Perjalanan Berliku Menuju Reuni, Berbuah Kompor dan Mesin Cuci

Kholid Amrullah • Dipublikasikan Selasa, 3 November 2026 | 15:27 WIB
BERUNTUNG: Erlin menunjukkan hadiah mesin cuci dan kompor gas dari undian acara Reuni Akbar UIN Malang, Minggu (1/11)
BERUNTUNG: Erlin menunjukkan hadiah mesin cuci dan kompor gas dari undian acara Reuni Akbar UIN Malang, Minggu (1/11)

 

BATU – Di balik gegap gempita acara Reuni Akbar dan pelantikan Pengurus Keluarga Maluana Malik Ibrahim (KAMALIKA) UIN Malang 2026, Minggu, 1 November lalu, ada cerita unik yang bikin bibir tersenyum-senyum sambil kepala manggut-manggut. Cerita ini datang dari salah seorang peserta reuni bernama Erlin Nur Hidayati, angkatan 1996 dari Jurusan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah STAIN Malang, asal Tuban.

 

Emak-emak yang lugu ini sejak awal sudah sangat ingin ikut reuni. Keinginannya itu dia sampaikan di grup angkatan 1996. Awalnya, dia ingin naik kereta api. Namun, karena jadwal keberangkatannya terlalu pagi, sementara dia masih harus mengajar di sekolah, rencana itu pun dibatalkan. Dia kemudian beralih menggunakan bus umum.

 

BERSEMANGAT: Erlin (kanan) bersama dua temannya mengikuti jalan sehat dengan penuh semangat.
BERSEMANGAT: Erlin (kanan) bersama dua temannya mengikuti jalan sehat dengan penuh semangat.

 

Sepulang mengajar sekitar pukul 09.00, dia menunggu bus jurusan Jombang di Jalan Raya Pakah, Plumpang, Tuban. Namun, hingga pukul 11.00, sama sekali tidak ada bus menuju Jombang. “Adanya bus-bus besar yang ke Surabaya,” kata Erlin.

 

Akhirnya, dia dan suaminya, M. Abdul Aziz, memutuskan pulang untuk mencari sopir yang bersedia mengemudikan mobil pribadinya. Sebab, sang suami tidak berani menyetir mobil di kota-kota besar. Setelah mendapatkan sopir, mereka pun berangkat sekitar pukul 12.00.

 

Perjalanan dari Tuban hingga memasuki Ngantang, Kabupaten Malang, berlangsung lancar. Tetapi, begitu sampai di Pujon, drama perjalanan dimulai. Penyebabnya, entah karena sopir salah membaca Google Maps atau memang Google Maps-nya yang salah, Erlin tidak tahu. “Pokoknya, oleh Google Maps diarahkan untuk belok kanan di jalan yang agak kecil,” jelasnya.

 

Nah, ketika sopir belok kanan, ternyata mereka diarahkan melewati jalan-jalan kecil, bahkan keluar masuk hutan. Semua yang ada di dalam mobil pun sempat panic, karena beberapa kali melewati jalan sempit di pinggir jurang, naik turun, dan sepi. Apalagi, hari semakin sore, tetapi mereka belum juga menemukan jalan besar.

 

Meski panik, semua sepakat untuk tetap mengikuti arahan Google Maps. Hingga akhirnya, mereka menemukan jalan besar yang pernah dilewati sebelumnya. “Lho, kok lewat sini lagi? Itu kan yang tadi dilewati,” katanya mengenang pengalaman tersesat tersebut.

 

Setelah menemukan jalan besar, mobil pun melaju menuju Kota Batu dan diarahkan ke Kampus 3 UIN Malang. Rombongan baru sampai di gedung Islamic Tutorial Center (ITC) pukul 18.15. “Saya datang pertama kali, masih sepi,” ujar guru MTsN 2 Tuban ini.

 

Malam harinya, beberapa teman menyusul datang untuk menginap di ITC. Sebab, malam itu teman-teman seangkatannya memang mengadakan acara doa bersama, nyanyi-nyanyi, serta makan-makan. Semua rangkaian acara malam itu berjalan lancar hingga pukul 24.00.

 

Pagi harinya, Erlin bersemangat mengikuti rangkaian acara reuni. Dimulai dengan jalan sehat, senam, dan bagi-bagi doorprize. “Jadi, pas teman-teman makan-makan di bawah, saya menunggu undian jalan sehat. Alhamdulillah, dapat kompor gas,” ungkapnya diiringi wajah semringah.

 

Begitu juga ketika ada undian khusus untuk alumni, Erlin setia menunggu. Alasannya siapa tahu namanya dipanggil. Namun, hingga hadiah-hadiah kecil sudah habis dibagikan, namanya belum juga dipanggil.

 

Lalu, panitia meminta data nama dan angkatan kepada para alumni yang masih tersisa di depan panggung. Selanjutnya, nama-nama tersebut diundi menggunakan aplikasi. “Lha, kok muncul namaku pas mengundi untuk hadiah mesin cuci. Alhamdulillah, dapat hadiah lagi,” ujar ibu satu anak ini.

 

Erlin mengaku sangat senang mendapatkan dua hadiah tersebut. Apalagi, mesin cuci di rumahnya memang sudah rusak. “Kalau dipakai, airnya yang bawah mengalir terus. Jadi, harus terus diisi kalau pas nyuci,” ungkap dia.

 

Dia juga sangat bersyukur, ditakdirkan bisa berangkat ke reuni menggunakan mobil pribadinya. “Sebab, kalau misalnya jadi naik kereta api atau bus dan mendapatkan hadiah, malah akan repot membawanya pulang,” celetuk Erlin.

 

Sementara itu, saat ditanya soal kesannya mengikuti acara Reuni Akbar UIN Malang tahun ini, Erlin mengaku sangat senang dan bergembira. Senang karena bisa bertemu teman-teman semasa kuliah dan senang melihat kampus yang megah. “Apalagi, pulang reuni dapat hadiah,” pungkasnya diiringa tawa renyahnya. (lid)

Editor : Kholid Amrullah
UIN Maliki Malang UINMA UIN Maliki reuni akbar UIN Malang