Akar Tradisi Menjaga Keutuhan Negeri*.

 

Yunus menilai, kedua tema tersebut menegaskan pentingnya menjaga identitas pesantren sekaligus membuka diri terhadap perkembangan zaman. Santri harus mampu mempertahankan tradisi keilmuan tanpa tertinggal dalam penguasaan teknologi dan keterampilan modern.

 

Santri harus adaptif terhadap setiap perubahan yang ada. Akar tradisinya kuat, tetapi cabangnya juga sangat luas,” tuturnya.

 

Salah satu bentuk adaptasi tersebut adalah pemanfaatan platform digital untuk menyebarkan pengetahuan dan menjalankan dakwah. Teknologi, menurut Yunus, dapat menjadi sarana memperluas jangkauan syiar Islam selama tetap dilandasi pemahaman agama yang kuat.

 

Santri di era digital adalah santri yang pemahaman keagamaannya tetap kuat, tetapi dakwahnya juga dilakukan melalui berbagai platform digital,” imbuhnya.

 

Di lingkungan perguruan tinggi, Unisma berupaya memperkuat pendidikan santri melalui berbagai program beasiswa dan pembinaan pesantren. Salah satunya Beasiswa Juara yang memberikan kesempatan bagi santri untuk melanjutkan pendidikan tinggi melalui jalur kompetisi.

 

Unisma juga menyediakan beasiswa santri untuk Fakultas Kedokteran melalui skema Kementerian Agama. Sementara itu, pembinaan keagamaan diperkuat melalui Pesantren Kampus Ainul Yaqin yang menjaga tradisi pesantren di lingkungan perguruan tinggi.

 

Yunus menjelaskan, seluruh mahasiswa baru Fakultas Kedokteran diwajibkan mengikuti pendidikan pondok selama satu tahun. Adapun mahasiswa yang mengikuti pembinaan di Pesantren Kampus Ainul Yaqin diseleksi berdasarkan tiga konsentrasi, yakni *I'dad*, Tahfidzul Quran, dan Kader Ulama.

 

Dia memperkirakan sekitar 50 persen mahasiswa Unisma melanjutkan pendidikan atau pembinaan di pesantren, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus. Mahasiswa yang tidak tinggal di pesantren selama masa perkuliahan pun banyak yang memiliki latar belakang pendidikan pondok.

 

Rata-rata mahasiswa kami adalah alumni pesantren-pesantren yang ada,” ungkapnya.

 

Lebih lanjut, Yunus menilai penguatan pendidikan santri menjadi bagian penting dalam mempersiapkan Indonesia menghadapi bonus demografi pada 2045. Besarnya jumlah penduduk usia produktif perlu diimbangi dengan kualitas sumber daya manusia yang kompeten, terampil, dan memiliki karakter kuat.

 

Menurut dia, pendidikan yang memadukan penguasaan ilmu pengetahuan dengan nilai keislaman dapat menjadi salah satu bekal untuk menjawab tantangan tersebut. Dengan demikian, bonus demografi tidak hanya ditandai oleh besarnya jumlah penduduk usia produktif, tetapi juga kualitas kontribusi mereka bagi bangsa.

 

“Harapannya, pada 2045 kita mendapatkan bonus demografi yang ditandai dengan kecakapan, keterampilan, kompetensi yang bagus, dan akhlakul karimah,” pungkasnya. 

Editor : Andika Satria Perdana
hari santri UNISMA Teknologi