Sebelumnya Pernah Dua Kali Coba Akhiri Hidup
Berita berikut ini tidak ditujukan untuk menginspirasi siapa pun untuk melakukan tindakan serupa. Bila Anda merasakan gejala depresi dengan kecenderungan berupa pemikiran untuk bunuh diri, segera konsultasikan persoalan Anda ke pihak-pihak yang dapat membantu, seperti psikolog, psikiater, ataupun klinik kesehatan mental.
MALANG KOTA – Ujian akhir semester (UAS) di Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) Universitas Brawijaya, kemarin (14/12) sempat terjeda.
Itu terjadi lantaran ada perempuan yang tergeletak di lantai empat gedung tersebut dalam kondisi luka parah dan tak bernyawa.
Beberapa saksi mata mengatakan bahwa perempuan tersebut menjatuhkan diri dari lantai 12.
Awalnya, identitas perempuan itu tidak ada yang mengetahui.
Setelah melalui beberapa penelusuran, korban diyakini bukan mahasiswa Filkom UB.
Hasil penelusuran wajah pada pangkalan data Dikti mengarahkan identitas korban pada mantan mahasiswi berinisial LST.
Dia menjadi mahasiswa baru pada 2018.
Bukan di Filkom, melainkan program studi matematika.
Tapi statusnya sudah mengundurkan diri.
Korban yang berusia 24 tahun itu juga terdata berdomisili di Desa Kepuharjo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.
Tubuh LST ditemukan dalam kondisi telentang di balkon lantai empat Gedung Filkom sekitar pukul 10.30.
Hasil pemeriksaan polisi juga menunjukkan ada bekas luka di pergelangan tangan kiri.
Salah seorang mahasiswa semester tiga Prodi Teknik Komputer Filkom UB mengaku mendengar suara gedebuk sekitar pukul 10.00.
Tapi suara itu tidak diiringi teriakan.
”Saya tidak terlalu menghiraukan suara itu. Semua mahasiswa juga sedang mengerjakan UAS,” ungkapnya.
Sekitar pukul 10.30, seorang mahasiswa yang batu saja menyelesaikan ujian keluar dari ruangan dan mendapati perempuan terkapar di balkon lantai empat.
Bagian kepalanya tampak berdarah.
Kemungkinan karena menghantam lantai balon dengan sangat keras.
”Yang menemukan perempuan itu teman saya. Awalnya dia saya minta cari tempat duduk untuk nongkrong. Tapi malah melihat perempuan tergeletak,” imbuhnya.
LST diperkirakan sengaja bunuh diri dengan meloncat dari lantai 12.
Setelah itu tubuhnya menghantam lantai 4 yang posisinya menjorok dan lebih lebar dari lantai di atasnya.
Polisi yang datang langsung melakukan oleh TKP.
Setelah itu, tim medis mengevakuasi jenazah pada pukul 13.13 untuk dibawa ke Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA).
Selama proses evakuasi, pelaksanaan UAS sesi ketiga kemarin sore akhirnya ditunda.
Akses lift naik untuk mahasiswa juga ditutup sementara.
Begitu juga akses tangga menuju lantai 4 yang dijaga ketat oleh petugas.
Sejumlah mahasiswa menceritakan, lantai 12 sebelumnya merupakan hall pertemuan dan ruang multimedia.
Namun di dalamnya terdapat sarana olahraga seperti bulu tangkis dan tenis meja.
Jendela di lantai 12 itu menggunakan model geser dan tertutup gorden.
Tapi tidak mempunyai pembatas besi atau teralis.
Dulu akses menuju lantai itu bisa dibilang terbatas.
Khusus untuk dosen dan mahasiswa S2.
Tapi sekarang mahasiswa S1 juga bisa naik untuk melihat-lihat.
Untuk menuju lantai itu harus menggunakan lift hingga ke lantai 11.
Kemudian dilanjutkan dengan menggunakan tangga.
Dekan Filkom UB Prof Wayan Firdaus Mahmudy SSi MT PhD mengatakan, pihaknya sudah melakukan pengecekan di sistem akademik.
Meski hasilnya belum 100 persen, dia yakin bahwa korban bukan mahasiswa Filkom UB.
”Yang bersangkutan diduga eks mahasiswi fakultas lain yang sudah mengundurkan diri lima tahun lalu. Baru kuliah satu semeter lalu keluar,” ungkapnya.
Wayan belum mau memberikan informasi detail karena menunggu pihak kepolisian.
Bukti yang ada juga sudah diserahkan ke polisi.
Yakni berupa rekaman CCTV tentang orang yang diduga korban sedang keluar melalui lift.
Keterangan dari petugas kebersihan juga masih di dalam polisi.
”Untuk petugas kebersihan ada di setiap lantai. Kalau security di lantai satu,” imbuhnya.
Titip Mukena untuk Ibu
Sekitar pukul 16.00, keluarga LST yang diwakili sang bibi, Listyani, dan tetangganya, Amar, mendatangi Instalasi Kedokteran Forensik dan Medikolegal RSSA.
Pada saat yang sama, ibu kandung korban masih menemui polisi.
Menurut Listyani, LST memang pernah kuliah di UB selama tiga semester.
Namun dia tidak mengetahui pasti jurusannya.
Kemudian LST memutuskan untuk berhenti kuliah karena ingin membantu sang ibu.
Padahal, sebenarnya LST tergolong cerdas.
Setelah berhenti berkuliah, selain mencoba membantu sang ibu, LST juga kerap menghabiskan waktu di rumah.
”Dia anaknya pendiam. Tidak pernah aneh-aneh dan tidak banyak teman,” katanya.
Di luar itu, LST juga pernah mengalami depresi.
Bahkan pernah mencoba mengakhiri hidup sebanyak dua kali.
Yang pertama melukai diri dengan benda tajam.
Kedua, dia sempat meminum cairan pembersih, namun masih bisa diselamatkan.
”Seluruhnya dilakukan dalam kurun waktu satu tahun terakhir," ungkap Listyani.
Sebelum mengakhiri hidup di Filkom UB, Listyani menyebut sikap LST lebih manja kepada ibunya.
Kebetulan di rumah tempat korban tinggal hanya ada LST, adik, dan ibunya.
Sementara ayahnya sudah meninggal 1.000 hari lalu.
”Empat hari lalu dia juga sempat titip mukena ke saya. Waktu saya tanya ada apa, dia bilang ingin mukena itu digunakan ibunya,” cerita Listyani.
Kamis pagi, LST pamit berangkat kerja.
Dia bekerja di perusahaan milik salah satu kerabatnya.
Namun entah mengapa dia malah pergi ke kampus UB.
Saat ditemukan, Lidya membawa tas berisi kacamata, uang senilai Rp 24 ribu, dan ponsel.
"Uang itu saya yang beri dua hari lalu," kata Listyani lirih. (mel/pri/fat)
Editor : Yudistira Satya Wira Wicaksana