Dikenang sebagai Sosok Teladan
KABUPATEN - Empat jenazah perwira TNI-AU korban pesawat jatuh di Desa Keduwung, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan, dimakamkan kemarin (17/11). Tiga di antaranya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Suropati Malang, sedangkan satu jenazah lain di TMP Madiun. Suasana haru dan isak tangis mewarnai prosesi pemakaman tersebut. Terlebih, para perwira yang gugur itu dikenal sebagai sosok yang baik memiliki prestasi cemerlang.
Sebelum dimakamkan, keempat jenazah disemayamkan di Hanggar Skadron Udara 21 Lanud Abdulrachman Saleh pada pukul 06.00. Para keluarga berada di belakang peti jenazah. Beberapa kerabat berdatangan dari luar kota, seperti Makassar dan Cibinong. Saat mendekati peti jenazah, mereka tak kuasa menahan haru. Menangis, berpelukan, sambil menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan.
Sekitar pukul 09.12, Wakil Kepala Staf Angkatan Udara (Wakasau) Marsdya TNI Agustinus Gustaf Brugman tiba bersama istri. Dia memimpin pelaksanaan upacara pelepasan empat jenazah. Agustinus juga tak kuasa menahan tangis saat menemui awak media setelah pelaksanaan upacara. ”Doakan adik-adik saya ya,” ucapnya lirih.
Setelah persiapan pemberangkatan selesai, tiga jenazah dimasukkan ke dalam ambulans. Sedangkan satu jenazah lain dimasukkan ke pesawat Hercules untuk diterbangkan ke Madiun.
Kadispen AU Marskal Pertama TNI R. Agung Sasongkojati menjelaskan, tiga jenazah yang dimakamkan di TMP Suropati Malang adalah Kolonel Pnb Subhan, Kolonel Adm Widiono Hadiwijaya, Letnan Kolonel Pnb Sandhra Gunawan. Sedangkan Mayor Pnb Yuda Anggara dimakamkan di Madiun. ”Ini sesuai dengan permintaan keluarga,” terangnya.
Agung melanjutkan, selain dilepas secara militer, keempat jenazah mendapat kenaikan pangkat luar biasa. Pangkat tersebut setingkat lebih tinggi dari sebelumnya. ”Untuk Kolonel Subhan dan Kolonel Widiono menjadi marsma TNI. Letnan Kolonel Sandhra menjadi kolonel, dan Mayor Seta menjadi Kolonel Seta,” ungkapnya.
Sementara itu, tiga jenazah tiba di TMP Suropati Malang pada pukul 10.45. Prosesi memakamkan dilaksanakan secara militer. Isak tangis kembali pecah tatkala peti-peti jenazah dimasukkan ke liang lahat. Tampak istri almarhum Kolonel Widiono mencium topi peninggalan suaminya sambil berusaha menahan air mata.
Kakak sepupu Almarhum Letkol Sandhra Gunawan, Gustri Ramadan, mengungkapkan bahwa saudaranya itu merupakan sosok yang perlu dicontoh oleh saudara-saudara maupun anggota keluarga lainnya. Meniti karier sejak SMA, Sandhra lantas masuk ke akademi militer. Setelah lulus, Sandhra bertugas di Madiun sebagai pilot pesawat Hercules. ”Kebetulan saya juga yang membantu melatih dia,” ceritanya.
Sandhra memutuskan masuk ke akademi militer karena ingin mengikuti jejak keluarga besar dan mbah buyut yang merupakan pejuang. ”Kalau yang lain memilih jalur TNI-AD dan AL. Dia satu-satunya yang TNI AU. Kalau ditanya alasannya, pokoknya ingin mengabdikan diri sebagai TNI,” ucapnya.
Gustri menambahkan, terakhir kali pihak keluarga menjalin komunikasi dengan Sandhra pada 6 Oktober 2023 pada acara pertemuan keluarga besar di Cibinong. ”Yang saya ingat, dia bilang kepada saudara-saudara, kalau ingin jadi TNI harus giat berlatih dan belajar. Baik psikologi maupun jasmani,” sebutnya.
Pihak keluarga juga sangat bangga dengan pencapaian Sandhra. Selain selalu bersemangat, semasa hidup dia juga dikenal murah senyum dan tidak pernah marah. ”Kalau ketemu dari jauh, senyumnya selalu muncul,” kenang Gustri.
Cari Flight Data Recorder
Sementara itu, TNI-AU masih terus berusaha menyelidiki penyebab jatuhnya dua pesawat EMB-314 Super Tucano di Desa Keduwung pada Kamis lalu (16/11). Menurut Kadispen AU Marskal Pertama TNI R. Agung Sasongkojati, tim TNI AU sudah tiba sejak kemarin pagi di lokasi kejadian. Namun pihaknya belum mendapat kabar apakah tim itu sudah menemukan Flight Data Recorder (FDR).
”Ada kendala sinyal dengan tim di lokasi kejadian. Apalagi lokasi jatuhnya pesawat kedua letaknya cukup jauh. Saya berharap bisa ditembus dengan helikopter. Itu pun bisa dipengaruhi kondisi cuaca,” terang dia.
Agung juga belum bisa memastikan kapan hasil investigasi itu akan dikeluarkan. Prosesnya cukup panjang. Tim harus memotret, mengambil data, merekam, dan mengukur. ”Setelah ada hasilnya, baru bisa disidangkan. Jadi mungkin tidak dalam waktu dekat. Tapi kami berharap bisa segera ada kesimpulan sementara," imbuhnya.
Terkait dengan gugurnya empat perwira, Agung juga menyatakan rasa
kehilangan yang mendalam. Salah satunya terhadap almarhum Kolonel Subhan. "Belum lama ini dia ikut mengantar bantuan untuk warga Palestina di Gaza. Beberapa tahun lalu, dia juga pernah menjadi siswa saya. Dia pintar dan cemerlang," tegasnya. (mel/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana