Nasional Malang Hari Ini Kriminal-Kasuistika Olahraga Wisata-Kuliner Sosok Pendidikan Ekonomi-Bisnis Opini Politik-Pemerintahan

Kamus Malangan: Ndomble

Fathoni Prakarsa Nanda • Minggu, 18 Mei 2025 - 17:41 WIB
Ilustrasi Lingua Franca, kamus malangan
Ilustrasi Lingua Franca, kamus malangan

KALAU di Bahasa Indonesia ada istilah dower, orang Malang lebih familiar dengan istilah ndomble.

Diksi itu menggambarkan kondisi bibir bawah seseorang yang cenderung tebal dan menggantung.

Lebih sering menjadi istilah bernuansa ejekan, sindiran, atau bahkan kelakar yang sudah sangat populer diucapkan sekitar dua dekade setelah zaman kemerdekaan.

Karena maknanya yang cenderung body shaming, kata ndomble jarang diucapkan secara langsung kepada sang pemilik bibir dower.

Kebanyakan hanya digunakan untuk ngrasani.

Atau jadi bahan pantun bahasa Jawa yang jenaka dan bikin orang tertawa.

Misalnya, onde-onde dirubung laler, areke ndomble lek turu ngiler.

Dalam sejumlah kamus Bahasa Jawa juga ada kata domble yang memiliki arti tebal menggantung.

Biasanya kata tersebut digabungkan dengan kata lambe (bibir).

Sehingga bila disatukan menjadi kalimat berbunyi lambe domble.

Peneliti bahasa asal Universitas Negeri Malang (UM) Nurenzia Sidharta menyebut ada perbedaan pengucapan kata tersebut dari beberapa kelompok masyarakat.

Kadang terdengar lugas domble, ada yang menyebut ndomble, ada pula yang diberi akhiran ”h” sehingga menjadi ndombleh.

Dalam beberapa konteks percakapan, kata ndomble juga sering dilontarkan untuk menggambarkan kondisi bibir yang berubah tiba-tiba karena kondisi tertentu.

”Misalnya setelah memakan makanan yang sangat pedas. Bibir terasa lebih tebal, menganga dan tidak bisa menutup, serta air liur yang menetes,” imbuh dia. (biy/fat)

Editor : Aditya Novrian
#ndomble #bahasa #kamus malangan #bahasa jawa #lingua #malangan